Beruntungnya Punya Supporting Group : BC June 16

Jadi ibu itu, walaupun prakteknya sendiri tapi sebenarnya ga bisa sendiri.

Eh gimana..gimana…

 

Sejak Maheera masuk lima bulan saya gabung di grup Birth Club June 16. Sebenarnya sih grup ini ada sebelum anak-anaknya lahir, bermula dari forum The Urban Mama (TUM) untuk ibu-ibu yang HPL (Hari Perkiraan Lahir) anaknya jatuh pada bulan Juni 2016. Saya telat taunya dan baru ngeh karena ada kakak tingkat kuliah sering posting dengan hashtag anaknya ikutan BC October 2015. Sempat nyari di forum TUM dan ninggalin komen, tapi ga ada tanggapan (mungkin karena sudah aktif grup Whatsappnya lagian baru mulai nyari pas anak 3 atau 4 bulanan gitu) sampai bahasan Birth Club di forum tersebut dihapus. Saya akhirnya kontak via Direct Message di Instagram @bcjune_16 dan alhamdulillah boleh join di grup whatsapp BCJune16. Ketika saya join di bulan November kayaknya udah 30-an membernya dan per hari ini menginjak 50 member.

Logo @BCJune_16

Ibu-ibu di grup ini kebanyakan domisili di Jabodetabek, tapi ada juga yang di luar kota seperti Duri & Pekanbaru (Riau), Bandung, Surabaya, Bali, dan ada di kota lain juga. Persamaan kami adalah : HPL anaknya Juni 2016, sehingga kalau anaknya lahir di bulan Mei 2016 atau Juli 2016 itu wajar saja karena lahiran kan bisa maju bisa mundur toh. Background ibu-ibu di grup ini beragam, ada yang kantoran, psikolog, punya online shop, lagi nyelesein thesis, dokter & dokter gigi, freelancer, atau stay-at-home-mom. Di grup ini, kebanyakan anaknya baru anak pertama walau ada juga yang anak Juni 2016 nya anak kedua bahkan ketiga.

Saya sih merasa kebantu banget join di grup ini. Yap, buat saya yang merantau dan di Palembang ini ga ada saudara dekat babar blas alias nihil dan ngurusin anak selain sama si Bojo dibantu sama si Nenek, masih banyak hal-hal yang perlu saya cari tahu dan info yang perlu saya dapat. Kadang keluh kesah atau pertanyaan bisa saya tanyain ke keluarga seperti kakak atau ibu saya tapi ya kadang masih kurang saja atau beda pendapat.

Chat di grup ini hampir selalu ramai setiap hari. Bisa ratusan bahkan ribuan kalau ga dibuka dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (heleh). Bahasan ga melulu soal anak, bisa jadi urusan ‘racun’ : peralatan buat bayi – eh anak juga dong bahasannya – (pas awal masuk racun urusan 10-in-1 baby safe), buku (rabbithole dan lain-lainnya), makanan enak (oke saya penasaran es krim brookfarm di Palembang belum ada, kalo Pablo sih di sini ada tiruannya tapi juga belum tertarik nyoba, dan Chatime adalah salah satu racun terbaik grup ini yang bikin tau-tau nge-go-food Chatime) atau racun lainnya (sale di mana gitu, pampers diskonan). Bahasan lain yang bisa bikin rame selain anak GTM (Gerakan Tutup Mulut), BB (Berat Badan) mau ibunya atau anaknya juga dibahas, juga dunia perhosyipan (akhirnyaaa ada temen gosip hahaha).

Beruntungnya saya, di grup ini ibu-ibunya cukup terbuka, ngga baperan, ngga nge-judge paling bener, dan rela sharing info. Berada di grup yang membernya puluhan dengan beragam bahasan tentu bisa jadi pertanyaan yang kita tanyain ga dijawab atau kelewat. So, jangan baper.

Sejak gabung di grup ini, saya ngerasa ga sendirian (yaiyalah rame). Maksudnya, saya ga sendirian ngalamin anak yang kalo makan sama kita cuma secimit sama saya tapi kalo sama pengasuh mau banyak. Saya ga sendirian punya anak yang lagi doyan nangis kalo lagi ganti baju dan nangisnya udah penuh drama korea macam disiksa. Saya ga sendirian bingung tentang imunisasi, obat-obatan, ngebersihin kulkas ASI yang es nya udah banyak sampe ga bisa ditutup. Di grup ini selain saya dapat info, saya juga bisa sharing. Nambah informasi, nambah lingkaran pertemanan (yep walau saya belum pernah ketemu langsung cuma entah gimana saya merasa nyaman di ‘rumah’ ini).

Saya ingat, ada teman yang pernah melihat WA saya dengan grup BCJune16 kaget ternyata ada grup kayak gini. Pernah juga teman nanya untungnya di grup kayak gitu apa. Yep, saya jelasin sih (intinya mirip penjelasan di atas) kalau saya banyak dapat informasi, dapat temen berbagi, intinya saya senang punya supporting group.

Beberapa teman yang hamil dan akan melahirkan atau sudah punya anak pernah saya sarankan ikut Birth Club tapi saya sejak TUM ga ada bahasan tentang Birth Club, dan nyari di Mommies Daily saya bingung (pernah nyoba kirim pesan di forum tapi ga ada tanggapan), dan forum IbuHamil saya ga pernah nyoba, saya bingung juga sih nyari BirthClub gini di mana waktu nyaranin temen-temen saya gabung birth club. Saya aja via instagram ngehubungin adminnya. Kalo ga ada instagram ya bingung juga kali sayanya.

Ada teman yang pernah bilang waktu saya saranin kalau dia takut baper. Yep, ada benernya sih. Di BCJune16 ini alhamdulillah ga ada yang terkesan menggurui. ASI, Donor ASI, Susu Formula semua didukung. MPASI tepat 6 bulan atau sudah icip-icip sebelumnya juga gak masalah. Ada yang share kalau di grup tetangga ada barisan yang sok perfect dan ada barisan sakit hati. Yep, pegangan saya untuk mengikuti grup ramai kayak gini sih emang ‘ojo baper’ alias ‘jangan baper’ sesuai pesan salah satu ibu di grup ini. Kalau pesan udah ratusan bahkan ribuan, mau manjat atau ngga juga balik ke masing-masing pribadi. Mau manjat chat di grup dalam rangka ‘FAT TO FIT’ walau jempol doang yang fit, jadi pilihan saya (soalnya paling ratusan sih kelewatnya secara sering buka whatsapp).

