Belajar Tentang Kesepakatan di Kelas Keluarga Kita – Disiplin Positif 3

Kira-kira sebulan yang lalu, saya mengikuti lanjutan kelas Keluarga Kita dengan tema Disiplin Positif 3 : Panduan Kesepakatan Orang Tua & Anak. Sebelumnya saya mengikuti kelas dengan tema Disiplin Positif 2 : Menumbuhkan Disiplin Positif Diri Anak. Rasanya nanggung, udah ikutan satu kelas terus berhenti gitu aja.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
Baca juga : Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik

Kelas Keluarga Kita, menurut saya sendiri, menjadi suatu wadah di mana kita bisa sharing tentang hambatan apa yang kita temui dalam keluarga, tentunya sesuai dengan tema yang dibahas. Kelas ini juga bisa menjadi pendalaman materi dari hasil membaca buku Keluarga Kita – Mencintai Dengan Lebih Baik karya Ibu Najeela Shihab. Sebenarnya penjelasan di buku maupun di kelas mirip, karena saat di kelas, materi juga disampaikan Ibu Najeela Shihab melalui video, lalu Tim Rangkul (Relawan Keluarga Kita) akan menjadi fasilitator ketika para peserta berbagi tentang pengalaman atau hambatan yang dialami saat penerapan hal yang sedang dibahas.

Setelah pada materi sebelumnya, saya belajar tentang konsekuensi, hadiah, pujian, dan kritik. Kali ini saya belajar tentang Restitusi dan Kesepakatan.

Restitusi

Diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), restitusi memiliki pengertian ganti kerugian, pembayaran kembali.

Terus gimana kalau dalam keluarga? Kalau salah kita harus ganti rugi? Apa yang harus kita bayar?

Sering kali kita menemukan bahkan mungkin mengalami sendiri, ketika melakukan kesalahan, kita disuruh sesegera mungkin untuk meminta maaf. Padahal, bisa saja kita merasa tidak bersalah. Terkadang, terdapat paradigma yang salah, bahwa meminta maaf saja cukup, masalah selesai. Lalu, kesalahan berulang. Padahal, tentu tidak baik kalau seperti itu.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Belajar dari kesalahan, jangan jadi keledai yang terperosok berkali-kali ke lubang yang sama. Rasanya hal itu sudah berkali-kali kita dengar, tapi bagi saya sendiri yaaaa kadang masih sama aja. Itulah pentingnya restitusi dalam disiplin positif bagi diri.

Restitusi adalah proses untuk memperbaiki kesalahan, sehingga bisa menjadi pelajaran. Restitusi perlu dicontohkan dan dilatih dengan konsisten agar bisa menjadi kebiasaan. Proses belajar untuk memperbaiki kesalahan dapat dilakukan melalui tahapan berikut :

  • Melakukan Upaya Rehabilitasi
    Upaya rehabilitasi atau pemulihan kondisi ke keadaan semula, sangat disarankan untuk dilakukan setelah melakukan rehabilitasi. Ya memang, kadang tak selalu rehabilitasi sukses, misalnya gelas yang sudah pecah akan susah kalau disusun kembali. Tapi, paling tidak upaya untuk mengganti/memperbaiki benda/situasi telah dilakukan.Contoh lainnya mungkin yang saat ini sering terjadi di usia Mahira (18 bulan) adalah kebiasaan ia yang suka memukul tiba-tiba, biasanya korban (saya, ayahnya, atau pengasuh) akan terlihat kesakitan. Mungkin karena kebiasaan saat ia jatuh atau kesakitan, kita meniup-niup yang sakit. Sebuah upaya yang dilakukan Mahira adalah meniup tubuh korbannya agar tak merasa sakit.
  • Membuat Resolusi
    Resolusi adalah tuntutan akan suatu hal atau bisa juga perjanjian akan hal yang ingin dilakukan. Setelah menyadari kesalahan dan memperbaiki keadaan, anak bisa diajarkan untuk membuat perjanjian dan rencana untuk mencegah kesalahan terulang kembali.Nah, urusan resolusi ini, untuk anak seumuran Mahira memang masih agak susah sih penerapannya. Misalnya daripada memukul, lebih baik menowel atau menunjuk ibu, ayah atau pengasuh dengan baik.
  • Menyatakan Maaf dengan Sukarela
    Proses meminta maaf akan lebih baik dengan sukarela sesuai dengan pesan Ibu Najeela Shihab, “Disiplin diri anak dimulai dari hubungan yang kuat dan rasa percaya yang dalam. Tanpa modal ini, yang terjadi adalah kontrol, bukan pemberdayaan ; pemaksaan, bukan pengembangan potensi”. Proses meminta maaf dengan sukarela dapat dilakukan setelah ia menyadari kesalahan, melakukan upaya rehabilitasi, dan membuat resolusi.Yang saya sendiri rasakan, terkadang tergesa-gesa meminta maaf itu juga kurang baik. Secara emosi, kita belum siap. Rehabilitasi dan resolusi bisa menjadi momen untuk kita menenangkan diri, termasuk “korban” kesalahan kita menenangkan diri juga. Jadi, sebuah pekerjaan rumah juga untuk saya sebagai orang tua, jika nanti anak berbuat kesalahan, jangan langsung kita turun tangan meminta maaf karena kalau begitu anak juga ga belajar.

***

Kesepakatan Bersama

Kesepakatan bersama memiliki pengertian sebagai hal-hal yang disepakati untuk dipatuhi secara bersama-sama. Mungkin bisa dibilang peratutan dalam keluarga, tapi harus lebih jelas dan bisa jadi merupakan keinginan antar anggota keluarga yang disepakati secara bersama-sama sehingga penerapannya pun lebih konsisten.

 

Kesepakatan Bersama (sumber : Keluargakita.com)

Setiap anggota keluarga perlu memahami dan menyadari tujuan dibuatnya sebuah kesepakatan, sehingga semua dapat menjalaninya. Tak perlu langsung banyak membuat kesepakatan A to Z untuk menyelesaikan semua masalah, tapi paling tidak dapat mencegah masalah yang paling sering muncul berulang kali. Kesepakatan baiknya dibuat tertulis dan dipasang di ruang yang tampak oleh seluruh anggota keluarga dan secara berkala bisa ditinjau pelaksanaannya.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Untuk keluarga saya, kesepakatan bersama yang dibuat, baru satu dan terasa penting banget : Menjaga Kerapian dan Kebersihan.

Bojo termasuk orang yang selalu ingin melihat rumah rapi dan bersih. Sementara saya sendiri kadang suka meletakkan barang seenaknya. Konflik terjadi? Tentu.
Anak usia toddler sudah pasti gemar bermain dan membaca. Sayangnya, masih sering apa yang dia lakukan tak kembali ke tempat semula. Area main berantakan, area tidur apalagi. Apalagi urusan makan, berantakan? Jelas. Risih ? Pasti.
Dari hal tersebut, menjaga kerapihan dan kebersihan menjadi kesepakatan bersama yang utama.

Sebuah pe-er juga buat saya, meletakkan barang tak sembarangan apalagi gadget, buku, dan minuman. Sekaligus melatih disiplin untuk anak juga, meletakkan barang yang sudah dimainkan kembali ke tempat semula.

