Kapan Nambah Anak ? Kapan ?

“Kapan Mahira dikasih adik?”

Sebuah pertanyaan yang mungkin simpel. Sering diajukan entah untuk berbasa basi atau mungkin sudah menjadi kebiasaan karena sering kali pertanyaan “kapan” dengan berbagai tambahan kegiatan lain diajukan, mulai dari kapan lulus? – kapan nikah ? – kapan punya anak? – kapan nambah anak? -kapan anaknya sekolah ? kapan nikahin anak ? dan kapan kapan lainnya. Pertanyaan yang tak berujung. Untungnya sih pertanyaan kapan kamu meninggal jarang diajukan ya.

Sudah terlalu banyak yang curhat kalau pertanyaan kapan-kapan ini terlalu menganggu. Saya pernah ada di posisi menjadi seorang penanya juga sebenarnya, walau kalau pembelaan diri dan perasaan saya sih, gak terlalu sering. Tapi rasanya pada akhirnya saya mulai mencoba mengerem diri sendiri, ya kalau masih khilaf, mungkin artinya saya lagi pengen bercanda atau saya lagi di momen ga bisa ngatur emosi karena kesel. Mohon ditegur jika saya salah.

Kadang memang ada alasan bertanya ketika bertanya, itu wajar. Misalnya, kapan nikah?. Ini bisa ditanya kalau teman memang terlihat punya rencana nikah, dia rencana nikahnya jauh dari tempat kita tinggal, kita ‘merasa’ bakal diundang, dan yang jelas kita punya rencana juga untuk datang. Tapi kalau bertanya kapan nikah? hanya untuk basa-basi bahkan mengejek rasanya, hmmm, please mind your own business deh.

geralt / Pixabay

Pertanyaan kapan ngasih adik serupa dengan kapan nambah anak lagi? Kalau lagi kondisi normal, kadang saya bisa jawab dengan “amin, semoga nanti dikasih tapi ga sekarang.” Tapi kalau kondisi lagi semrawut kayak kabel headset bundet di dalam tas, kadang saya bales, ya kamu aja ngasih adik buat anak-anakmu. Terus dijawab, udah cukup. Lah, terus? Kenapa nanya-nanya? Kesel sendiri kan ya.

Ada batasan-batasan yang harus kita hormatin juga, ini juga catatan buat saya sendiri, contoh di grup yang isinya ibu-ibu, kadang ada yang share kalau dia punya rencana nambah anak ketika anak umurnya 3 tahun. Ya udah, jangan ditanyain terus kapan ngasih adik, jangan didoain hamil saat anaknya baru umur 1 tahun, ntar kalau kejadian ternyata dia merasa ga sanggup, stress, gimana? Emang situ mau bantu ngurus anaknya? Gak kan.

sathyatripodi / Pixabay

Urusan ‘nambah anak’ ini kan sebenarnya bisa dibilang urusan domestik alias urusan rumah tangga masing-masing. Dalam proses menentukan akan menambah anak, setiap keluarga punya pertimbangan sendiri-sendiri. Menurut saya malah lebih mending bertanya tentang pertimbangan seseorang dalam mengatur jarak anak dibanding nanya kapan? Buat saya pribadi, saya malah senang bisa memahami pandangan orang lain, sekaligus (lagi-lagi) belajar untuk lebih banyak mendengar dan tidak menjudge. Bisa jadi hal-hal yang dipikirkan orang lain lewat dari pertimbangan kita.

Untuk saya dan bojo, sebenarnya belum menetapkan kapan ingin menambah anak, mungkin karena ini juga, saya kesel kalau ditanya kapan nambah anak. Satu patokan yang sudah pasti adalah, nunggu Mahira lulus ASI 2 tahun dulu. Tapi beberapa hal berikut ini bisa jadi pertimbangan untuk waktu menambah anak.

  • Kesiapan & Kondisi Orang Tua
    Dalam mengasuh anak, akan banyak kejadian yang gak semulus kulit anak ketika masih bayi. Contohnya nih, waktu abis lahiran, ternyata ibu ngalamin baby blues bahkan  stress. Atau ibu masih trauma takut anaknya pas makan akan susah alias Gerakan Tutup Mulut Melulu (GTM+M). Setiap orang punya level stress beda-beda sih. Kalau saya sendiri ngerasanya saya harus bisa menerima atau paling engga tau cara untuk ngadepin berbagai hal yang mungkin timbul saat mengasuh anak.Kesiapan sebenarnya gak hanya urusan psikologis. Fisik (selain terkait usia juga) juga perlu siap. Ada referensi mengatakan akan lebih baik memberi jarak 2 tahun jika persalinan pertama adalah C-sectio (biasa dikenal juga dengan cesar). Tapi ya kalau emang siap dan kata dokter oke sebelum 2 tahun, ya gapapa.

    StockSnap / Pixabay

    Untuk wanita sendiri, yang mengandung dan melahirkan anak, terdapat usia yang memiliki risiko lebih tinggi saat hamil. Referensi yang sering saya temui adalah batas usia yang lebih rendah risikonya adalah di bawah usia 35 tahun. Selain usia lebih tua kehamilan lebih berisiko, pertimbangan usia wanita sebagai ibu yang mengasuh juga memiliki keterkaitan dengan kekuatan fisik saat mulai mengasuh anak. Jujur saja, bagi saya, mengurus anak itu butuh fisik, hati, dan pikiran yang kuat. Semakin tua, biasanya fisik tidak makin sip, makanya, saya sih inginnya ‘tutup pabrik’ di usia 30 tahun, atau kalau kepepet 35 tahun.