Meet up Bulan Desember, saya ga ada di situ, foto dari grup WA

Grup ini pernah meet up di bulan Desember 2016. Awalnya niat ikutan karena rencana tanggal meet-up itu masuk jadwal di jakarta dalam rangka mudik cuti. Eh, ndilalah cutinya harus geser ya akhirnya batal deh ikutan. Rencananya bulan februari kemarin ada meet-up lagi cuma mungkin banyak kesibukan dan di bulan Juli nanti ada birthday bash alias merayakan 1 tahunan umur para bayi. Kok Juli kan banyakan lahir Juni? Juni kan bulan puasa dan lebaran jadi mungkin aja pada mudik. Berhubung saya jauh, saya cuma bisa pasang tangan buat berdoa, semoga birthday bash nya sukses, sponsornya banyak, dan kalau saya ada rezeki bisa ikutan. Amiiiin.

Menyusui Saat Berpuasa? Amankah ?

Al-Mardawai berkata dalam Al-Inshaf (7/382)

Dimakruhkan berpuasa dalam kondisi seperti ini. Ibnu Aqil menyebutkan, ‘Jika wanita hamil atau menyusui khawatir terhadap kehamilannya dan anaknya saat dia menyusui, maka diharamkan baginya berpuasa, jika tidak khawatir, maka tidak boleh baginya berbuka.’

Sebenarnya, ada beberapa pendapat tentang berpuasa saat hamil dan menyusui. Pada intinya, Islam memberikan kemudahan bagi umatnya, jika tidak mampu berpuasa, wanita boleh mengganti puasanya dengan membayar fidyah. Namun beragam pendapat bermunculan juga, ada pendapat lain yang menyatakan jika wanita tersebut mampu meng-qadha / mengganti puasanya, maka boleh membayar puasa tersebut.

Saya sendiri, pada saat bulan Ramadhan lalu tidak berpuasa sebanyak 28 hari. Ya, saya sempat berpuasa 2 hari, lalu cek ke dokter kandungan karena janin sudah masuk 37 week, obgyn menyarankan untuk lebih baik tidak berpuasa, demi menjaga air ketuban tetap cukup dan persalinan bisa berjalan lancar. Alhamdulillah persalinan lancar seperti yang saya ceritakan di sini. Pada saat itu, saya pun sudah membayar fidyah. Namun, belakangan sejak Mahira memasuki MPASI dan kebetulan jumlah minum ASI cukup berkurang namun secara mililiter bertambah setiap kali minum dan menyusu, serta stok ASI yang masih cukup untuk beberapa bulan ini, saya berpikir untuk mencoba berpuasa. Alasan lainnya adalah saya harus menyiapkan diri menjelang bulan Ramadhan (mengetes kekuatan saya berpuasa agar tidak kaget), serta tentu saja…………..sedikit menurunkan berat badan menuju kebugaran jasmani.

Setelah membaca berbagai referensi, saya mantapkan diri untuk berpuasa kembali dengan beberapa tips dan trik yang saya lakukan agar kuat berpuasa dan kegiatan menyusu tetap lancar. Berikut cara-cara menyusu tetap lancar saat berpuasa :

  • Makan Sehat Ketika Sahur

Seperti yang pernah saya jelaskan di postingan ini, makan adalah salah satu aktivitas penting bagi ibu menyusui. Saat berpuasa, artinya frekuensi makan berkurang, apalagi frekuensi cemilan di siang atau sore hari, jelas hilang karena berpuasa kurang lebih 13 jam. Oleh karena itu, ada baiknya ketika sahur kebutuhan nutrisi baik ibu dan anak harus dipenuhi. Saya sendiri berusaha untuk makan nasi, sayur, dan lauk ketika sahur. Ya memang nafsu makan ketika sahur tentu tidak selahap biasa dan agak malas. Tapi mengingat makanan kita akan berefek pada ASI ya harus semangat buat masak (walau ala kadarnya atau sekedar menghangatkan makanan) dan makan sahur. Sayur dan buah sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu saat berpuasa, karena mencegah terjadinya konstipasi. Selain itu, dengan mengonsumsi sayur dan buah, rasa lapar dapat ditahan sedikit lebih lama.

 

  • Minum Yang Banyak 

Kandungan utama ASI adalah air, selain itu mineral juga sangat diperlukan oleh tubuh. Kebutuhan air orang dewasa adalah 8 gelas per hari (2 liter) dan ini harus tetap dipenuhi saat berpuasa. Sama seperti kebiasaan saat berpuasa (baik menyusui atau tidak), saya selalu berusaha mencukupi kebutuhan air dalam tubuh. Saat sahur saya bisa menghabiskan air dalam 1 botol 800-1.000 ml. Sisanya saya angsur saat buka puasa sampai waktu sahur tiba kembali.

  • Tambah Booster ASI

Selain makan dan minum yang cukup, saya mencoba menjaga kuantitas dan kualitas ASI dengan menambah makan dan minum jenis makanan yang  menurut saya bisa menjadi booster ASI. Untuk makanan, secara spesifik tidak ada karena sayuran yang dimasak saat sahur atau berbuka puasa termasuk yang bisa meningkatkan produksi ASI yaitu bayam, katuk, brokoli. Untuk minuman saya mencoba ASI Booster Tea.

ASI Booster Tea adalah minuman teh pelancar ASI alami pertama di Indonesia yang bisa meningkatkan jumlah ASI. Selain bermanfaat untuk melancarkan ASI, ASI Booster Tea yang mengandung bahan alami (herbal) seperti Fenugreek seed, fenugreek powder, FENNEL SEEDS,Fennel powder, ANISE, cinnam venum, alpinia powder, dan habbatussauda, juga memiliki cita rasa yang unik. Cara pembuatannya pun cukup mudah bisa langsung diminum biasa, bisa ditambah gula, madu, krimer, bisa juga dibuat campuran minuman kesayangan dengan dicampur jus, susu, dibuat milkshake.