 


Menumbuhkan disiplin positif dalam keluarga menurut saya pribadi, merupakan sebuah hal yang penting. Cukup susah sepertinya untuk dijalani, apalagi urusan konsistensi. Tapi, kalau ga dimulai sekarang, kapan lagi? Toh untuk membentuk keluarga yang lebih baik juga kan.

Memilih Camilan Sehat Untuk Anak

Menjadi ibu, bukanlah suatu perkara yang mudah. Selain perasaan bahagia yang sudah pasti mendatangi kita setiap harinya, ada juga perasaan khawatir, deg-degan, bahkan bingung. Awal menjadi ibu, selama 6 bulan diliputi rasa khawatir saat memberikan asupan Air Susu Ibu (ASI). Setelah 6 bulan, anak dianjurkan untuk memperoleh tambahan asupan melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Pola makan anak pun mulai diatur. Ketika 6 bulan pertama asupan hanya berupa ASI, saat belajar makan, anak disarankan untuk mengenal jadwal makan utama mulai dari sarapan, snack pagi, makan siang, snack sore, dan makan malam. Menu empat bintang yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur, menjadi rujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Anjuran lain adalah memperhatikan jumlah gula dan garam yang diberikan untuk anak.

 

Kedua anjuran tersebut menjadi panduan saya untuk memberikan makanan yang bergizi untuk anak baik makan utama atua makan selingan (camilan). Memilih camilan pun perlu yang sehat dan bergizi. Berikut ini beberapa pilihan camilan yang sering saya berikan untuk anak :

Buah-Buahan

Momentmal / Pixabay

Buah-buahan sangat dianjurkan untuk menjadi makanan selingan anak diantara makan beratnya. Selain mengandung vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh anak, buah-buahan juga membantu anak untuk merasakan rasa manis yang alami. Beberapa buah tertentu seperti pepaya, pisang, dan buah naga, bahkan bermanfaat untuk melancarkan pencernaan anak. Buah-buahan bisa diberikan langsung dalam bentuk potongan, dihaluskan (bentuk puree), atau dijus. Kalau saya sendiri diselang seling. Ketika usia 6-8 bulan, buah-buahan yang dijus saya berikan dalam tommee tippee botol susu bayi yang terbuat dari bahan Polypropylene dan bebas dari bahan berbahaya seperti Bisphenol A (BPA) sehingga aman untuk bayi. Selain itu desain botolnya juga mudah dipegang.

Sayur-sayuran

WerbeHoch / Pixabay

Sayuran yang direbus juga dapat menjadi pilihan camilan untuk anak. Sama halnya seperti buah, sayuran juga mengandung vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh serta melancarkan pencernaan karena mengandung serat. Pilihan yang sering saya berikan antara lain brokoli, timun, wortel, ubi, jagung, kentang, atau labu.

 

Puding, Jelly, atau Agar-Agar

WerbeFabrik / Pixabay

Tekstur kenyal dari puding, jelly, atau agar-agar biasanya menarik untuk anak. Apalagi jika dibuat dengan warna-warna yang mencolok. Selain mengandung serat, puding juga menjadi salah satu cara anak mengenal tekstur yang tidak keras. Biasanya saya memotong puding dengan ukuran kecil agar lebih mudah dipegang dan tak membuat anak tersedak saat memakannya.

Biskuit Bayi

 

Pezibear / Pixabay

Biskuit bisa juga menjadi pilihan camilan nikmat dan sehat untuk anak. Biskuit bisa membantu anak dalam mulai berada dalam proses tumbuh gigi. Dalam memilih biskuit, tentu perlu memerhatikan bahan yang terkandung di dalamnya. Salah satu yang menjadi favorit anak saya adalah biskuit bayi yummy bites. Biskuit bayi Yummy Bites ini terdiri dari berbagai rasa seperti original, wortel, pisang hingga sayuran. Selain mengandung vitamin A, K,E dan protein, Yummy Bites juga mudah larut di mulut. Bahkan saya sendiri suka.

 

 

Yogurt

 

NeuPaddy / Pixabay

Minuman yang berasal dari fermentasi susu ini memang memiliki rasa yang sedikit asam. Tapi bisa menyehatkan anak karena merupakan sumber kalsium yang baik. Kalau saya sendiri, lebih memilih yogurt yang teksturnya agak kental dan memiliki rasa buah sehingga ada rasa manis selain dominasi rasa asam.

 

 

 

Smoothies

 

silviarita / Pixabay

Merupakan minuman campuran susu, yogurt, dan buah-buahan. Mengandung kalsium dan vitamin. Jika merasa pemberian asupan untuk anak dalam bentuk cair terlalu sering, saya biasanyanya membekukan smoothies sehingga menjadi popsicle ice cream smoothies.

 

 

Sereal

ponce_photography / Pixabay

Sereal juga dapat menjadi sumber serat yang baik untuk menjaga pencernaan anak karena umumnya berasal dari biji-bijian seperti gandum atau barley. Memilih sereal juga perlu cermat karena terkadang banyak sereal yang mengandung gula yang tinggi. Pemberian sereal pun dapat divariasikan dengan potongan buah atau susu.

 


Selain memilih camilan yang sehat dan bergizi, waktu pemberian camilan juga harus diperhatikan. Camilan diberikan sebagai makanan selingan diantara jadwal makanan utama. Sehingga jangan terlalu dekat dengan jadwal makan utama karena biasanya akan ditolak karena anak masih kenyang. Oh iya, memiliki jadwal pemberian makanan selingan sedari awal juga baik, karena ketika sekolah nanti biasanya juga anak akan memiliki jadwal untuk snack, sehingga lambung anak sudah terbiasa sedari kecil untuk menerima makanan di waktu tertentu.

Beragam Cara Ibu Ungkapkan Cinta Kepada Anak

Sebagai orang tua, rasanya kita ingin untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai bentuk ungkapan rasa cinta untuk anak. Begitu pula saya dan Bojo (suami). Salah satu komitmen kami berdua adalah memberikan perlindungan terbaik dengan melakukan imunisasi. Imunisasi juga sebagai ikhtiar untuk dijauhkan dari musibah penyakit yang mungkin saja bisa menyerang anak.

Infografis KLB Difteri di Indonesia – Sumber : Liputan6.com

Beberapa minggu terakhir, ramai di berita tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) tentang Wabah Penyakit Difteri. Saya pun sedikit khawatir. Tepat di usia 18 bulan ini, Mahira dijadwalkan untuk imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) yang keempat. Kami pun pergi ke RS Hermina Palembang untuk melakukan imunisasi.

"Keluhannya apa Bu?" tanya suster di ruang jaga.
"Mau imunisasi DPT 4 sus," jawab saya. 
"Tapi yang ga demam lagi kosong Bu. Adanya yang demam saja"

Saya tahu memang efek imunisasi DPT bisa terjadi demam ringan dan ada merek vaksin yang bisa mengatasi efek demam tersebut. Untuk imunisasi DPT sebelumnya kami selalu memilih yang tidak menyebabkan demam karena memang stoknya tersedia. Bojo terlihat diam dan ragu. Akhirnya, saya coba memutuskan.

"Oh, ya sudah sus, gapapa," kata saya.