    Usia pria sebagai bapak juga menjadi pertimbangan. Untuk pria, pertimbangan usia erat kaitannya dengan fisik serta kemampuan untuk memberikan ‘jaminan’ dana. Misalnya gini, kalau pria adalah seorang pekerja dengan usia pensiun 56 tanpa ada tambahan dana lain-lain, mungkin akan lebih baik kalau saat ia pensiun anak-anaknya udah lulus sekolah (termasuk kuliah).

  • Kemampuan Orang Tua Mengatur Finansial
    Punya anak menurut saya, artinya punya tanggung jawab ke anak tersebut. Memberi jaminan kesehatan, dana sekolah, dan aneka dana-dana lainnya. Sudah mampu mengatur keuangan dengan lebih banyak berinvestasi atau paling tidak punya tabungan untuk dana-dana tersebut ga? Atau masih boros juga?

    FirmBee / Pixabay

    Memang sih, tiap anak punya rejeki sendiri-sendiri, bahkan ada yang bilang banyak anak banyak rejeki. Bisa aja, anak dari kecil dapat beasiswa sampai kuliah. Tapi, misalnya anak kuliah di luar negeri, butuh jaminan ini itu, atau kita mau dateng ke wisuda dia, kan baiknya juga orang tua mampu mengatur finansialnya juga, jangan bergantung sama anak.

  • Kesiapan & Kondisi Anak
    Memiliki anak dengan jarak usia yang dekat tentu ada plus minusnya. Saat anak lebih besar nanti, mungkin akan lebih dekat. Tapi pada saat anak masih kecil, perlu effort untuk memberi pengertian kepada anak tentang berbagi, tentang perhatian orang tua tak lagi untuk dia.

    https://pixabay.com/id/anak-anak-taman-musim-gugur-1879907/

    Ngarep sepasang kece badai gini boleh kan ya – source : pixabay.com

    Saya sendiri merasa, menjelang usia 2 tahun, Mahira mulai mengenal konsep adik bayi (atau anak yang usianya lebih muda), bisa tersenyum melihat anak yang lebih muda, ikut terlibat saat saya menggoda anak yang lebih kecil, dan tak berusaha menghentikan saya adalah sebuah pertanda yang cukup oke bahwa dia tau konsep tentang berbagi.

    Hal ini penting menurut saya, jangan sampai ketika anak butuh digendong, anak satunya malah ga rela, nangis, eh kitanya ikutan stress. Ya, paling tidak meminimalisir kejadian menurut saya.

    Oh ya, ada mitos sebenarnya, kalau anak mulai nungging-nungging artinya dia pengen punya adek. Entah mitos dari mana mulanya. Tapi rasanya, bakal aneh kalau mengukur kesiapan anak dari urusan nungging doang. Bisa jadi dia nyontoh kita sujud tapi malah nungging kan.

  • Kesiapan & Kondisi Lingkungan
    Sebagai ibu yang nyambi kerja nih, saya cukup tergantung sama kehadiran pengasuh. Pengasuh dari awal bilang, tunggu anaknya gede dulu. Ya bener juga, selain ada hubungannya sama kondisi anak, kalau misal pengasuh udah tua, dikasih tanggung jawab ngurus 2 krucil, ya itu namanya tega banget ngasih beban ke orang lain. Lain cerita kalau mau mempekerjakan masing-masing 1 pengasuh untuk 1 anak ya. Tapi tentu akan punya efek ke urusan finansial.

Sebenarnya sih, semua faktor satu sama lain berkaitan. Tapi sebenarnya intinya satu dan menurut saya tergantung banget sama kesiapan si orang tua. Misalnya nih, ada rencana membuat jarak antar anak 3 tahun, karena ngerasa usia 3 tahun itu anak yang lebih tua udah lebih mengerti, bisa dimasukin ke day care atau sekolah. Tapi, tentu ada efeknya ke finansial, udah siap belum dana untuk day care atau kalau ga masuk day care, udah siap belum nambah pengasuh, karena akan riweuh kalau cuma 1. Jangka panjangnya urusan finansial, udah siap belum kalau nanti pas anak tua masuk SMA, anak yang lebih kecil masuk SMP. Secara finansial bisa dobel kan. Memang, rejeki dari Tuhan. Tapi kalau kita (orang tua) ga bisa mengelola dengan baik rejeki yang didapat, ya bubar juga kan.

Family – source : pixabay

Buat saya sendiri, jujur, ketika dikasih rejeki anak pertama saya sempet kaget sama perubahan yang saya alami. Sempat ngerasa ga siap. Gak sampai baby blues kayaknya. Tapi ada pusaran stress yang ketahan dan berefek ke perilaku saya lainnya (bukan ke anak). Untungnya saya sempat ketemu seorang psikolog dan dapat pesan kalau saya harus deal with it. Harus bisa nerima semua perubahan yang ada. Dari pelajaran itu, saya ngerasa, urusan punya anak, bikin adik, memang harus ikhlas dan siap dulu, fisik, psikologi, bahkan finansial. Gak harus sempurna bener, tapi paling tidak, punya pemikiran jangka panjang tentang tanggung jawab kita kepada anak nantinya. Karena anak bukan hanya rejeki, tapi juga titipan yang harus kita jaga.