  • Istirahat yang Cukup           

Untuk menjaga stamina dan produksi ASI selama berpuasa sambil menyusui, saya memohon ijin kepada anak dan nenek pengasuh untuk istirahat siang. Agar kualitas waktu bersama anak tetap dapat, tentu saja saya beristirahat sambil menyusui dengan posisi berbaring. Ini sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Anak dapat ASI, saya dapat tidur. Oh ya, catatan saat menyusui saat berpuasa adalah keluarkan susu sedikit (pencet sedikit payudara). Menurut nenek pengasuh Mahira sih, karena saya tidak makan apapun harus ada yang dikeluarkan karena itu

 

Beruntungnya saya, setelah melakukan berbagai cara di atas, puasa dan kegiatan menyusui saya berjalan lancar. Namun, jika mengalami dehidrasi, lesu, akan pingsan, atau merasa sakit, ada baiknya hentikan dahulu kegiatan berpuasa. Ingat, anak juga menjadi pertimbangan kita, kebutuhan mereka juga harus tetap kita penuhi bukan?

Selamat menuju bulan ramadhan yang masih 2 bulanan lagi. Semoga ibadah kita lancar semua.

 

Anak Takut Berpisah, Mari Mengenal Separation Anxiety

 

img_6867-676x676

Memasuki usia 6 bulan, ada hal baru yang saya temui pada anak saya, Maheera (sekarang biasa saya sebut Mahire), yaitu ketakutan saat ditinggal. Saat merasa ‘ditinggal’ dia akan menjerit dan menangis. Tapi tidak semua kasus ditinggal sih, kalau ditinggal ke kantor, dia kadang tidak menangis, tapi hanya tampak bersedih, mungkin karena masih ada nenek yang menemani. Ketika berdua dengan nenek, kadang nenek cerita kalau Mahire tidak mau ditinggal padahal nenek mau masak atau sekedar buang air, langsung drama dimulai. Kalau waktu saya ada di rumah juga begitu, geser sedikit aja udah menjerit padahal cuma ambil air minum di meja, hebohnya udah kayak disiksa. Kadang sampai harus cepat-cepat saat mau melakukan sesuatu. Bahkan, kadang walau ada ayahnya, saya mulai beranjak dari kasur, dia bias langsung menjerit. Belum lagi ketika dia bangun tidur, sepertinya kalau saya (selaku orang yang menidurkan dan tidur di samping dia) tidak ada, dia langsung mencari-cari dan menangis.

Terus kenapa? Saya ga mau anak kayak gitu? Ga seneng?

Tentu di samping perasaan kesal (ya ampuuun, Mahire ibu mau ambil air doang di meja), takjub (iya takjub gini amat ya ternyata anak nangis), kaget (Mahira nangisnya ngagetin kayak disiksa kesakitan), ada perasaan senang dan bangga, bahwa artinya hubungan yang saya bangun dengan anak artinya baik, dia tidak mau terpisah jauh dari saya.
Kebetulan ada teman di Grup Birth Club June 2016 sharing tentang hal tersebut dan belajarlah saya tentang Separation Anxiety.

Apa itu Separation Anxiety?

Separation anxiety adalah rasa ketakutan untuk berpisah dan tak ingin ditinggal.

 

Mengapa Separation Anxiety terjadi ?

Ketika anak memasuki usia 6 bulan, anak mulai menyadari bahwa orang tua (khususnya ibu) dan dirinya adalah dua individu yang terpisah. Anak akan mulai tersenyum senang dan minta digendong. Yaaa, Mahire sih ga gini-gini amat, Alhamdulillah dia pinter, maunya sama yang dikenal aja.

Secara perlahan, orang di dekat anak menjadi favorit anak, salah satunya tentu ibu yang selalu menyusui atau berada dekat dia. Ketika terbentuk orang favorit di benak si anak, mulailai ia akan menangis dan rewel jika orang tersebut ke luar ruangan atau menghilang.

Normal kah anak mengalami hal ini?

Berdasarkan penelitian psikologis, hal ini wajar terjadi pada bayi dan merupakan fase perkembangan yang normal. Bahkan, nenek yang membantu menjaga Mahire bilang, anak ini sudah pintar, sudah mengerti kalau orang pergi. Jadi perilaku anak seperti ini sebenarnya normal, dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Perasaan takut berpisah sebenarnya merupakan pertanda betapa kuatnya ikatan orangtua dengan si kecil. Namun di satu sisi, kita juga ingin agar si kecil dapat menjadi lebih mandiri dan terbiasa dengan kegiatan orangtua yang tanpa melibatkannya, seperti bekerja.

Kapan Separation Anxiety terjadi? Berapa lama fase ini?

Umumnya, perasaan sulit berpisah terjadi saat bayi mulai menginjak usia 7 – 10 bulan, namun variasi rentang usia dimulainya separation anxiety sangat beragam. Pada kasus saya, di usia 6 bulan, Mahire sudah mulai mengalaminya, namun ada kasus anak mulai mengalami fase ini saat menginjak 18 bulan. Selain variasi timbul ketika awal mula usia mengalami fase ini, rentang waktu (lamanya) anak mengalami fase ini juga akan berbeda-beda. Biasanya fase separation anxiety ini berakhir ketika anak memasuki usia sekitar 18 bulan sampai 2,5 tahun. Untuk Mahire, fase ini masih berlangsung hehehe. Nanti kalau sudah selesai akan ada update lagi

Bagaimana Orang Tua Menghadapinya?