Kami pun duduk sambil menunggu giliran untuk masuk ke ruang dokter. Saya mengerti kekhawatiran Bojo yang tak ingin anaknya merasakan sakit atau demam. Sembari menunggu, saya coba meyakinkan Bojo kalau lebih baik imunisasi sekarang daripada ditunda-tunda. Tepat pada saat itu, televisi di ruang tunggu menampilkan acara berita yang membahas tentang KLB Difteri. Saya pun mengatakan bahwa tak apa kalau memang Mahira nantinya demam, di rumah sudah sedia obat penurun panas. Lagipula selama ini Mahira jarang demam setelah imunisasi dan kalaupun demam hanya sebentar saja.

Ilustrasi Pemberian Vaksin – Sumber : Pixabay

Akhirnya tiba giliran kami masuk ke ruang dokter. Dokter pun menyarankan imunisasi saja, karena memang sedang ada wabah Difteri dan lebih baik mencegah dari pada mengobati.

"Sedia obat penurun demam kan di rumah?" tanya Dokter Afifa.
"Ada Tempra Drops, dok. Boleh kan?" tanya saya.
"Boleh kok. Lagi pula anaknya sudah besar, semoga saja ga demam."

Selesai imunisasi kami segera pulang ke rumah. Mahira cukup rewel setelah imunisasi, mungkin efek nyeri pasca disuntik masih terasa. Menjelang tengah malam, suhu tubuh Mahira meninggi sampai 38 derajat celcius. Segera saja saya mengambil Tempra Drops yang memang selalu saya sediakan di rumah. Tempra Drops, menjadi pilihan saya sebagai antisipasi saat anak mengalami demam atau kondisi suhu tubuh di atas 37,8 derajat celcius.

Dengan rasa anggur, Tempra Drops cocok untuk diberikan kepada anak-anak karena memiliki rasa yang manis dan aman di lambung. Kandungan parasetamol sebagai penurun demam (anti piretika) juga efektif untuk menurunkan demam anak dengan dosis yang tepat. Tempra Syrup maupun Tempra Drops tak perlu dikocok terlebih dahulu sebelum diberikan, karena larut 100% dalam tubuh.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sampai saat ini saya memberikan Tempra Drops kepada anak dengan menggunakan pipet yang tersedia dalam kotak kemasan karena memiliki ukuran yang jelas dan lebih mempermudah pemberian kepada anak. Suhu anak tak langsung menjadi normal, namun secara berkala turun sedikit demi sedikit. Tak lupa, pemberian cairan pendukung (air mineral dan susu /ASI) untuk anak tetap dilanjutkan karena biasanya saat demam anak banyak berkeringat dan perlu cairan lebih bagi tubuhnya sehingga dehidrasi juga dapat dihindari. Setelah minum Tempra Drops, Mahira pun tidur pulas dan ketika pagi hari suhu tubuhnya sudah menurun menuju normal walau masih sedikit rewel.  Di siang hari dia mulai aktif bermain dengan ceria.

 


Mencintai Bukan Berarti Terus Menerus Memanjakan

Itu adalah konsep yang coba saya pegang dalam mendidik dan mengekspresikan cinta saya kepada anak. Sebagai orang tua, kita boleh saja protektif dan melindungi anak dari ancaman atau rasa sakit. Tapi, sedikit ‘membiarkan’ anak merasakan jatuh atau sakit, juga bisa menjadi pembelajaran bagi anak serta orang tua. Lagi pula, dalam hidup tak selamanya berjalan mulus kan? Jadi, memanjakan dan menghindarkan anak dari rasa sakit, bukan suatu hal yang harus dilakukan terus menerus.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti kelas tentang Disiplin Positif Keluarga Kita dan juga membaca Buku Keluarga Kita. Beberapa bahasan antara lain adalah konsekuensi dan dukungan sebagai bentuk cinta tak bersyarat untuk anak. Saya juga mengenal konsep CINTA dalam Keluarga Kita yang salah satunya adalah Mencintai dengan Tidak Takut Salah. Saya pun setuju dengan konsep ini.

Baca juga : Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya juga mencoba memberikan pengertian ini kepada Bojo. Tak apa misalnya Mahira saat belajar berjalan ia mengalami jatuh karena itu menjadi momentum untuk ia belajar lebih hati-hati. Tak apa kalau misalnya Mahira merasa sakit atau demam saat imunisasi. Bukan berarti kita tidak sayang atau tidak cinta. Justru dengan sedikit kelonggaran kita bisa menyisipkan pelajaran hidup kepada anak.  Di sisi lain, saya belajar bahwa kehadiran sebagai orang tua penting, untuk mendampingi anak saat ia merasakan sakit, selain menyampaikan pelajaran hidup yang bisa diambil, juga bisa memberi energi positif untuk anak. Kehadiran bisa menjadi bentuk ungkapan cinta kepada anak.

Berbagai Ungkapan Cinta Untuk Anak

Ada yang mengatakan, bahwa ketika anak sakit, orang tua juga merasakan sakit. Namun, orang tua harus lebih kuat dari anaknya. Ketika imunisasi misalnya, kadang kita merasa tak tega melihat anak yang menjerit kesakitan saat disuntik. Tapi, itu harus dilakukan untuk kebaikan anak. Saya pun mengenggam erat tangan Mahira saat ia disuntik sebagai bentuk dukungan saya. Saya ingin memberikan energi positif berupa cinta dan keberanian yang saya salurkan melalui genggaman tangan. Setelah disuntik saya coba memberikan pesan positif bahwa Mahira belajar untuk berani dan disuntik memang sakit tapi tidak apa-apa karena baik untuk tubuh.

Dari buku yang saya baca, saya belajar bahwa dukungan bisa berupa pesan, kehadiran, permainan, atau pengalaman melakukan aktivitas bersama anak. Intinya dukungan adalah sesuatu yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran, cinta tak bersyarat, bahkan mampu menjadi motivasi internal bagi anak. Satu hal yang saya sadari dengan jelas, kehadiran orang tua untuk mendampingi anak di masa pertumbuhan dan perkembangannya sangatlah penting.

Pilihan sebagai ibu bekerja kadang dianggap sebagai pilihan yang salah oleh beberapa orang. Anggapan kalau ibu bekerja tidak sepenuhnya hadir untuk anak, pernah saya terima. Walau begitu, tak serta merta ibu yang bekerja di luar rumah tak sayang anak. Saya pun tetap berusaha hadir dan menemani anak dalam kehidupannya. Apa yang bisa dilakukan ibu untuk mengekspresikan rasa sayangnya ? Saya mencoba melakukan hal-hal seperti ini :

  • Menjaga Kesehatan dengan Nutrisi Yang Baik

    Salah satu bentuk rasa cinta yang dapat saya berikan adalah dengan memberikan nutrisi terbaik mulai dari menyiapkan bahan makanan. Saya akui tak setiap hari saya bisa masak untuk keluarga, namun paling tidak menyediakan bahan makanan yang sehat dan bergizi adalah awal untuk membentuk keluarga yang sehat. Tubuh yang sehat menjadi awal untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan ceria.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

  • Ekspresi Melalui Sentuhan Fisik

    Pelukan, ciuman, atau gendongan bisa menjadi salah cara untuk menunjukkan rasa sayang dan sudah umum digunakan. Begitu pula yang saya lakukan terhadap Mahira. Menyusui secara langsung juga menjadi salah satu cara yang saya lakukan untuk menciptakan kedekatan fisik dengan anak. Kata banyak teman, pada saatnya nanti, anak bisa menolak pelukan dan ciuman saat ia besar. Jadi, saya harus memanfaatkan waktu ini selama ia masih mau menerima dan memberikan pelukan dan ciuman.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
  • Melakukan Aktivitas Bersama

    Saya memilih masih tidur bersama Mahira untuk memberikan rasa aman dan nyaman saat anak tidur dengan sebelumnya membacakan buku terlebih dahulu. Di sore hari, jalan sore keliling komplek jadi aktivitas rutin sejak Mahira mulai bisa berjalan lancar, sekalian saya olah raga. Jika ada kegiatan di akhir pekan, saya pun selalu mengajak Mahira. Pernah juga saya membawa Mahira ke kantor untuk mengenalkan aktivitas saya padanya.

