4 Oleh Oleh Khas Bali Anti Ribet Anti Remuk

Sering banget gak sih kejadian kalau kita liburan ditagih oleh-oleh sama teman atau keluarga. Apalagi kalau mereka tahu kita liburan ke mana. Langsung deh, ya nitip ini itulah, harus di sini belinya lah, macem-macem. Ya, kalau kita orangnya cuek sih bisa aja gak bawain oleh-oleh. Tapi kan, ga enak ya ditagihin trus berujung dibilang pelit.

Ada banyak alasan sih kenapa orang gak mau bawa oleh-oleh. Bisa jadi, emang males belinya. Ada juga yang ngerasa repot urusan pengemasannya, takut rusaklah. Atau emang bawaan kita udah banyak jadi males nambah-nambah lagi.

Buat temen-temen yang punya rencana ke Bali dan khawatir bakal ditagih oleh-oleh. Aku coba kasih saran beberapa oleh-oleh khas Bali yang bisa dibawa, mudah dikemas, dan anti remuk. Oleh-oleh ini cukup istimewa loh.

  1. Kopi Bubuk

Biji kopi yang ditanam di Bali memiliki keistimewaan tersendiri. Ciri khas seperti aroma dan juga rasa yang dimiliki kopi Bali juga berbeda. Jika kamu ingin membawa oleh oleh khas Bali yang praktis, hampir semua orang suka dan pastinya gampang dibawa maka kopi bubuklah jawabannya. Ada beberapa pilihan merek dan tempat membelinya, masing-masing punya keunikan tersendiri. Tinggal disesuaikan dengan mana yang paling mudah kamu jangkau untuk lokasi pembeliannya.

Black Eye Coffee

Black Eye Coffee : https://www.instagram.com/bima_suparta/

Black Eye Coffee yang berasal dari Bedugul ini bisa menjadi pilihan oleh-oleh. Bedugul terkenal dengan udara dingin serta pemandangannya yang menawan. Bayangkan menikmati secangkir kopi yang hangat di tengah hawa pegunungan yang sejuk plus hamparan pepohonan hijau di sekitar? Bawalah pengalaman ini dalam sebungkus kopi bubuk yang diproduksi oleh Black Eye Coffee. Variannya ada banyak dan juga toko penjualannya juga ada di mana-mana. Salah satu toko besarnya ada di Jl. Sunset Road No.168, Kuta, Kabupaten Badung, Bali .

Revolver Espresso

Revolve Espresso – https://www.instagram.com/revolverespresso/

Jika kamu mengikuti akun Instagram Influencer seperti Eat and Treats (@eatandtreats) dan Anastasia Siantar (@anazsiantar) maka Revolver Espresso bukanlah ‘hal baru’ bagimu. Kafe kecil ini konon menjual espresso paling enak di Bali. Kamu bisa mampir ke kafenya yang berada di Jalan Kayu Aya, Seminyak dan Jalan Petitenget, Kerobokan Bali untuk mencicipinya sendiri. Jangan lupa beli dalam versi bubuk untuk dijadikan oleh-oleh. Kemasannya elegan dan khas, pasti senang deh yang dibawakan.

Bhineka Djaja

Bhineka Djaja – https://www.instagram.com/ariskurniawan_80/

Penggemar kopi sejati nggak bakalan melewatkan Bhineka Djaja sebagai salah satu destinasinya saat liburan ke Bali. Coba sendiri kopi bubuk andalannya seperti varian Arabica yang bikin kamu nggak bisa move on dari kedai kecil di Jl. Gajah Mada No.80, Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar ini. Bawakan beberapa bungkus untuk oleh oleh khas Bali andalan, dijamin nggak menyesal! Kemasannya juga kuat dan ringkas jadi anti rusak deh.

  1. Cokelat

Bicara tentang cokelat, lupakan dulu merek yang kerap kamu beli sebelumnya. Bali punya beberapa merek camilan favorit perempuan ini yang diproduksi dari biji kakao asli Bali. Meski kelihatannya ribet membawa makanan manis satu ini tapi ada triknya kok. Pilih yang kemasannya kaleng atau bawa saja bubuk minuman atau permen cokelat. Di mana belinya?

Pod Chocolate

Pod Chocolate – https://www.instagram.com/podchocolate/

Merek satu ini sudah begitu terkenal sampai-sampai kini sudah dijual di beberapa minimarket yang ada di Bali. Memang rasanya lezat dan juga kini ada kafenya lho! Alamatnya ada di Jl. Tukad Ayung, Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali . Kamu bisa berbelanja aneka varian cokelatnya yang beda dengan merek lain seperti salted peanut, honeycomb dan cranberry. Kalau ingin beli yang isinya nggak gampang hancur, bisa beli selai dan roasted almondnya yang best seller itu.

Ubud Raw

Ubud Raw – https://www.instagram.com/ubudraw/

Apakah kamu dan #girlsquad mu sedang menjalankan pola hidup sehat dan diet? Wah Ubud Raw jadi pilihan oleh oleh khas Bali yang cocok nih! Dibuat dari biji kakao terbaik dan dicampur dengan bahan-bahan lain yang juga bermanfaat baik bagi tubuh seperti goji berry dan aneka kacang-kacangan. Kemasannya juga dari botol kaca yang bisa dipakai kembali, selain enak juga ramah lingkungan. Temukan tokonya di Jl. Raya Sayan 74 & Jl. Goutama 8 Ubud.