Di masa ini, tentu beragam emosi muncul. Seperti yang saya rasakan ada bahagia dan puas karena merasa Mahire mulai punya rasa ketergantungan pada saya. Tapi ada juga perasaan kesal karena ingin memiliki me-time, walau berujung rasa bersalah karena ingin memiliki me-time sendiri. Yang harus diingat adalah ketidak inginan anak berpisah dari anak merupakan adanya hubungan yang sehat terjalin di antara ibu dan anak. Perihal me-time, hehehe, saya juga masih labil. Kapan-kapan dibahas.

Pada fase ini, anak mulai membangun kemandirian, namun di saat yang bersamaan, ada rasa ketakutan yang muncul karena anak menyadari dia tidak bisa melakukan sendiri, ditambah lagi perasaan dia tidak ingin sendirian.

Berdasarkan artikel yang saya baca, pada fase ini, sebagai orang tua, kita dapat mengajarkan kemandirian sekaligus meyakinkan anak agar tetap merasa aman dan nyaman. Lama kelamaan anak akan memahami bahwa ibu akan selalu kembali setelah pergi dan anak akan tetap merasa nyaman apabila tidak bersama ibu. Hal ini membantu anak belajar mengatasi rasa takut pada perpisahan dan membangun kemandirian.

Terkait hal ini, yang saya rasakan, Mahire cukup mengerti urusan berpisah dengan saya, jika saya kerja (ya atas bantuan ada nenek juga). Tapi untuk berpisah di saat lain masih belum bisa sih.
Fase separation anxiety akan hilang dengan sendirinya seiring anak bertumbuh besar.
Namun ada hal-hal yang bisa dilakukan supaya fase ini dapat diatasi dengan baik (ini juga saya coba terapkan).

  • Kenali waktu yang tepat

Apabila ibu berniat menitipkan si kecil pada pengasuh di rumah atau di daycare, sebaiknya dilakukan sebelum fase ini muncul, sehingga dia sudah mulai terbiasa. Saat meninggalkan anak, pastikan asupan kebutuhan tetap terpenuhi serta usahakan jangan meninggalkan anak dalam kondisi lapar atau mengantuk.

  • Membiasakan diri

Ini penting baik untuk saya maupun anak tampaknya. Saya baru membiasakan meninggalkan dia saat bekerja sih. Jika bekerja lebih dari waktu biasa, atau saya ijin keluar di waktu tertentu baru mencoba kadang-kadang. Bukan niatan jelek ya, cuma ya saya kadang ingin membiasakan Mahire sama ayahnya berdua gitu. Jadi orang favorit si Mahire ya ga cuma saya dan nenek, tapi ayahnya juga.

  • Tetap tenang dan konsisten.

Saat berpisah, lakukan ritual yang menyenangkan. Ibu harus tenang dan percaya diri di depan anak, yakinkan anak kalau ibu kembali setelah urusan, berikan penjelasan kapan ibu akan kembali.

  • Penuhi janji

Pastikan ibu kembali di waktu yang di janjikan pada anak. Ini sangat penting karena dapat membantu anak membangun rasa percaya diri bahwa ia bisa mengatasi rasa kesepiannya selama berpisah dari ibu.

Selain beberapa hal di atas, saya juga melakukan beberapa hal berikut :

  • Beri pengertian dan penjelasan kenapa orang tua harus pergi. Ada beberapa artikel yang menjelaskan bahwa anak (batita atau balita) dapat diajak berkomunikasi. Saya mencoba memercayai hal ini dengan menyampaikan di awal kembali kerja (pada saat selesai cuti dan harus kembali kerja) bahwa saya harus bekerja bersama ayahnya dan Mahire akan dijaga nenek. Biasanya sebelum anak tidur, saya juga membisikkan bahwa saya besok akan bekerja dan pada saat pagi harinya saya berpamitan kalau saya akan bekerja dan pulang jam sekian. Ada pengaruh? Ya sampai saat ini kalau saya pamit bekerja, Mahire diam saja, menangis sih tidak, tapi belum mau diajak bersalaman. Ini dia sedih ga ya ditinggal?
  • Pamit dan lambaikan tangan saat berpisah. Saya berusaha untuk tidak pergi diam-diam demi menghindari drama tangis.Ternyata, pergi diam-diam dapat menghilangkan kepercayaan anak terhadap orangtua, dan anak akan merasa dibohongi. Pergi diam-diam juga mengakibatkan bertambahnya ketergantungan anak yang sebenarnya berakar dari rasa tidak percaya pada diri sendiri dan orang terdekatnya.
  • Latih dengan permainan atau kegiatan yang membuatnya tidak terus menerus berada di dekat kita. Biasanya, saat saya mencoba memasak, dia akan saya letakkan di ember besar (bahasa jawa sih jolang) yang berisi bola atau mainan sambil kadang memanggilnya dan mendekati. Tujuan saya adalah membiasakan anak agar memahami bahwa saya harus melakukan hal lain tapi tetap berusaha ada untuknya. Ya memang tidak selalu berhasil sih, kadang ujung-ujungnya kalau nangisnya dahsyat ya harus kita hentikan aktivitas lalu menenangkan dia dahulu.
  • Mencoba tegas dalam waktu tidur. Saat tidur juga merupakan latihan berpisah sementara. Untuk sebagian anak yang mampu menyadari ini, anak bisa jadi menolak tidur. Mahire pun kadang demikian, mengajak bermain (apalagi ketika dia memang sudah tidur di waktu petang), namun saya berusaha tegas dengan mengajak dia tertidur, ya kadang dengan cara menyusui sambil mengepit (menjepit seperti guling) agar dia tidak bergerak bebas (lalu duduk dan mengajak bermain, ini artinya siap-siap menahan kantuk kitanya) atau pura-pura lelah dan berkata saya akan tidur duluan ya (saya masih ragu ini cara yang baik atau tidak sih karena kadang saya berkata “Mahire, Ibu sama Ayah tidur duluan ya, kalo Mahire ngga tidur mainnya sendiri loh”).
  • Tidak berlama-lama pada saat pamit. Untuk orang yang tidak suka basa basi dan kadang mungkin ‘tidak ada hati’, setiap berpamitan dengan dia saya selalu cepat (alasan lain adalah : takut telat). Biasanya saya mengajak dia bersalaman (yah, walau ga diwaro alias dicuekin), cium pipi kanan-kiri, kadang saya peluk (kalau pas ga digendong nenek), sambil bilang “ibu kerja dulu ya, Mahire sama nenek, yang pinter ya. Assalamualaikum”, lalu dadah-dadah (kayaknya juga ga diwaro karena dia belum terlalu bisa dadah dadah sih).
  • Selalu tepati janji. Saya berusaha pulang tepat waktu (yah kadang telat kalau jemputan alias ayahnya Mahire telat pulang atau kalau memang ada tambahan pekerjaan yang menuntut saya telat). Ketika saya pergi di lain waktu, saya berusaha mengestimasi total waktu berpisah sehingga ketika saya pamit saya bisa berkata “Ibu akan pergi … jam ya, nanti jam…. Ibu pulang lagi”.
  • Tidak menolak ketika dia ingin kembali bersama kita. Biasanya ketika saya pulang, Mahire akan tersenyum dan tertawa bahkan bersuara antusias. Butuh waktu untuk berganti baju dan membersihkan diri, setelah itu baru saya hampiri dan peluk dia, ajak dia bicara. Intinya, tetap disapa walau ga bisa langsung mendekat (masih bau udara luar), setelah itu langsung dekatkan diri ke anak.