Semua pasangan (atau keluarga) punya pertimbangan sendiri-sendiri, jadi alangkah baiknya kita tidak memburu dengan pertanyaan “Kapan nambah anak?” lalu bertanya kenapa atas jawaban yang tak sesuai dengan kita harapkan lalu menjudge ini dan itu. Jangan sampai pertanyaan balik ke kita dan kita kesal sendiri deh.  Tapi, kalau ngedoain saya dikasih rejeki anak tetep boleh kok, di waktu yang tepat 😀

Belajar Tentang Kesepakatan di Kelas Keluarga Kita – Disiplin Positif 3

Kira-kira sebulan yang lalu, saya mengikuti lanjutan kelas Keluarga Kita dengan tema Disiplin Positif 3 : Panduan Kesepakatan Orang Tua & Anak. Sebelumnya saya mengikuti kelas dengan tema Disiplin Positif 2 : Menumbuhkan Disiplin Positif Diri Anak. Rasanya nanggung, udah ikutan satu kelas terus berhenti gitu aja.

Baca juga : Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik

Kelas Keluarga Kita, menurut saya sendiri, menjadi suatu wadah di mana kita bisa sharing tentang hambatan apa yang kita temui dalam keluarga, tentunya sesuai dengan tema yang dibahas. Kelas ini juga bisa menjadi pendalaman materi dari hasil membaca buku Keluarga Kita – Mencintai Dengan Lebih Baik karya Ibu Najeela Shihab. Sebenarnya penjelasan di buku maupun di kelas mirip, karena saat di kelas, materi juga disampaikan Ibu Najeela Shihab melalui video, lalu Tim Rangkul (Relawan Keluarga Kita) akan menjadi fasilitator ketika para peserta berbagi tentang pengalaman atau hambatan yang dialami saat penerapan hal yang sedang dibahas.

Setelah pada materi sebelumnya, saya belajar tentang konsekuensi, hadiah, pujian, dan kritik. Kali ini saya belajar tentang Restitusi dan Kesepakatan.

Restitusi

Diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), restitusi memiliki pengertian ganti kerugian, pembayaran kembali.

Terus gimana kalau dalam keluarga? Kalau salah kita harus ganti rugi? Apa yang harus kita bayar?

Sering kali kita menemukan bahkan mungkin mengalami sendiri, ketika melakukan kesalahan, kita disuruh sesegera mungkin untuk meminta maaf. Padahal, bisa saja kita merasa tidak bersalah. Terkadang, terdapat paradigma yang salah, bahwa meminta maaf saja cukup, masalah selesai. Lalu, kesalahan berulang. Padahal, tentu tidak baik kalau seperti itu.

 

Belajar dari kesalahan, jangan jadi keledai yang terperosok berkali-kali ke lubang yang sama. Rasanya hal itu sudah berkali-kali kita dengar, tapi bagi saya sendiri yaaaa kadang masih sama aja. Itulah pentingnya restitusi dalam disiplin positif bagi diri.

Restitusi adalah proses untuk memperbaiki kesalahan, sehingga bisa menjadi pelajaran. Restitusi perlu dicontohkan dan dilatih dengan konsisten agar bisa menjadi kebiasaan. Proses belajar untuk memperbaiki kesalahan dapat dilakukan melalui tahapan berikut :

  • Melakukan Upaya Rehabilitasi
    Upaya rehabilitasi atau pemulihan kondisi ke keadaan semula, sangat disarankan untuk dilakukan setelah melakukan rehabilitasi. Ya memang, kadang tak selalu rehabilitasi sukses, misalnya gelas yang sudah pecah akan susah kalau disusun kembali. Tapi, paling tidak upaya untuk mengganti/memperbaiki benda/situasi telah dilakukan.Contoh lainnya mungkin yang saat ini sering terjadi di usia Mahira (18 bulan) adalah kebiasaan ia yang suka memukul tiba-tiba, biasanya korban (saya, ayahnya, atau pengasuh) akan terlihat kesakitan. Mungkin karena kebiasaan saat ia jatuh atau kesakitan, kita meniup-niup yang sakit. Sebuah upaya yang dilakukan Mahira adalah meniup tubuh korbannya agar tak merasa sakit.
  • Membuat Resolusi
    Resolusi adalah tuntutan akan suatu hal atau bisa juga perjanjian akan hal yang ingin dilakukan. Setelah menyadari kesalahan dan memperbaiki keadaan, anak bisa diajarkan untuk membuat perjanjian dan rencana untuk mencegah kesalahan terulang kembali.Nah, urusan resolusi ini, untuk anak seumuran Mahira memang masih agak susah sih penerapannya. Misalnya daripada memukul, lebih baik menowel atau menunjuk ibu, ayah atau pengasuh dengan baik.
  • Menyatakan Maaf dengan Sukarela
    Proses meminta maaf akan lebih baik dengan sukarela sesuai dengan pesan Ibu Najeela Shihab, “Disiplin diri anak dimulai dari hubungan yang kuat dan rasa percaya yang dalam. Tanpa modal ini, yang terjadi adalah kontrol, bukan pemberdayaan ; pemaksaan, bukan pengembangan potensi”. Proses meminta maaf dengan sukarela dapat dilakukan setelah ia menyadari kesalahan, melakukan upaya rehabilitasi, dan membuat resolusi.Yang saya sendiri rasakan, terkadang tergesa-gesa meminta maaf itu juga kurang baik. Secara emosi, kita belum siap. Rehabilitasi dan resolusi bisa menjadi momen untuk kita menenangkan diri, termasuk “korban” kesalahan kita menenangkan diri juga. Jadi, sebuah pekerjaan rumah juga untuk saya sebagai orang tua, jika nanti anak berbuat kesalahan, jangan langsung kita turun tangan meminta maaf karena kalau begitu anak juga ga belajar.