    Melakukan aktivitas bersama anak tak hanya aktivitas yang anak senangi saja seperti bermain, tetapi aktivitas sehari-hari (seperti membersihkan rumah, makan, beribadah, dan lainnya) dengan melibatkan anak juga menurut saya bisa menjadi ekspresi cinta kepada anak sekaligus cara untuk memberikan pelajaran akan nilai kehidupan serta mendekatkan anak kepada orang tuanya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
  • Membuat Permainan Khusus

    Dalam film Coco yang baru saja saya tonton, Ayah Hector menciptakan lagu khusus untuk putrinya (Coco) yang berjudul Remember Me. Mengekspresikan cinta kepada anak juga bisa diberikan melalui hal-hal khusus yang dibuat dengan sengaja untuk anak.

    Baca juga : DIY Monkey Bar Untuk Arena Bermain Anak di Rumah

    Kalau saya dan Bojo, baru bisa membuatkan permainan khusus dan saat membuatnya pun melibatkan Mahira. Setelah sukses membuat Monkey Bar saat ia belajar merambat, kami juga baru saja membuatkan Setrika dari kardus. Saat proses pembuatannya, Mahira pun boleh ikut serta seperti saat merangkai Monkey Bar dan saat membuat pola setrika kardus.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

  • Kebaikan Doa yang Tak Terputus
     Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia - Azhar Nurun Ala, Tuhan Maha Romantis.
    Berdoa – Sumber : Pixabay.com

    Doa juga menjadi ekspresi cinta orang tua kepada anak yang paling mudah. Kita menyampaikan kebahagiaan atas kehadiran anak melalui ucapan syukur. Kita tentu selalu berharap yang terbaik untuk anak. Manusia boleh berencana, namun Tuhan yang menentukan. Apapun yang kita lakukan semua akan kembali lagi kepada Allah SWT. Maka dari itu, ijin dan ridha Allah menjadi utama. Harapan kita kepada anak pun dapat kita sampaikan kepada Allah SWT melalui doa dan ibadah yang kita lakukan. Doa yang selalu saya panjatkan adalah untuk diberikan kesehatan, yang tentunya diikuti beragam doa baik lainnya untuk anak.

 

 

Sebagai orang tua, tentu kita ingin memberikan dan mengharapkan yang terbaik bagi anak. Setiap orang tua memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan cintanya kepada anak. Melalui ungkapan cinta, yang saya lakukan, saya mencoba memberikan energi positif untuk anak. Harapannya energi positif dapat membawa dia ke fisik dan jiwa yang sehat pula. Semoga saja, kelak doa dan harapan terbaik untuk anak dapat terwujud dengan cinta yang diberikan oleh orang tua dan anak akan selalu dekat dengan orang tua.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra. #SelaluAdaCintadiHatiBunda  #Tempra

Bawa Anak Kecil Nonton Bioskop, Kenapa Engga ?

Setelah sekian lama puasa nonton di bioskop (terakhir nonton di tahun 2015, My Stupid Boss, sebelum punya anak), akhirnya balik nonton ke bioskop. Sensasi nonton di bioskop emang beda sih. Ga bisa dipindah channel lain macem pas lagi nonton HBO atau FoxMovies juga ga bisa di pause macem nonton dvd atau di aplikasi nonton online. Kenapa lama ga ke bioskop? Karena ada anak yang masih bayi, kasian kalo diajak karena sound bioskop rasanya keras banget buat bayi, kalo ditinggal ga tega dan kalau mau dititipin ga bisa juga .

Akhirnya ngeberaniin bawa anak ke bioskop ketika umur anak 1,5 tahun, karena kangen banget nonton. Trus ada film Coco yang direkomendasiin dan katanya bagus. Pas dilihat filmnya animasi dan buat semua umur jadi ngeberaniin anak dengan asumsi anak bakal suka. Baru berani bawa umur segini karena ngerasa telinganya lebih kuat nerima sound yang besar (anaknya juga kalo naik mobil suka ngerubah volume keras-keras dan joged girang).

Bawa anak ke bioskop tentu ada pertimbangan tersendiri dan perlu persiapan khusus. Apa aja yang harus dipikirin kalau mau bawa anak kecil nonton?

  • Jenis Film

    Jenis film yang mau ditonton jadi pertimbangan karena mikirnya kalau film untuk dewasa bisa aja ada adegan dewasa. Bukannya menikmati malah mungkin ribet nutupin mata anak. Film yang direkomendasiin ya paling kartun aja atau mungkin film yang memang ditujukan untuk anak-anak. Kalaupun emang mau nonton film untuk dewasa ya ada pertimbangan lain yaitu : Jam Nonton.

  • Jam Nonton

    Jam nonton ternyata penting buat dipikirkan soalnya bisa aja bentrok sama jam tidur anak. Jam nonton juga ternyata pengaruh sama banyak atau ngga-nya penonton di satu studio.
    Jam nonton paling pertama (sekitar jam 10.30-an) ternyata cukup sepi dan kalau anak sedikit rewel ga banyak yang ngeliatin dengan tatapan terganggu (padahal gelap juga kali ya). Kalau anak emang mau dibiarin menikmati film kayaknya di jam paling awal cocok. Jam nonton penting kalau mau nonton film dewasa, pilihlah di jam anak tidur (mungkin paling malem) jadi pas anak tidur kita bisa fokus nonton. Jam paling malam juga biasanya ga terlalu ramai.

  • Lokasi Nonton / Bioskop Mana

    Kalau mau ngikutin anak nonton film untuk usianya ya cocoknya di bioskop yang khusus anak. Tapi di Palembang belum ada. Saya sih milihnya yang deket rumah aja, CGV, alasannya? Persiapannya jadi ga ribet, waktu tempuh bisa diukur (pas – ga kelamaan nunggu film mulai). Pilih yang biasa atau ekslusif (velvet / premier) ? Saya sih milih yang biasa. Hemat bok! Mending selisihnya buat jajan. Hehehe.

    Btw, saya baru tau kalau CGV nyediain booster, semacam bantal untuk anak < 3 tahun, yang ditaruh di kursi penonton. Jadi anak juga bisa mantep duduk nontonnya. Jam nonton juga ngaruh ke bisa apa engganya kita pake booster ini. Kalau masih sepi kan kita bisa pakai kursi yang kosong buat anak duduk. Hehehe, anggap bonus karena studio sepi, boleh kan ?