Selama hampir 9 bulan ini, dalam kasus meninggalkan anak di waktu lama (bekerja), saya rasa apa yang saya lakukan sudah cukup membentuk Mahire percaya ada orang lain selain saya (yaitu nenek) yang bisa ia percaya. Namun, untuk pergi di waktu yang singkat-singkat seperti mengambil minum, ke kamar mandi, sholat, kadang masih terjadi adegan jerit menjerit. Urusan sholat saja kadang harus di dekat dia agar dia melihat bahwa saya ada. Ya hitung-hitung sih sekaligus pelajaran untuk dia ada waktu tertentu untuk ibadah namanya sholat. Cuma tambah ga konsen aja sih kadang kalau si Mahire ngoek nangis.

Lalu bagaimana? Ya terus mencoba saja. Secara kodrat sih, memang seharusnya waktu saya sebagai ibu untuk dia ya (walau kadang ada ‘nyeleweng’nya dengan main hp), tapi, sangatlah wajar juga seorang ibu meminta time-out untuk sekedar minum dan  ke kamar kecil, apalagi secara kodrat ibu juga seorang istri yang harus memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain, jadi tetap harus bisa memberikan latihan berpisah kepada anak.

image566560

Sumber Bacaan :

http://www.zwitsal.co.id/bayi/separation-anxiety/?alt0

http://lactamil.co.id/artikel/separation-anxiety-saat-bayi-sulit-berpisah-dengan-mama

http://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Tips-si-Kecil/1-3-Tahun/Separation-Anxiety-Penyebab-dan-Tips-Mengatasinya

http://pondokibu.com/separation-anxiety-jangan-pisahkan-aku.html

Tips (Ngawur) Menyusui

https://flic.kr/p/SgMrKN
Hehehe, iya saya ketawa nyengir dulu deh (diwakilin sama Mahire). Jadi gini sebelumnya saya posting tentang pilihan (dan doa) menjadi Ibu ASIx. Nah, dalam perjalanannya tentu ada naik turun atau hal-hal yang terjadi. Dari pengalaman saya sih : PD bengkak karena produksi yang cukup tinggi, nipple lecet, produksi naik turun . Kalau cerita orang lain yang saya baca dan orang pernah cerita langsung, ada yang awal-awal ASI belum keluar, flat nipple, dan beragam problema lainnya yang bikin galau nyut-nyut kepala. Saya mau coba share pengalaman aja, sekaligus reminder buat saya sendiri kalau pada saatnya nanti saya diberi berkah untuk punya anak lagi semoga proses menyusuinya juga lancar.

Kenapa ada kata-kata ngawur? Karena ya tips ini emang ala-ala saya yang suka ngawur dan sesuka jiwa aja. Dipercaya ya monggo, ngga ya gapapa.

Jadi ini tips dari saya sebelum melahirkan dan setelah melahirkan (saat mulai menyusui).

Oh ya, jangan lupa niat dan doa. Hehe penting sih menurut saya ini, saya dulu mengucap niat dan doa serta kasih tau janin dalam perut dengan bilang, ” Semoga nanti ASI ibu lancar ya, kamu bisa menyusu ASI, ibu sehat, kamu sehat. Kalau bisa ASI aja ya nak, susu formula agak mahal, mending buat beli yang lain #eh (Semoga anaknya ga stress ya diajak prihatin)” terus minta dukungan dari lingkungan kalau kita niat menyusu ASI. Ya kalau ada yang ga setuju terima aja, tapi bilang hargain niat kita ya, jangan rese. Hehe, jadi ngalor ngidul. Terus tipsnya apa? Ini dia…..

 

 

 

 

Sebelum Melahirkan

 
Bersihkan Nipple alias Puting, sejak mulai trisemester ketiga kehamilan



Berdasarkan info dari orang tua, saudara, teman, dan tenaga medis serta brosur RS Hermina Palembang, kita boleh mulai rutin membersihkan puting dengan minyak (saya pakai VCO). Gunanya adalah membuka saluran ASI di puting agar lebih mudah keluarnya. Pembersihan bisa dilakukan seminggu sekali (kalo saya ya), dengan menggunakan kapas yang diberi minyak VCO lalu dioles-oles saja ke puting. Ngefek? Alhamdulillah ngefek di saya karena di minggu 36 atau 37 gitu,ASI saya sudah mulai keluar. Pembersihan dilakukan pelan-pelan ya, jangan sampai terjadi rangsangan yang memicu kontraksi pada janin.

 

 

 

 

 

Setelah Melahirkan (Masa Menyusui)


Makan!