***

Kesepakatan Bersama

Kesepakatan bersama memiliki pengertian sebagai hal-hal yang disepakati untuk dipatuhi secara bersama-sama. Mungkin bisa dibilang peratutan dalam keluarga, tapi harus lebih jelas dan bisa jadi merupakan keinginan antar anggota keluarga yang disepakati secara bersama-sama sehingga penerapannya pun lebih konsisten.

 

Kesepakatan Bersama (sumber : Keluargakita.com)

Setiap anggota keluarga perlu memahami dan menyadari tujuan dibuatnya sebuah kesepakatan, sehingga semua dapat menjalaninya. Tak perlu langsung banyak membuat kesepakatan A to Z untuk menyelesaikan semua masalah, tapi paling tidak dapat mencegah masalah yang paling sering muncul berulang kali. Kesepakatan baiknya dibuat tertulis dan dipasang di ruang yang tampak oleh seluruh anggota keluarga dan secara berkala bisa ditinjau pelaksanaannya.

 

Untuk keluarga saya, kesepakatan bersama yang dibuat, baru satu dan terasa penting banget : Menjaga Kerapian dan Kebersihan.

Bojo termasuk orang yang selalu ingin melihat rumah rapi dan bersih. Sementara saya sendiri kadang suka meletakkan barang seenaknya. Konflik terjadi? Tentu.
Anak usia toddler sudah pasti gemar bermain dan membaca. Sayangnya, masih sering apa yang dia lakukan tak kembali ke tempat semula. Area main berantakan, area tidur apalagi. Apalagi urusan makan, berantakan? Jelas. Risih ? Pasti.
Dari hal tersebut, menjaga kerapihan dan kebersihan menjadi kesepakatan bersama yang utama.

Sebuah pe-er juga buat saya, meletakkan barang tak sembarangan apalagi gadget, buku, dan minuman. Sekaligus melatih disiplin untuk anak juga, meletakkan barang yang sudah dimainkan kembali ke tempat semula.

 


Menumbuhkan disiplin positif dalam keluarga menurut saya pribadi, merupakan sebuah hal yang penting. Cukup susah sepertinya untuk dijalani, apalagi urusan konsistensi. Tapi, kalau ga dimulai sekarang, kapan lagi? Toh untuk membentuk keluarga yang lebih baik juga kan.

Memilih Camilan Sehat Untuk Anak

Menjadi ibu, bukanlah suatu perkara yang mudah. Selain perasaan bahagia yang sudah pasti mendatangi kita setiap harinya, ada juga perasaan khawatir, deg-degan, bahkan bingung. Awal menjadi ibu, selama 6 bulan diliputi rasa khawatir saat memberikan asupan Air Susu Ibu (ASI). Setelah 6 bulan, anak dianjurkan untuk memperoleh tambahan asupan melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Pola makan anak pun mulai diatur. Ketika 6 bulan pertama asupan hanya berupa ASI, saat belajar makan, anak disarankan untuk mengenal jadwal makan utama mulai dari sarapan, snack pagi, makan siang, snack sore, dan makan malam. Menu empat bintang yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur, menjadi rujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Anjuran lain adalah memperhatikan jumlah gula dan garam yang diberikan untuk anak.

 

Kedua anjuran tersebut menjadi panduan saya untuk memberikan makanan yang bergizi untuk anak baik makan utama atua makan selingan (camilan). Memilih camilan pun perlu yang sehat dan bergizi. Berikut ini beberapa pilihan camilan yang sering saya berikan untuk anak :

Buah-Buahan

Momentmal / Pixabay

Buah-buahan sangat dianjurkan untuk menjadi makanan selingan anak diantara makan beratnya. Selain mengandung vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh anak, buah-buahan juga membantu anak untuk merasakan rasa manis yang alami. Beberapa buah tertentu seperti pepaya, pisang, dan buah naga, bahkan bermanfaat untuk melancarkan pencernaan anak. Buah-buahan bisa diberikan langsung dalam bentuk potongan, dihaluskan (bentuk puree), atau dijus. Kalau saya sendiri diselang seling. Ketika usia 6-8 bulan, buah-buahan yang dijus saya berikan dalam tommee tippee botol susu bayi yang terbuat dari bahan Polypropylene dan bebas dari bahan berbahaya seperti Bisphenol A (BPA) sehingga aman untuk bayi. Selain itu desain botolnya juga mudah dipegang.