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

  • Makan & Minum

    Urusan perut ga boleh dilupain. Nonton rasanya ga enak kalau ga sambil nyemil (menurut saya). Anak juga rasanya ga tenang kalau ga ada yang masuk di mulut. Makan dan minum harus disiapin. Mau bawa dari rumah? Monggo. Mau beli di bioskop? Silahkan 🙂 Yang penting mulut kenyang perut tenang kita senang.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Pengalaman pertama bawa anak nonton? Sempat deg-degan. Ternyata dia anteng duduk sendiri (pake booster) dan makan popcorn caramel sambil minum milo. Dia juga fokus nonton film Olaf sebelum Coco mulai. Pas film Coco mulai, dia minta nyusu trus tidur, boosternya jadi bantal. Hampir sejam tidur, dia bangun dan ikutan nonton film Coco sambil makan lagi sampai film selesai. Alhamdulillah dia kayaknya asyik-asyik aja. Dipanggil abis nonton masih noleh. Semoga telinganya ga kenapa-kenapa. Soundnya juga ga terlalu keras tadi. Dan karena ini, saya jadi request kalau ada film yang cocok lagi pengen nonton 😁.

Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik

 

Banyak orang mengatakan bahwa insting ibu selalu benar. Saya juga terkadang menganut hal itu. Siapa sih yang mau disalahin? Hehehe. Tapi, kadang juga saya ngerasa masih banyak nih ragu-ragu dalam urusan mengasuh anak. Ada juga perasaan, eh kayaknya harusnya ga gitu deh. Jangan-jangan insting saya benar tapi perwujudan perilakunya masih salah.

Itulah sebabnya saya merasa harus terus belajar sebagai orang tua. Sejujurnya saya tidak menganut paham ilmu pengasuhan anak secara saklek ngikut si ini atau si itu. Menurut saya, selama masih masuk akal dan logika saya, lalu saya mampu dan bisa saya jalankan ya hayuk.

Teknologi yang meningkat membuat arus informasi tentang pengasuhan pun terus menerus muncul setiap hari baik melalui sosial media atau grup whatsapp. Kadang kita perlu verifikasi lagi. Saya pun tak mau hanya belajar virtual saja dan mencoba untuk ikut seminar atau kelas terkait pengasuhan anak agar bisa berkomunikasi langsung dengan pemberi materi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sejujurnya ini pertama kalinya saya ikut kelas dari Keluarga Kita. Saya tanya mba Ayu dari Rangkul Palembang ternyata sebelumnya telah ada 2 kelas lain di Palembang. Sebelumnya ada kelas di Pawon Anggon, yang udah saya daftar tapi ga bisa datang karena kondisi lagi ga oke. Kali ini, kelas yang saya ikuti adalah Kelas dengan topik berbagi cerita tentang Disiplin Positif (DP) 2 : Menumbuhkan Disiplin Diri Anak. Langsung lompat materi nih. Semoga ga ketinggalan jauh.

Di awal acara, Mba Ayu mewakili Relawan Keluarga Kita (Rangkul) Palembang mengenalkan tentang Rangkul dan Keluarga Kita. Di Palembang sendiri, baru ada 3 Rangkul, yaitu Mba Ayu, Mba Tya, dan Mba Senja. Untuk jadi Rangkul sendiri ada pembekalan di kelas khusus. Teman-teman Rangkul Palembang sendiri harus mengikuti kelasnya di Jakarta dan banyak kelas pembekalan yang adanya di Jakarta. Semoga di kemudian hari, Palembang dapat jatah. Siapa tahu saya bisa ikutan kan 🙂 Kalau sekarang belum memungkinkan sayangnya. Rangkul mendukung sesama orang tua untuk terus belajar, karena tidak ada orang tua yang sempurna, sehingga orang tua lebih realistis dan mau belajar lebih untuk kebaikan keluarga.

Setelah perkenalan peserta yang jumlahnya kurang lebih 10 orang, kita langsung lanjut ke materi. Materi disampaikan melalui video Najeela Shihab sebagai founder Keluarga Kita dan selanjutnya mba Ayu memandu sesi berbagi cerita dan diskusi. Disiplin Positif penting untuk ditumbuhkan dalam diri anak sebagai modal utama pendidikan dalam keluarga yang mendorong kemandirian jangka panjang. Dalam bahasan Disiplin Positif 2 : Menumbuhkan Disiplin Diri Anak, terdapat 4 pembahasan detail mengenai :

  1. Hukuman vs Konsekuensi
    Jika kita mengingat pada masa kita menjadi anak, bukan tidak mungkin kita mendapatkan hukuman atas kesalahan kita. Lalu, apakah kita belajar dari hukuman tersebut? Rasanya jarang, justru emosi negatif seperti marah, malu, disalahkan, dan ingin melawan yang timbul. Tak jarang, ada pula yang mendapatkan ancaman. Kedua hal tersebut ternyata menimbulkan ketergantungan pada anak dan ketidakpercayaan diri. Artinya, mendidik anak dengan hukuman dan ancaman bukanlah suatu disiplin positif dan tidak efektif untuk diterapkan.

    Poster Konsekuensi vs Hukuman – Sumber : KeluargaKita.com



    Lalu apa yang cocok? Konsekuensi jawabnya. Sebelumnya, saya mengenal konsep ini dari teman di BC June 2016. Di sesi ini, saya lebih mengenal lagi syarat penerapan konsekuensi yang baik. Konsekuensi dapat dimulai sedari dini sebagai bentuk mengarahkan dan mengajarkan kedisiplinan untuk anak.


  2. Sogokan/Hadiah vs DukunganPernah melakukan perjanjian dengan orang tua kalau kita mencapai sesuatu akan mendapatkan hadiah tertentu? Lalu apa yang terjadi, apakah kita terus melakukan yang terbaik atau hanya kalau dijanjikan hadiah saja kita berusaha lebih giat? Dari sesi ini saya belajar bahwa memberi hadiah bukanlah sesuatu yang salah, tetapi jika memberi hadiah dengan konsep yang salah justru membuat ketergantungan dan tidak mendukung disiplin positif. Hal baik yang dapat diberikan oleh orang tua adalah dukungan. Perbedaan hadiah dan dukungan bisa dilihat pada gambar berikut ini :
    Biasanya, hadiah justru menimbulkan motivasi eksternal yang tidak bertahan lama bahkan bisa mematikan motivasi internal dalam diri anak. Pemberian hadiah yang baik adalah jika hadiah diberikan bukan sebagai syarat anak melakukan sesuatu. Jadi, jangan sampai anak sibuk dengan apa yang dijanjikan, sampai lupa proses yang dirasakan oleh dirinya saat melakukan sesuatu. Sementara dukungan, bisa menumbuhkan kesadaran, cinta tak bersyarat, dan menjadi motivasi internal bagi anak. Dukungan bisa berupa pesan, kehadiran, permainan, dan pengalaman bersama anak.
  3. Bijak Memuji Anak
    Sejak memiliki anak, ketika anak melakukan sesuatu kecil saja rasanya wow banget. Misal, anak mau membuang sampah ke tempat sampah, langsung dipuji, wow, Mahira pintar ya. Melakukan hal lain lagi, kita puji lagi. Berlebihan? Sepertinya iya. Baik untuk anak? Nah ini yang akhirnya saya pelajari di kelas ini.Pujian memiliki dua sisi, bisa menjadi bentuk penerapan Disiplin Positif saat diberikan dengan mudah, menyenangkan, dan bermakna. Tapi bisa juga membawa ketergantungan dan ketidakpercayaan diri pada anak bila diberikan dengan tidak bijak.