Nah, banyak yang bilang ada beberapa sayuran yang menambah produksi ASI seperti daun katuk, bayam, dan jantung pisang. Ada juga yang bilang Sop IGA sapi bisa jadi nambah ASI. Mungkin istilah kece jaman sekarang Booster ASI. Bahkan sekarang banyak yang bikin booster ASI baik teh maupun susu atau campuran lain. Buat pemakan segala kayak saya sih, bener loh itu ngaruh semua. Ya tapi ga bisa saya benarkan, wong semua masuk saya bahagia.

 

Pesan ibu saya, kalau pagi usahakan minum yang hangat seperti teh atau susu. Kalau iseng, kadang saya minum Vsoy MultiGrain yang menurut saya ngefek juga sih buat ASI. Vsoy Multi Grain itu beda sama susu kedelai biasa, ada beragam biji-bijian yang entah gimana formulanya jadi enak deh. Cocok juga buat ibu hamil untuk nambah gizi. Loh kok promosi.

Di awal lahiran saya dimasakin ga selalu katuk atau bayam. Campur-campur aja kayak hari biasa. Kebetulan kan ibu saya emang nemenin dari lahiran sampai 1 bulan,ya namanya anak rantau ketemu masakan ibu, bahagia dong pastinya. Oksitosin nambah itu bonus.

Nah ada catatan nih, Hormon yang memiliki pengaruh dalam produksi ASI ada 2, Prolaktin dan Oksitosin. Prolaktin yang bertugas reload asi dan oksitoksin yg bertugas mengeluarkan asi. Kalo boosterbooster yang diminum biasanya ngefeknya ke prolaktin sementara oksitosin biasanya lebih ke psikis. Kalo misal ASI banyak diambil (entah nenen atau mompa) bakal sering reload itu artinya hormon prolaktinnya bekerja dengan baik.

Saya sih ngerasa berhubung saya pemakan segala, ASI bisa lancar karena pas awal-awal produksi ASI banyak kan anaknya bentar-bentar nyusu dan saya juga mompa, ditambah lagi makan masakan ibu yang bikin bahagia dan ada gizinya.

Setelah ibu saya pulang, alhamdulillah nenek yang bantu ngejagain Maheera masaknya juga enak, jadilah saya tetap makan bergizi dan bahagia.

Di akhir pekan, atau malam kalo lagi bosan, kadang saya juga jajan atau pesan fast food. Gak sehat? Saya percaya semua makanan ada manfaatnya, kalo ga sehat ya dia bikin bahagia. Sesat! Tapi kan ga sering-sering juga. Cuma selingan gapapa. Apalagi kalo harganya mahal trus ada promo, gapapa kali, udahan enak kita bahagia bisa makan enak harga murah.

img_5199-676x676

Kesimpulan dari saya : Makanlah yang bisa membahagiakan, kalo bisa yang ada gizinya. Kalo ga bisa? Yang ada promonya deh.

 

img_5234-676x450

Tips : Setelah melahirkan ada baiknya makan ikan gabus (bisa diolah dalam bentuk pempek). Apa manfaatnya ? Ikan gabus membantu pemulihan pasca dijahit-jahit (baik spontan maupun c-sectio ada proses dijahit kan ya? Saya spontan ada sih dan tetep aja ngerasa nyeri, di hari ke-4 makan pempek ikan gabus, hari ke-5 udah enakan), ikan gabus bergizi, dan jika diolah jadi pempek membahagiakan saat dimakan. Bisa buat cemilan sambil nenenin. Gak suka pempek? Yaudah olah aja ikan gabusnya jadi apa gitu.

Positif Thinking dan Jangan Stress

Stress setelah melahirkan? Baby blues? Iya pasti lah, ngga mungkin ngga. Tinggal kitanya aja dibawa beneran stress atau tenang, atau malah ngerasa ngga padahal iya (ini sih saya, suka sok asik santai-santai, padahal baper diam-diam).

Kebetulan saya sih stressnya bukan karena si bayi, Alhamdulillah anaknya baik banget di awal-awal dulu (yep, nangis juga ya standarlah marah marah ngompol diganti dan nangis keras, tapi ga terlalu rewel malam-malam, saya masih bisa tidur, urusan nyenyak ga nyenyak ga tau juga deh). Stressnya malah dari hal-hal lain (rahasia ah) tapi untungnya ga lama. Sambil dibawa santai dan ngesosial media (stalking lambe dan seseakun lain dong…), alhamdulillah masih lancar ASInya, cuma ya kalo dipompa ga banyak-banyak amat.

Pokoknya harus dibawa bahagia deh, alhamdulillah sih ya saya dapat yang ngasuh Mahire jago masak, jago ngurus anak, tiap istirahat atau pulang kantor udah ada makanan enak. Saya termasuk bahagia ga ketemu drama ART, walau kadang misuh-misuh ketemu drama lainnya. Ya untung-untungan ya urusan ART ini. Kalo dapat yang membahagiakan (rejeki Mahire banget), ya Alhamdulillah, ngaruh ke ketenangan hidup dan kelancaran perASIan.

Di kantor juga pasti ga selalu bahagia ada kerjaan yang bikin mencucu, tapi yaaa kayak gitu dibawa santai aja. Apalagi banyak makanan di kantor, mencucu gitu kadang sambil ngunyah jadi bahagia lagi. Mureeeee amat bahagianya cuma urusan perut.

 

img_4345-676x901

Oh iya, saya kalo pumping ngga nargetin sih, cuma sambil doa moga cukup moga cukup. Jadi kalo hasilnya cuma dikit yowes, tetep disimpen aja di plastik kecil (gabag 100ml). Kalo banyak alhamdulillah, simpen di plastik yang gede (gabag 180ml).

 

https://flic.kr/p/SgMqZ9
Kesimpulan dari saya : Kalo lagi sebel, ngomel gapapa, cuma jangan kelamaan. Kalo bisa dibawa nyantai jangan baperan. Kalo mau baperan marah-marah kalo bisa di waktu bayi abis nenen. Jangan nenenin kondisi emosi, hindarin pumping kalo emosi, daripada baper hasilnya dikit.

Komunikasi sama si anak bayi

Saya sering bilang Maheera “nenen sama ibu ya yang tenang, yang banyak, semoga ASI nya lancar terus dan cukup buat Maheera”.