Sayur-sayuran

WerbeHoch / Pixabay

Sayuran yang direbus juga dapat menjadi pilihan camilan untuk anak. Sama halnya seperti buah, sayuran juga mengandung vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh serta melancarkan pencernaan karena mengandung serat. Pilihan yang sering saya berikan antara lain brokoli, timun, wortel, ubi, jagung, kentang, atau labu.

 

Puding, Jelly, atau Agar-Agar

WerbeFabrik / Pixabay

Tekstur kenyal dari puding, jelly, atau agar-agar biasanya menarik untuk anak. Apalagi jika dibuat dengan warna-warna yang mencolok. Selain mengandung serat, puding juga menjadi salah satu cara anak mengenal tekstur yang tidak keras. Biasanya saya memotong puding dengan ukuran kecil agar lebih mudah dipegang dan tak membuat anak tersedak saat memakannya.

Biskuit Bayi

 

Pezibear / Pixabay

Biskuit bisa juga menjadi pilihan camilan nikmat dan sehat untuk anak. Biskuit bisa membantu anak dalam mulai berada dalam proses tumbuh gigi. Dalam memilih biskuit, tentu perlu memerhatikan bahan yang terkandung di dalamnya. Salah satu yang menjadi favorit anak saya adalah biskuit bayi yummy bites. Biskuit bayi Yummy Bites ini terdiri dari berbagai rasa seperti original, wortel, pisang hingga sayuran. Selain mengandung vitamin A, K,E dan protein, Yummy Bites juga mudah larut di mulut. Bahkan saya sendiri suka.

 

 

Yogurt

 

NeuPaddy / Pixabay

Minuman yang berasal dari fermentasi susu ini memang memiliki rasa yang sedikit asam. Tapi bisa menyehatkan anak karena merupakan sumber kalsium yang baik. Kalau saya sendiri, lebih memilih yogurt yang teksturnya agak kental dan memiliki rasa buah sehingga ada rasa manis selain dominasi rasa asam.

 

 

 

Smoothies

 

silviarita / Pixabay

Merupakan minuman campuran susu, yogurt, dan buah-buahan. Mengandung kalsium dan vitamin. Jika merasa pemberian asupan untuk anak dalam bentuk cair terlalu sering, saya biasanyanya membekukan smoothies sehingga menjadi popsicle ice cream smoothies.

 

 

Sereal

Sereal juga dapat menjadi sumber serat yang baik untuk menjaga pencernaan anak karena umumnya berasal dari biji-bijian seperti gandum atau barley. Memilih sereal juga perlu cermat karena terkadang banyak sereal yang mengandung gula yang tinggi. Pemberian sereal pun dapat divariasikan dengan potongan buah atau susu.

 


Selain memilih camilan yang sehat dan bergizi, waktu pemberian camilan juga harus diperhatikan. Camilan diberikan sebagai makanan selingan diantara jadwal makanan utama. Sehingga jangan terlalu dekat dengan jadwal makan utama karena biasanya akan ditolak karena anak masih kenyang. Oh iya, memiliki jadwal pemberian makanan selingan sedari awal juga baik, karena ketika sekolah nanti biasanya juga anak akan memiliki jadwal untuk snack, sehingga lambung anak sudah terbiasa sedari kecil untuk menerima makanan di waktu tertentu.

Beragam Cara Ibu Ungkapkan Cinta Kepada Anak

Sebagai orang tua, rasanya kita ingin untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai bentuk ungkapan rasa cinta untuk anak. Begitu pula saya dan Bojo (suami). Salah satu komitmen kami berdua adalah memberikan perlindungan terbaik dengan melakukan imunisasi. Imunisasi juga sebagai ikhtiar untuk dijauhkan dari musibah penyakit yang mungkin saja bisa menyerang anak.

Infografis KLB Difteri di Indonesia – Sumber : Liputan6.com

Beberapa minggu terakhir, ramai di berita tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) tentang Wabah Penyakit Difteri. Saya pun sedikit khawatir. Tepat di usia 18 bulan ini, Mahira dijadwalkan untuk imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) yang keempat. Kami pun pergi ke RS Hermina Palembang untuk melakukan imunisasi.

"Keluhannya apa Bu?" tanya suster di ruang jaga.
"Mau imunisasi DPT 4 sus," jawab saya. 
"Tapi yang ga demam lagi kosong Bu. Adanya yang demam saja"

Saya tahu memang efek imunisasi DPT bisa terjadi demam ringan dan ada merek vaksin yang bisa mengatasi efek demam tersebut. Untuk imunisasi DPT sebelumnya kami selalu memilih yang tidak menyebabkan demam karena memang stoknya tersedia. Bojo terlihat diam dan ragu. Akhirnya, saya coba memutuskan.

"Oh, ya sudah sus, gapapa," kata saya.