    Poster Bijak Memuji Anak – Sumber : KeluargaKita.com

    Lalu, bagaimana cara memuji anak dengan bijak ? Keluarga Kita merumuskan cara bijak untuk memuji anak yaitu : Fokus Pada Kepuasan Internal (Diri anak sendiri), Spontan (Dalam berbagai situasi), Spesifik, Puji Usahanya, Bukan Hasilnya, Tulus, Tidak ada pesan “Tersembunyi”, dan Bukan Untuk Memanipulasi.

    Nah, yang saya sadari, saya perlu mulai berlatih untuk memuji secara lebih spesifik, jadi jangan hanya wah pintar, wah hebat, atau wah keren saja. Kalau misal Mahira membuang sampah, mungkin saya bisa mengatakan, Wah Mahira pintar sudah tau tempat sampah untuk barang yang kotor.

     

  4. Cara Baik Mengkritik Anak
    Mengkritik sebagai pembelajaran disiplin? Hal yang boleh dilakukan. Selama mengkritik bisa menjadi wujud dukungan orang tua dan memberikan pengalaman belajar untuk anak, kritik bisa menjadi bagian dari Disiplin Positif. Lalu bagaimana kritikan yang baik itu?

    Poster Kritik Baik Untuk Anak – sumber : keluargakita.com

    Nah, kayaknya urusan kritik saya masih jarang sih, cuma suka keceplosan komen kalau dia main trus salah dengan menyalahkan seperti “bukan kayak gini” dan diikuti oleh saya memperbaiki, bukan mencontohkan yang mana yang baik agar anak mencoba sendiri. Kayaknya sih harus ngebenerin juga tindakan seperti itu karena kurang menimbulkan kepercayaan diri anak dan bikin anak ketergantungan.


Di akhir sesi dalam pembahasan Disiplin Positif 2 ini terdapat latihan terkait dengan bahasan tentang Pujian dan Kritikan. Kita juga diberikan kesempatan untuk menuliskan apa yang kita dapat dari kelas hari ini dan perubahan apa yang akan dilakukan dalam keluarga.

PALEMBANG • Pada hari Sabtu, 25 November 2017, Relawan Keluarga Kita Palembang @ayuandriyanisuas , @tyafagustya , dan @citramsenja kembali mengadakan sesi #BicaraRangkul #DisiplinPositi subtema Cara Baru Menumbuhkan Disiplin. • Sesi ini dihadiri oleh 13 peserta plus 3 rangkul. Meskipun dilaksanakan pada siang hari, peserta begitu semangat dan antusias berbagi cerita. Pembahasan berlanjut bahwa memberikan pengalaman belajar dan menjaga harga diri anak jauh lebih penting dibanding hukuman. Hadiah yang selama ini mendominasi juga bukan jalan keluar yang baik karena anak akan mengalami ketergantungan bukan kemandirian. Selain konsekuensi dan dukungan, peserta juga sepakat untuk memberikan pujian dan kritikan yang spesifik dan menerima perasaan anak. Di akhir sesi, peserta membuat rencana aksi agar terus cari cara dan tanpa drama untuk menumbuhkan disiplin anak karena disiplin positif butuh waktu dan konsistensi dari orang tua. Sesi selanjutnya akan dilaksanakan pada hari Minggu, 17 Desember 2017 terkait panduan kesepakatan orang tua dan anak. • Terima kasih kepada peserta yang sudah bersemangat hadir dan berbagi pihak yang ikut mendukung terselenggaranya sesi ini. . . . #Rangkul #KeluargaKita #TidakAdaOrangtuaYangSempurna #MencintaiDenganLebihBaik #PengasuhanAdalahUrusanBersama #SemuaMuridSemuaGuru #RangkulPalembang

A post shared by Mencintai dengan Lebih Baik (@keluargakitaid) on

 

Selain adanya Kelas Keluarga Kita melalui Sesi Berbagi Cerita Rangkul, Mba Najeela Shihab juga menulis Buku Keluarga Kita : Mencintai dengan Lebih Baik. Di sampul buku ini terdapat cap : Panduan Pengasuhan Keluarga Indonesia. Buku terbitan Buah Hati ini telah menjadi Best Seller sejak cetakan pertama di bulan Juli 2017.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Secara singkat buku ini berisi tentang 3 topik utama yang ditekankan dalam materi Keluarga Kita yaitu Hubungan Reflektif, Disiplin Positif, dan Belajar Efektif. Per materi dibagi lagi menjadi beberapa bab. Dalam setiap bab berisi tentang penjelasan dan ada pertanyaan umum yang sering ditanyakan serta jawaban untuk pertanyaan tersebut. Selain itu juga ada rangkuman singkat seperti pada bab Cara Baik Mengkritik Anak dengan contoh-contoh kalimat yang bisa digunakan. Disertai dengan ilustrasi yang bagus, buku ini cukup mudah dipahami walau menurut saya cara bertuturnya cukup ‘tinggi’ dan agak serius.

Jika membaca tentang Disiplin Positif, buku ini menjelaskan materi yang sama dari kelas Keluarga Kita. Jadi, sepertinya buku ini bisa dijadikan panduan untuk keluarga sementara itu bila masih butuh sharing dan diskusi dapat melengkapi apa yang telah kita baca melalui kelas Keluarga Kita. Saya sendiri jadi menebak-nebak apakah materi Disiplin Positif 1 : Mengenali Sifat dan Karakter Anak sesuai dengan bab terkait Prinsip Perkembangan Anak, Rujuan Pengasuhan, dan Pengelolaan Emosi dalam buku ini.

Keluarga Kita memiliki Prinsip Pengasuhan, yaitu Mencintai dengan Lebih Baik atau C-I-N-T-A. Maksudnya gimana? 5 Prinsip Pengasuhan Keluarga Kita adalah :

  • C – Keluarga Kita Mencintai dengan Cari Cara Sepanjang Masa : Parenting Is A Marathon, Aim For The Future
  • I – Keluarga Kita Mencintai dengan Ingat Impian Tinggi : Expecting The Best of Them, Take A Leap Of Faith
  • N – Keluarga Kita Mencintai dengan Menerima Tanpa Drama : Loving The Wrost Of Them, Unconditionally
  • T – Keluarga Kita Mencintai dengan Tidak Takut Salah : Parenting Is For Growing, Mistakes Are For Learning
  • A – Keluarga Kita Mencintai dengan Asyik Bermain Bersama : Parenting Is Fun, Plays Are Poweful Moments

Semoga niat baik dan cinta yang lebih banyak dan lebih bermakna mampu membuat kita menerapkan Hubungan Reflektif, Disipilin Positif, dan Belajar Efektif sehingga anak tumbuh menjadi bahagia, cerdas, dan mandiri. Yuk menjadi keluarga yang lebih baik 🙂

Informasi pengasuhan anak dan hal-hal lain dari Keluarga Kita bisa dilihat melalui website, twitter, facebook, instagram , dan youtube. Oh ya, tanggal 17 Desember 2017 kabarnya akan ada kelas lagi di Palembang. Semoga saya kebagian jatah ikutan lagi :)

Tempat Menyenangkan yang Puasa Dikunjungi Setelah Punya Anak

Semua akan berubah saat memiliki anak. Katanya sih begitu. Pada kenyataannya, ya omongan itu benar adanya. Selain perubahan ke diri sendiri, kebiasaan dan gaya hidup bisa ikut berubah. Ketika dulu di masa belum punya anak, main bisa kesana kemari, sekarang ya ga lagi. Ada faktor anak yang harus diperhitungkan.