Terus juga saya kadang bilang kalo ga sempet atau malas pumping, “Maheera tolong ibu ya, bantuin kosongin nen ibu, biar nanti lancar terus nennya”. Ya Alhamdulillah, selama ini tetep lancar. Bener atau ngganya sih hehehe, mbuh.

Konsumsi suplemen

Sama seperti bagian Makan! yang bisa jadi booster, ini adalah booster lain lagi. Sebelum lahiran saya dapat suplemen yang bisa melancarkan ASI yaitu Lactamor, di pasaran ada juga merek Milmor.

 

https://flic.kr/p/SN23Eh
Saya stop konsumsi di hari kedua pasca melahirkan karena ASI termasuk lancar, tapi kalau ngerasa butuh saya kadang konsumsi ini juga karena ga nyetok booster ASI. Sayangnya kadang ada yang ga cocok dengan kandungan suplemen dan bisa bikin eneg juga minumnya.

Rajin Perawatan

Kalo ini kebetulan nenek yang ngasuh Maheera punya tetangga yang bisa mijat bayi dan ibu pasca lahiran. Akhirnya saya sama Maheera rutin pijat sebulan sekali dan salah satu bagian yang dipijat adalah PD. Si mamak pijet ini lumayan bantu ngilangin grenjel-grenjel di PD biar lancar lagi. Selain itu kalo pas mandi juga bisa loh diputar-putar PD nya dengan telapak tangan atau kadang dikompres air anget dan dingin. Oh ya, dipijat tengkuk sama suami juga bantu melancarkan hormon oksitosin yang bikin kita tenang dan ASI lancar.

 

Pumping di waktu yang aneh dan sambil nenenin

 

img_7208-676x676

Seringnya setiap pumping saya ga pernah lebih dari 90ml. Kadang bisa sih nyampe 120-150ml tapi perlu bantuan tangan merah-merah. Tapi pernah juga sih nyampe 180ml bahkan lebih, caranya? Pumping di tengah malam atau waktu subuh. Di waktu-waktu tersebut produksi cukup banyak (mungkin akibat tidur yang cukup ya). Kalo pas anak bangun, coba juga pumping sambil nenenin, jadi anak dapat jatah langsung juga dapat jatah buat disimpan di freezer.

Hehe itu sih tips ngawur dari saya. Dipercaya dan dicoba boleh, ngga juga gapapa.

 

image566560

Jadi Ibu ASIx

Sejak sebelum menikah dan memiliki keponakan dari kakak saya, saya sudah diberi ‘wejangan’ oleh ibu dan kakak saya tentang ‘kalau nanti punya anak dikasih ASI’. Seiring dengan hal tersebut, banyak para ibu-ibu muda di kantor yang sedang marak-maraknya pumping dan memperjuangkan ruang menyusui di kantor. Dulu saya tidak terlalu peduli. Yang saya tau sekedar ASI itu penting untuk bayi.

Setelah hamil dan punya anak, banyak artikel dan literatur yang saya baca mengenai baiknya pemberian ASI (Air Susu Ibu) kepada anak. Banyak juga kampanye-kampanye yang digalakan tentang baiknya ASI. Ada pula kelas menyusui baik dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) atau AFB (ASI For Baby) maupun kelas prenatal di rumah sakit yang diselipkan materi pentingnya ASI. Di sosial media (twitter), bahkan ada akun @ID_AyahASI untuk para ayah yang mendukung gerakan menyusui, yang sudah menghasilhan buku Ayah ASI (saya dapat lungsuran buku ini dari kakak saya). Kantor saya pernah mendatangkan relawan dari @AFBSumsel untuk memberikan informasi tentang ASI.
Menyusui ASI atau kini istilah kerennya adalah MengASIhi menjadi pilihan saya. Kenapa?

  1. Alasan pertama adalah terdapat pada Al-Quran, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,” (QS al-Baqarah [2]: 233). Mungkin itulah muncul adanya ASI ekslusif 6 bulan (sesuai anjuran WHO dan pemerintah, yang kalau lulus biasa dibilang lulus S1 ASIx), 1 tahun ( yang kalau lulus dibilang lulus S2 ASIx), dan 2 tahun (S3 ASIx). Saya sendiri berniat bisa menyusui sampai 2 tahun. Semoga saja (amin).
  2. Alasan kedua adalah ASI memiliki kandungan yang baik dan menyehatkan. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kandungan nutrisi ASI secara umum terbagi atas dua macam, yakni nutirisi makro dan nutrisi mikro (mikro nutrien). Yang disebut pertama terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak, sedangkan yang kedua adalah vitamin dan mineral.
  3. Alasan ketiga adalah Hemat. Ya niatnya adalah hemat, karena dengan menyusui langsung saya berfikir tidak akan membeli susu formula untuk bayi. Tapi nyatanya tetap ada investasi yang diperlukan dalam proses ‘Penghematan’ ini. Investasi setiap ibu akan berbeda-beda tergantung kondisi. Investasi saya terdiri dari:
  • Pompa ASI.

Pompa ASI yang saya beli awalnya adalah Pompa manual Avent tipe lama. Melihat kakak saya yang oke-oke saja pakai pompa manual saya jadi beli yang manual.

Lalu saat Maheera terkena kuning di hari ke 15 hidupnya saya bertemu sesama ibu yang anaknya kuning dan dia pakai pompa elektrik. Sirik? Iyes. Akhirnya kabita dan beli online Pompa Elektrik Spektra. Semua pompa saya pakai akhirnya, yang manual buat pumping santai di rumah, yang elektrik seringnya dipakai di kantor karena bisa double pump.

  • Botol dan plastik ASIP

Ini penting untuk wadah hasil perahan ASI. Walau Botol Kaca direkomendasikan oleh para konselor ASi, saya lebih banyak menyimpan di plastik ASIP, merek favorit saya sih Gabag. Harganya relatif sekitar 45-55 ribu untuk isi 30. Pilihannya juga ada 2 ukuran yang besar (s.d 180ml di ukuran luarnya) dan ukuran kecil newborn (s.d 100ml). Kalau hasil perahan lagi sedikit, ya saya pilih yang newborn, biar berasa penuh. Botol kaca cuma bisa menampung 100ml. Memang benar, lemak ASI di botol kaca akan lebih tidak bersisa saat dipindahkan ke botol dot. Tapi mengingat ASI saya yang (alhamdulillah) cukup, saya milih banyak menyimpan di plastik ASIP karena di freezer lebih muat banyak (ga makan tempat).