Kami pun duduk sambil menunggu giliran untuk masuk ke ruang dokter. Saya mengerti kekhawatiran Bojo yang tak ingin anaknya merasakan sakit atau demam. Sembari menunggu, saya coba meyakinkan Bojo kalau lebih baik imunisasi sekarang daripada ditunda-tunda. Tepat pada saat itu, televisi di ruang tunggu menampilkan acara berita yang membahas tentang KLB Difteri. Saya pun mengatakan bahwa tak apa kalau memang Mahira nantinya demam, di rumah sudah sedia obat penurun panas. Lagipula selama ini Mahira jarang demam setelah imunisasi dan kalaupun demam hanya sebentar saja.

Ilustrasi Pemberian Vaksin – Sumber : Pixabay

Akhirnya tiba giliran kami masuk ke ruang dokter. Dokter pun menyarankan imunisasi saja, karena memang sedang ada wabah Difteri dan lebih baik mencegah dari pada mengobati.

"Sedia obat penurun demam kan di rumah?" tanya Dokter Afifa.
"Ada Tempra Drops, dok. Boleh kan?" tanya saya.
"Boleh kok. Lagi pula anaknya sudah besar, semoga saja ga demam."

Selesai imunisasi kami segera pulang ke rumah. Mahira cukup rewel setelah imunisasi, mungkin efek nyeri pasca disuntik masih terasa. Menjelang tengah malam, suhu tubuh Mahira meninggi sampai 38 derajat celcius. Segera saja saya mengambil Tempra Drops yang memang selalu saya sediakan di rumah. Tempra Drops, menjadi pilihan saya sebagai antisipasi saat anak mengalami demam atau kondisi suhu tubuh di atas 37,8 derajat celcius.

Dengan rasa anggur, Tempra Drops cocok untuk diberikan kepada anak-anak karena memiliki rasa yang manis dan aman di lambung. Kandungan parasetamol sebagai penurun demam (anti piretika) juga efektif untuk menurunkan demam anak dengan dosis yang tepat. Tempra Syrup maupun Tempra Drops tak perlu dikocok terlebih dahulu sebelum diberikan, karena larut 100% dalam tubuh.

Sampai saat ini saya memberikan Tempra Drops kepada anak dengan menggunakan pipet yang tersedia dalam kotak kemasan karena memiliki ukuran yang jelas dan lebih mempermudah pemberian kepada anak. Suhu anak tak langsung menjadi normal, namun secara berkala turun sedikit demi sedikit. Tak lupa, pemberian cairan pendukung (air mineral dan susu /ASI) untuk anak tetap dilanjutkan karena biasanya saat demam anak banyak berkeringat dan perlu cairan lebih bagi tubuhnya sehingga dehidrasi juga dapat dihindari. Setelah minum Tempra Drops, Mahira pun tidur pulas dan ketika pagi hari suhu tubuhnya sudah menurun menuju normal walau masih sedikit rewel.  Di siang hari dia mulai aktif bermain dengan ceria.

 


Mencintai Bukan Berarti Terus Menerus Memanjakan

Itu adalah konsep yang coba saya pegang dalam mendidik dan mengekspresikan cinta saya kepada anak. Sebagai orang tua, kita boleh saja protektif dan melindungi anak dari ancaman atau rasa sakit. Tapi, sedikit ‘membiarkan’ anak merasakan jatuh atau sakit, juga bisa menjadi pembelajaran bagi anak serta orang tua. Lagi pula, dalam hidup tak selamanya berjalan mulus kan? Jadi, memanjakan dan menghindarkan anak dari rasa sakit, bukan suatu hal yang harus dilakukan terus menerus.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti kelas tentang Disiplin Positif Keluarga Kita dan juga membaca Buku Keluarga Kita. Beberapa bahasan antara lain adalah konsekuensi dan dukungan sebagai bentuk cinta tak bersyarat untuk anak. Saya juga mengenal konsep CINTA dalam Keluarga Kita yang salah satunya adalah Mencintai dengan Tidak Takut Salah. Saya pun setuju dengan konsep ini.

Baca juga : Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik

Saya juga mencoba memberikan pengertian ini kepada Bojo. Tak apa misalnya Mahira saat belajar berjalan ia mengalami jatuh karena itu menjadi momentum untuk ia belajar lebih hati-hati. Tak apa kalau misalnya Mahira merasa sakit atau demam saat imunisasi. Bukan berarti kita tidak sayang atau tidak cinta. Justru dengan sedikit kelonggaran kita bisa menyisipkan pelajaran hidup kepada anak.  Di sisi lain, saya belajar bahwa kehadiran sebagai orang tua penting, untuk mendampingi anak saat ia merasakan sakit, selain menyampaikan pelajaran hidup yang bisa diambil, juga bisa memberi energi positif untuk anak. Kehadiran bisa menjadi bentuk ungkapan cinta kepada anak.

Berbagai Ungkapan Cinta Untuk Anak

Ada yang mengatakan, bahwa ketika anak sakit, orang tua juga merasakan sakit. Namun, orang tua harus lebih kuat dari anaknya. Ketika imunisasi misalnya, kadang kita merasa tak tega melihat anak yang menjerit kesakitan saat disuntik. Tapi, itu harus dilakukan untuk kebaikan anak. Saya pun mengenggam erat tangan Mahira saat ia disuntik sebagai bentuk dukungan saya. Saya ingin memberikan energi positif berupa cinta dan keberanian yang saya salurkan melalui genggaman tangan. Setelah disuntik saya coba memberikan pesan positif bahwa Mahira belajar untuk berani dan disuntik memang sakit tapi tidak apa-apa karena baik untuk tubuh.