Terdapat tempat-tempat tertentu yang atas dasar kesepakatan saya dan bojo, untuk dihindari dulu saat anak masih bayi. Ya sedikit membatasi hiburan-hiburan yang menyenangkan hati di masa-masa dahulu. Apa aja tempatnya?

 

Bioskop

Bawa anak nonton di Bioskop? Untuk saya dan bojo, kami sepakat untuk tidak membawa anak ke bioskop untuk nonton. Alasannya, ya sound system bioskop itu kan cukup keras ya. Bojo khawatir kalau telinga anak masih belum sanggup menerima sound sekeras itu. Terus emang ga ada niatan untuk beli tutup telinga yang kayak headphone besar itu juga sih buat anak. Ngerasa belum perlu aja. Selain itu, khawatir anak rewel dan ga betah, bikin kita ga khusyuk nonton film dan orang lain juga keganggu.

Jadi ya, selama 1,5 tahun ini saya puasa ke Bioskop untuk menonton film, paling-paling mampir buat beli pop corn manis doang. Pernah sih kepikiran pengen nonton terus anaknya ditinggal sama pengasuh, tapi ga jadi karena ga tega.

Trus nonton film di mana? Nunggu di TV kabel muncul atau kalau engga ya di aplikasi nonton-nonton film di iPad.

Katanya, bawa anak ke bioskop itu idealnya ketika anak usia 2,5 tahun karena anak sudah mulai mengerti jalan cerita dan bisa diajak komunikasi lebih baik. Oh iya, di Tangerang ada sih bioskop untuk anak, Cinemaxx Junior jadi ada arena untuk bermainnya gitu. Semoga bioskop model ini makin banyak di Indonesia dan film anak juga makin banyak.

Btw, minggu kemarin sempat nyobain nonton dan berujung pada....."Ga usah lagi deh, kasian anaknya belum ngerti, kita doang yang seneng"

 

Karaoke

Lagi-lagi pertimbangan urusan sound sytem yang terlalu keras dan kasian anaknya kalo ngedengerin suara ayah ibunya yang kacau lepas not kiri kanan. Nyanyinya pake perasaan soalnya, bukan pakai ilmu seni musik hahaha. Padahal, karaokean ini lumayan banget sih ngilangin stress.

Trus jadi sekarang gimana? Dengerin musik di rumah aja sambil nyanyi-nyanyi, ga selalu musik anak sih ya, ibunya juga pengen update lagu masa kini jadi kadang nyetel lagu masa kini trus nyanyi-nyanyi deh. Sama aja sih, anaknya jadi korban dengerin suara ibunya yang ancur minah. hahaha.

 

Cafe / Restaurant with Live Music

Makan di tempat makan manapun sekarang rasanya pasti ditemenin musik ya. Konon katanya sih biar pengunjungnya betah, trus nambah lagi, nambah lagi, banyak deh makannya. Cuma, cafe atau restaurant yang ada live musicnya sebisa mungkin dihindari sih. Alasannya lagi-lagi, karena soundnya kadang terlalu keras, bising, bikin pusing, anak jadi ga nyaman. Kalau yang musik-musik biasa sih masih dimasukin soalnya ya ga terlalu bikin sakit kuping. Lagian biasanya sih tempat makan yang ada musiknya nyaman dan rasanya lumayan.

 

Konser Musik

Ya, urusan sound system yang keras jadi alasan lagi. Padahal, huhuhu…pengen banget loh nonton trus jejingkrakan, sing a long with others, ya gitu-gitulah. Tapi ah, sudahlah, inget anak. Nonton acara musik udah mulai puasa dari jaman hamil. Biasalah ya, anak pertama, dijaga banget, takut ini takut itu, khawatir ini itu. Jadi, sekarang ya, cuma nonton acara musik di TV atau youtube aja deh.

Laut

Ketemu Nemo? Dadah aja....

Hahahai, jaman dulu hobi banget melaut cemplang cemplung ketemu ikan (snorkeling atau diving) buat ngebahagiain hati. Pengalaman ke Belitung, nyobain snorkeling lagi berujung anak nangis di atas kapal jadi pelajaran sih. Anaknya belum bisa ditinggal ibunya yang mau senang-senang sama ikan. Alhasil, kalau ada opsi liburan untuk ke laut dan menikmati ikan di laut dan terumbu karang, kayaknya harus di-skip dulu deh. Mentok sampai pantai aja mainnya.


Sebenernya, ke tempat hiburan manapun balik lagi ke kebijakan kedua orang tuanya. Kalo kami sih masih berusaha menghidari tempat asyik-asyik jos yang punya suara kenceng sih. Terus faktor pengasuh ga nginep (ga ada yang bisa dititipin anak) juga jadi pertimbangan, soalnya artinya harus bawa anak kemana-mana. Kalaupun cuma salah satu dari saya atau bojo yang pergi suka-suka biasanya saling ga enakan, dan berujung pada, ah udahlah ga jadi deh. Hahaha, semua balik ke masing-masing keluarga. Apapun itu, semua keluarga punya cara sendiri-sendiri untuk bahagia 🙂

Membawa Anak ke Kantor, Apa yang Harus Disiapkan ?

Picography / Pixabay

Sebagai seorang ibu yang bekerja, memiliki bala bantuan untuk membantu mengurus anak rasanya menjadi hal yang wajib entah itu baby sitter yang di-hire secara khusus, keluarga yang membantu, atau daycare. Saya pun demikian. Atas dasar pertimbangan rumah yang dekat dengan kantor, unit tempat saya bekerja jarang dinas ke luar kota, jam pulang kantor juga seringnya tepat (sebelum magrib udah di rumah), maka saya dan bojo lebih memilih pengasuh anak yang tidak menginap.

Namun, memiliki pengasuh yang tidak menginap ga selalu mulus perjalanannya. Ga menutup kemungkinan, beliau juga sakit atau ada urusan lain yang ga bisa ditinggalkan, yang berujung ga bisa masuk kerja. Mau ga mau kita harus maklum kan? Lha wong kita aja kalau mendadak sakit bisa ijin kok dari kantor. Cuma ya, efek pengasuh ga masuk kerja lumayan bikin saya ribet sih, soalnya, ga ada saudara di kota ini (saya dan suami sama-sama perantau). Jadi ya anak ga bisa dititipin ke siapa-siapa. Tetangga? Wah banyak anak kecil juga, jangan nambahin beban lah. Daycare? Di kantor ga ada, di dekat kantor pun ga ada, sekalinya ada jauh banget dari rumah. Ujung-ujungnya saya ijin cuti. Tapi ya ijin cuti juga ga bisa sering-sering, apalagi emang cuti dihemat-hemat buat mudik. Akibatnya, saya bawa anak masuk ke kantor.

Bawa anak ke kantor, apa-apa ga?