  • Freezer ASI

Niat awalnya adalah menyewa, tapi ternyata ga dapat sewaan. Akhirnya? Ya beli Freezer merek Aquos Sharp, bukaan depan dengan 6 rak. Kenapa bukaan depan? Karena secara ukuran lebih muat di rumah saya yang mini dan rasany lebih gampang mengaksesnya dibanding yang bukaan atas. Freezer ASI cukup penting untuk saya yang bekerja dan harus nyetok banyak ASI. Dan sehubungan kulkas yang biasa freezernya sering penuh sama bahan makanan, saya pilih memisahkan Freezer khusus ASI.

  • Botol DOT atau gelas cup

Maheera dari kehidupan di hari ke 15nya sudah kena dot, waktu harus masuk ruang NICU untuk disinar karena kuning. Setelah itu, saya akhirnya memutuskan memakai dot, dengan berbagai risiko akibat penggunaan dot yang tentunya harus diterima oleh saya sebagai ibu. Syukurnya, Maheera sampai saat ini belum mengalami bingung puting. Saya rasa dia mengalami bingung dot di hari Senin, karena pada hari Sabtu dan Minggu ketika saya libur tentu dot nya berhenti dan menyusu langsung dari ‘gentongnya’. Konselor ASI akan menyarankan gelas sloki, softcup, feeder cup, spuit, atau sendok sebagai media untuk memberikan ASI. Saya pernah mencoba, dan syukurnya Maheera bisa. Tapi atas dasar pertimbangan perlu kesabaran dan effort ekstra, akhirnya pemberian ASI kembali menggunakan Dot. Untungnya ketika MPASI, Maheera bisa minum air mineral / air bening dari gelas cup kecil sebagai dasar latihan dia minum dari gelas. Saya setuju dengan konselor ASI yaitu pada dasarnya manusia akan lebih sering minum dari gelas, dan ga ada namanya bingung gelas. Tapi, semua kembali ke kondisi masing-masing. Harga botol dot juga ga murah-murah amat ternyata (ya tergantung merek sih). Yang saya punya Pigeon, Avent, dan Dr.Brown (hadiah kuis, dan ga kepake karena tinggi banget 240ml)

  • Sterilizer

Awalnya saya beli sterilizer uap merek Avent. Tapi sehubungan dengan sering cuci botol langsung di sterilkan supaya cepat ditaroh biar kering, akhirnya saya milih sterilkan dengan air mendidih atau air panas. Lebih simpel. Ya balik lagi semua ke kondisi di rumah masing-masing.

  • Perintilan lainnya

Seperti sikat botol dot, capitan untuk botol dot setelah disterilisasi, dot ukuran berbeda setelah usia bayi bertambah, Cooler bag beserta icegel untuk menyimpan perahan di kantor.


Perintilan yang ternyata tidak perlu menurut saya adalah Warmer botol ASI, karena lebih murah beli wadah logam (aluminium) lalu isi air panas dan tinggal hangatkan botol di situ. Menurut bidan yang memberikan kelas menyusui, warmer suhunya makin lama makin meningkat dan panasnya justru bisa merusak ASI.

Oh ya, konon katanya, dengan menyusui, bonding ibu ke anak menjadi lebih erat. Ini jadi alasan keempat saya memilih memberi ASI. Namun ada saatnya bayi akan mengalami milestone separation anxiety yang artinya takut ditinggal atau berpisah dengan ibunya. Jadi, bukan berarti tidak menyusui ASI anak akan jauh dari ibunya. Tentu proses bonding anak dan ibu tidak sekedar menyusui saja, tapi juga bermain dengan anaknya, bercerita, dll. Omong-omong, kosa kata yang lebih sering Maheera ucapkan juga “yaa,yaaa,ayaaa” bukan ibu atau nen atau nyusu atau gentong (frasa-frasa yang saya pakai kalau waktu memberi ASI tiba).

Walaupun demikian, kondisi setiap ibu, anak, dan keluarganya akan berbeda, maka sebenarnya menyusui ASI atau tidak itu akan kembali ke masing-masing orang. Saya tak punya hak atau belum dalam tingkat menggurui bahwa memberi ASI itu wajib. Saya hanya bisa bercerita tentang saya sendiri dan saya mencoba memahami kondisi orang lain yang mungkin berbeda. 

Saya sendiri, sampai saat ini merasa bersyukur masih diberikan kelancaran, walau kadang rasa malas pumping itu ada dan lebih nyaman menyusui langsung sebenarnya (padahal itu ga bagus juga mengingat semakin lama produktivitas mungkin saja makin menurun). Saya bersyukur, walau media penyimpanan ASIP saya pakai plastik yang dibilang lemaknya masih banyak ketinggalan, berat badan Maheera mengalami progress kenaikan yang cukup baik. Saya bersyukur, walau dikasih ASIP dengan botol dot, Maheera masih mau menyusu langsung dari sumbernya. Jujur, Maheera pada saat usia 5 bulan 2 minggu saya coba beri makanan. Jadi apakah dia lulus S1 ASI ekslusif ? Menurut saya sih iya, kalau orang lain bilang ngga ya udah.


Ya, semoga saya ASI saya tetap lancar, Maheera tetap mau menyusu langsung dan dari botol DOT atau gelas (kalau saya lagi ga bisa menyusui langsung), rezeki buat bayar listrik tetap lancar, rezeki buat makan enak (booster ASI kan kebahagiaan) tetap ada. Semoga dengan kenikmatan yang diberi saya tetap diingatkan supaya tidak menjadi kufur nikmat. Semoga saya tidak menjadi ibu-ibu sombong dan nyinyir.