Dari buku yang saya baca, saya belajar bahwa dukungan bisa berupa pesan, kehadiran, permainan, atau pengalaman melakukan aktivitas bersama anak. Intinya dukungan adalah sesuatu yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran, cinta tak bersyarat, bahkan mampu menjadi motivasi internal bagi anak. Satu hal yang saya sadari dengan jelas, kehadiran orang tua untuk mendampingi anak di masa pertumbuhan dan perkembangannya sangatlah penting.

Pilihan sebagai ibu bekerja kadang dianggap sebagai pilihan yang salah oleh beberapa orang. Anggapan kalau ibu bekerja tidak sepenuhnya hadir untuk anak, pernah saya terima. Walau begitu, tak serta merta ibu yang bekerja di luar rumah tak sayang anak. Saya pun tetap berusaha hadir dan menemani anak dalam kehidupannya. Apa yang bisa dilakukan ibu untuk mengekspresikan rasa sayangnya ? Saya mencoba melakukan hal-hal seperti ini :

  • Menjaga Kesehatan dengan Nutrisi Yang Baik

    Salah satu bentuk rasa cinta yang dapat saya berikan adalah dengan memberikan nutrisi terbaik mulai dari menyiapkan bahan makanan. Saya akui tak setiap hari saya bisa masak untuk keluarga, namun paling tidak menyediakan bahan makanan yang sehat dan bergizi adalah awal untuk membentuk keluarga yang sehat. Tubuh yang sehat menjadi awal untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan ceria.

 

  • Ekspresi Melalui Sentuhan Fisik

    Pelukan, ciuman, atau gendongan bisa menjadi salah cara untuk menunjukkan rasa sayang dan sudah umum digunakan. Begitu pula yang saya lakukan terhadap Mahira. Menyusui secara langsung juga menjadi salah satu cara yang saya lakukan untuk menciptakan kedekatan fisik dengan anak. Kata banyak teman, pada saatnya nanti, anak bisa menolak pelukan dan ciuman saat ia besar. Jadi, saya harus memanfaatkan waktu ini selama ia masih mau menerima dan memberikan pelukan dan ciuman.

  • Melakukan Aktivitas Bersama

    Saya memilih masih tidur bersama Mahira untuk memberikan rasa aman dan nyaman saat anak tidur dengan sebelumnya membacakan buku terlebih dahulu. Di sore hari, jalan sore keliling komplek jadi aktivitas rutin sejak Mahira mulai bisa berjalan lancar, sekalian saya olah raga. Jika ada kegiatan di akhir pekan, saya pun selalu mengajak Mahira. Pernah juga saya membawa Mahira ke kantor untuk mengenalkan aktivitas saya padanya.

    Melakukan aktivitas bersama anak tak hanya aktivitas yang anak senangi saja seperti bermain, tetapi aktivitas sehari-hari (seperti membersihkan rumah, makan, beribadah, dan lainnya) dengan melibatkan anak juga menurut saya bisa menjadi ekspresi cinta kepada anak sekaligus cara untuk memberikan pelajaran akan nilai kehidupan serta mendekatkan anak kepada orang tuanya.

  • Membuat Permainan Khusus

    Dalam film Coco yang baru saja saya tonton, Ayah Hector menciptakan lagu khusus untuk putrinya (Coco) yang berjudul Remember Me. Mengekspresikan cinta kepada anak juga bisa diberikan melalui hal-hal khusus yang dibuat dengan sengaja untuk anak.

    Baca juga : DIY Monkey Bar Untuk Arena Bermain Anak di Rumah

    Kalau saya dan Bojo, baru bisa membuatkan permainan khusus dan saat membuatnya pun melibatkan Mahira. Setelah sukses membuat Monkey Bar saat ia belajar merambat, kami juga baru saja membuatkan Setrika dari kardus. Saat proses pembuatannya, Mahira pun boleh ikut serta seperti saat merangkai Monkey Bar dan saat membuat pola setrika kardus.

 

  • Kebaikan Doa yang Tak Terputus
     Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia - Azhar Nurun Ala, Tuhan Maha Romantis.

    Berdoa – Sumber : Pixabay.com

    Doa juga menjadi ekspresi cinta orang tua kepada anak yang paling mudah. Kita menyampaikan kebahagiaan atas kehadiran anak melalui ucapan syukur. Kita tentu selalu berharap yang terbaik untuk anak. Manusia boleh berencana, namun Tuhan yang menentukan. Apapun yang kita lakukan semua akan kembali lagi kepada Allah SWT. Maka dari itu, ijin dan ridha Allah menjadi utama. Harapan kita kepada anak pun dapat kita sampaikan kepada Allah SWT melalui doa dan ibadah yang kita lakukan. Doa yang selalu saya panjatkan adalah untuk diberikan kesehatan, yang tentunya diikuti beragam doa baik lainnya untuk anak.