Pengalaman bawa masuk anak ke kantor bermula ketika Mahira umur 13 bulan. Saya mulai berani bawa Mahira setelah dia mulai bisa duduk, berani berdiri dan berlatih berjalan. Alasan membawa saat anak mulai bisa duduk tegak, adalah kalau anak kita dudukkan di kursi kerja dia sudah bisa. Awalnya, saya berniat cuti, eh ternyata ada panggilan mendadak, ijin bawa anak, ternyata di approve sama atasan. Karena udah dapat ijin, kalau pengasuh ga masuk maka akan berujung saya ijin bawa anak ke kantor dibanding merelakan jatah cuti. Ga sering-sering juga sih, ga setiap bulan kok bawa Mahira ke kantor, karena Alhamdulillahnya sih emang jarang banget kejadian pengasuh ga masuk.

Sebenarnya, membawa anak ke kantor balik lagi ke urusan gimana tempat kita bekerja. Kalau secara aturan sih kayaknya di kantor saya ga ada aturan tertulis bahwa anak dilarang masuk ke area kantor (atau saya aja ndableg ga tahu peraturan). Tapi, kadang ya ada aja yang suka hararese gitulah. Misalnya aja pas lagi ada razia, terus jadi ditanya-tanyain. Atau ada juga teman-teman kantor yang merasa terganggu, ya tentu aja ya kita kerja ga fokus sepenuhnya seperti hari-hari biasa. Alhamdulillah, rasanya dua-tiga kali bawa Mahira ke kantor aman-aman aja dan teman-teman di kantor mau memaklumi bahkan ada yang dengan rela main sama anak. I love you full dah urusan beginian sama kantor.

Persiapan bawa anak ke kantor

Yang jelas, kalau mau bawa anak ke kantor harus ijin sama atasan dulu deh. Alhamdulillah selama ini sih dimaklumi hihihi. Kenapa harus ijin, ya kadang kan ada orang yang terganggu sama anak kecil. Lagian, balik lagi, kita ga bakal fokus kerja banget kayak biasa, jadi perlu rasa maklum dan empati dari teman-teman kantor gitu karena harus mengurus anak. Semoga aja ga ada yang ngomong, “makanya di rumah aja jadi perempuan, ga usah kerja”.

 

 

 

Untuk saya yang gak suka repot, persiapan bawa anak ke kantor sebenarnya hampir sama kalau bawa anak jalan-jalan di hari libur sih. Hal-hal wajib yang harus dibawa adalah :

  • Makanan & Minuman
    Karena istirahat kantor saya bakal pulang ke rumah, maka saya hanya membawa cemilan saja buat Mahira. Sebisa mungkin anak sudah diberi makanan berat sebelum ke kantor, alasannya ya agar tidak kelaparan dan mulai merajuk. Cemilan yang biasa saya bawa adalah Promina Puff dan Biskuit Marie Regal. Minuman yang saya bawa biasa Susu UHT dan Air Mineral. Oh ya, karena Mahira masih minum ASI dan termasuk maniak ne*en, dia bakal memilih minta nenen dibanding disuruh makan sama saya.
  • Baju Ganti, Popok, dan Perlengkapan Tempurnya
    Baju ganti dan popok wajib ada di tas pergi saya. Kenapa, karena bisa aja kejadian anak muntah mendadak, ketumpahan air atau susu, makanan yang belepotan, dan banyak lagi. Lagipula, ganti popok kan sebisa mungkin 4 jam sekali, tentu saja popok menjadi barang wajib dibawa. Jangan sampai kelupaan dan berefek anak mengalami ruam atau gatal. Oh ya, selalu sedia sabun mini, kantong plastik, tisu basah, tisu kering, minyak-minyakan. Semua peralatan tempur ini wajib ada buat saya.
  • Mainan & Buku
    Kalau kita termasuk orang yang banyak pekerjaan di kantor, maka pengalih perhatian anak jadi hal yang juga wajib dibawa. Kalau Mahira pengalih perhatiaannya biasanya buku. Ya emang sih ga anteng-anteng banget, tapi dia akan mulai sibuk bolak balik mainin buku, sebelum…….mulai riweuh minta main lagi sama kita.
  • Selimut dan perlengkapan tidur
    Anak kadang punya jam tidur di sekitar jam 9-10 pagi. Karena itu, kita butuh area yang kira-kira bersih dan bisa dipakai anak untuk tidur selonjoran dengan nyaman. Selimut sih saya pakai buat jadi alas tidur dia. Perlengkapan tidur lainnya seperti bantal optional sih, kalau anaknya biasa pakai bantal ya silahkan dibawa.
  • Apron & perlengkapan tempur menyusui
    Pompa-pompa pemerahan ASI sih saya tinggalin di rumah, karena Mahira bakal milih nyusu langsung dibanding ngebotol. Kalau ada ruang menyusui khusus, akan lebih enak untuk menyusui anak yang mulai butuh menyusu. Kalau ga ada, perlu perlengkapan tempur seperti apron demi tetap merahasiakan asset berharga keluarga. Bantal menyusui? Tinggalin aja deh, daripada kita dikira mau ngungsi ke kantor.

 

Hal-hal penting lain yang perlu diperhatikan….

Tentunya adalah kenyamanan, kesenangan, dan kesehatan anak di kantor. Sehingga saya pun melakukan langkah ini…

  • Menginfokan anak kalau akan ke kantor. Walaupun anak mungkin belum mengerti betul, paling tidak kita memberi tahu anak bahwa ia akan berada di tempat baru, lebih ramai dari rumahnya, dan bisa jadi banyak yang gemes sama dia. Hal ini paling tidak meningkatkan rasa awareness anak akan hal-hal yang akan dihadapinya hari itu.
  • Memberi area untuk anak ikut sibuk bekerja. Kalau saya sih menambah satu kursi khusus (kalau bisa yang besar dan ada pegangan samping) untuk Mahira duduk di dekat saya sehingga apa yang dia lakukan akan terpantau.
  • Mengenalkan anak dengan teman di kantor. Ini berguna untuk melatih sosialisasi anak, terutama Mahira yang lingkup sosialnya itu-itu aja. Mengenalkan anak dengan teman di kantor juga berguna saat kita tahu-tahu ada yang dikerjakan, anak bisa dititipkan sebentar dengan teman kantor yang dipercaya.
  • Membebaskan anak. Ya karena jarang, kita bisa membiarkan anak main atau jalan-jalan keliling ruangan kantor (tetap harus dipantau) dan biarkan anak mencoba mengubah kantor kita menjadi area playground-nya. Membebaskan anak bisa juga urusan makanan, kalau anak dibawa oleh orang kantor lalu diberi jajanan (kalau di kantor saya sih biasa mpek-mpek atau martabak), ya biarkan saja. Ga setiap hari juga, sekalian ajang anak meng-eksplorasi hal baru.
  • Mencari area untuk anak beristirahat. Jika ada sofa panjang atau area kosong yang bisa dibuat menggelar kasur kecil, akan lebih baik untuk anak yang mulai beranjak mengantuk dan ingin tidur. Dengan begitu, tidur anak juga akan lebih pulas dan kita bisa melanjutkan kerja.
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebenarnya membawa anak ke kantor bisa jadi dilema bagi ibu bekerja seperti saya dan inginnya sih jarang dilakukan. Tapi ada baiknya kalau memang harus membawa anak ke kantor, perijinan dibicarakan dengan baik dan kita sendiri melakukan persiapan dengan baik juga. Terakhir, saat pulang, jangan lupa berterima kasih kepada orang-orang yang telah mendukung dengan maklum kalau kita harus membawa anak ke kantor. Semoga tulisan ini bermanfaat ya….