 

 

Sebagai orang tua, tentu kita ingin memberikan dan mengharapkan yang terbaik bagi anak. Setiap orang tua memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan cintanya kepada anak. Melalui ungkapan cinta, yang saya lakukan, saya mencoba memberikan energi positif untuk anak. Harapannya energi positif dapat membawa dia ke fisik dan jiwa yang sehat pula. Semoga saja, kelak doa dan harapan terbaik untuk anak dapat terwujud dengan cinta yang diberikan oleh orang tua dan anak akan selalu dekat dengan orang tua.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra. #SelaluAdaCintadiHatiBunda  #Tempra

Bawa Anak Kecil Nonton Bioskop, Kenapa Engga ?

Setelah sekian lama puasa nonton di bioskop (terakhir nonton di tahun 2015, My Stupid Boss, sebelum punya anak), akhirnya balik nonton ke bioskop. Sensasi nonton di bioskop emang beda sih. Ga bisa dipindah channel lain macem pas lagi nonton HBO atau FoxMovies juga ga bisa di pause macem nonton dvd atau di aplikasi nonton online. Kenapa lama ga ke bioskop? Karena ada anak yang masih bayi, kasian kalo diajak karena sound bioskop rasanya keras banget buat bayi, kalo ditinggal ga tega dan kalau mau dititipin ga bisa juga .

Akhirnya ngeberaniin bawa anak ke bioskop ketika umur anak 1,5 tahun, karena kangen banget nonton. Trus ada film Coco yang direkomendasiin dan katanya bagus. Pas dilihat filmnya animasi dan buat semua umur jadi ngeberaniin anak dengan asumsi anak bakal suka. Baru berani bawa umur segini karena ngerasa telinganya lebih kuat nerima sound yang besar (anaknya juga kalo naik mobil suka ngerubah volume keras-keras dan joged girang).

Bawa anak ke bioskop tentu ada pertimbangan tersendiri dan perlu persiapan khusus. Apa aja yang harus dipikirin kalau mau bawa anak kecil nonton?

  • Jenis Film

    Jenis film yang mau ditonton jadi pertimbangan karena mikirnya kalau film untuk dewasa bisa aja ada adegan dewasa. Bukannya menikmati malah mungkin ribet nutupin mata anak. Film yang direkomendasiin ya paling kartun aja atau mungkin film yang memang ditujukan untuk anak-anak. Kalaupun emang mau nonton film untuk dewasa ya ada pertimbangan lain yaitu : Jam Nonton.

  • Jam Nonton

    Jam nonton ternyata penting buat dipikirkan soalnya bisa aja bentrok sama jam tidur anak. Jam nonton juga ternyata pengaruh sama banyak atau ngga-nya penonton di satu studio.
    Jam nonton paling pertama (sekitar jam 10.30-an) ternyata cukup sepi dan kalau anak sedikit rewel ga banyak yang ngeliatin dengan tatapan terganggu (padahal gelap juga kali ya). Kalau anak emang mau dibiarin menikmati film kayaknya di jam paling awal cocok. Jam nonton penting kalau mau nonton film dewasa, pilihlah di jam anak tidur (mungkin paling malem) jadi pas anak tidur kita bisa fokus nonton. Jam paling malam juga biasanya ga terlalu ramai.

  • Lokasi Nonton / Bioskop Mana

    Kalau mau ngikutin anak nonton film untuk usianya ya cocoknya di bioskop yang khusus anak. Tapi di Palembang belum ada. Saya sih milihnya yang deket rumah aja, CGV, alasannya? Persiapannya jadi ga ribet, waktu tempuh bisa diukur (pas – ga kelamaan nunggu film mulai). Pilih yang biasa atau ekslusif (velvet / premier) ? Saya sih milih yang biasa. Hemat bok! Mending selisihnya buat jajan. Hehehe.

    Btw, saya baru tau kalau CGV nyediain booster, semacam bantal untuk anak < 3 tahun, yang ditaruh di kursi penonton. Jadi anak juga bisa mantep duduk nontonnya. Jam nonton juga ngaruh ke bisa apa engganya kita pake booster ini. Kalau masih sepi kan kita bisa pakai kursi yang kosong buat anak duduk. Hehehe, anggap bonus karena studio sepi, boleh kan ?

 

  • Makan & Minum

    Urusan perut ga boleh dilupain. Nonton rasanya ga enak kalau ga sambil nyemil (menurut saya). Anak juga rasanya ga tenang kalau ga ada yang masuk di mulut. Makan dan minum harus disiapin. Mau bawa dari rumah? Monggo. Mau beli di bioskop? Silahkan 🙂 Yang penting mulut kenyang perut tenang kita senang.

 

Pengalaman pertama bawa anak nonton? Sempat deg-degan. Ternyata dia anteng duduk sendiri (pake booster) dan makan popcorn caramel sambil minum milo. Dia juga fokus nonton film Olaf sebelum Coco mulai. Pas film Coco mulai, dia minta nyusu trus tidur, boosternya jadi bantal. Hampir sejam tidur, dia bangun dan ikutan nonton film Coco sambil makan lagi sampai film selesai. Alhamdulillah dia kayaknya asyik-asyik aja. Dipanggil abis nonton masih noleh. Semoga telinganya ga kenapa-kenapa. Soundnya juga ga terlalu keras tadi. Dan karena ini, saya jadi request kalau ada film yang cocok lagi pengen nonton 😁.