Krakakoa Bali

Krakakoa Bali – https://www.instagram.com/krakakoa/

Merek cokelat satu ini nggak usah diragukan lagi, karena kualitasnya juara baik di rasa dan juga kemasannya variatif mulai dari kaleng hingga pouch bag. Kreasi produknya juga bermacam-macam jadi daripada khawatir membawa cokelat batangan bisa beli cacao nibs dan cokelat bubuk. Tokonya juga bagus dan instagram-able, bisa sekalian foto-foto nih. Langsung aja mampir ke Krakakoa yang beralamat di Jl. Raya Seminyak No.57, Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

  1. Sambal Kemasan

Sambal matah sedang hits di mana-mana lho! Kok bisa gitu ya? Ternyata rasanya memang unik, karena nggak diuleg atau dihaluskan. Sensasi mengunyah bahan-bahan kuliner khas yang disiram dengan minyak ini bikin ketagihan. Sudah tahu asalnya darimana? Yup, oleh oleh khas Bali punya! Sekarang sudah tersedia beberapa versi kemasannya lho, jangan lupa juga coba varian sambal lain yang nggak kalah enak:

Rasa Lokal

Rasa Lokal – https://www.instagram.com/rasalokalindonesia/

Oleh oleh khas Bali satu ini sebenarnya adalah keripik yang kemudian dicocol dengan sambal matah. Tapi semakin seru kan karena pengalaman baru ngemil keripik pakai sambal. Sekarang sudah ada tokonya yaitu di Jl. Dewi Sri No.100b, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Borong yang banyak ya! Minta dikemas yang rapi oleh penjaga tokonya dan tinggal tenteng saja untuk dibawa pulang.

Sambal Bu Susan

Sambal Bu Susan – https://www.instagram.com/sambelbususan/

Orang Indonesia biasanya suka makan pakai sambal dan kerupuk, apalagi kalau pedas dan bikin huh hah wah pasti sampai nambah-nambah deh. Jika keluarga dan teman-temanmu adalah sahabat pecinta pedas maka Sambal Bu Susan wajib masuk ke dalam daftar oleh oleh khas Bali yang mau dibeli. Pedasnya nggak main-main tapi bikin ketagihan. Silakan memborong kuliner ini di Jl Pidada IX, Ubung, Denpasar Utara, Ubung, Denpasar Utara, Kota Denpasar.

Sambal Bu Emma

Sambal Bu Emma – https://www.instagram.com/sambal.bu.emma/

Beda dengan Bu Susan yang sambalnya bikin kamu mengelap keringat berkali-kali, racikan Bu Emma lebih ‘bersahabat’ dan variannya juga banyak. Ada sambal uleg, abon ikan dan ayam betutu dengan kemasan botol yang kokoh. Setelah mencicipi gurih dan sedapnya ayam betutu, membawa sambalnya sebagai oleh oleh rasanya cukup ‘adi’ bagi mereka yang mendengar ceritamu. Daripada cuma kebayang-bayang aja kan?

  1. Baju Bali

Siapa yang nggak jatuh cinta dengan baju berbahan rayon dengan motif bunga-bunga khas dan dijahit dengan model yang bisa dipakai sehari-hari ini? Baju Bali cocok untuk jalan-jalan ataupun bersantai di rumah, pilihan modelnya pun banyak. Apalagi warna-warninya menarik, teman-teman pasti senang dibawakan oleh oleh khas Bali satu ini. Ada banyak toko yang menjualnya, beberapa di antaranya adalah: Jl. Krisna Pusat Oleh Oleh (Sunset Road No.88, Kuta, Kabupaten Badung, Bali), Agung Bali Oleh Oleh (Jl. Sunset Road No.18XX, Kuta, Kabupaten Badung, Bali) dan Hawaii Oleh Oleh (Jalan By Pass Ngurah Rai No.28-28, Kuta, Kabupaten Badung, Bali).

Baju Bali – https://www.instagram.com/tropicakhasbali/

Bagaimana, kini bawa oleh oleh khas Bali semakin mudah kan? Aman tanpa khawatir rusak di perjalanan dan yang terpenting semua suka. Selamat berbelanja! Borong yang banyak ya.

 

Sumber : qupas.id

 

Palembang’s Food Guide : Martabak Telur

Well, kayaknya harusnya sih bikin tulisan ini awal-awal tinggal di Palembang ya. Tapi saat itu kayaknya mood nulisku gak jalan karena dipenuhi kegalauan jiwa raga heu. Semoga tulisan-tulisan ini masih relate dengan kondisi sekarang.

Jadi, aku nih punya status merantau ke Palembang. Keluargaku aslinya berada di satu kota kawasan karisidenan Banyumas, Jawa Tengah. Aku kuliah di Bandung dan menikmati asyiknya hidup di kota yang ramai dan kreatif tersebut. Jadi aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Palembang dan awalnya nge-blank sama sekali tentang kota ini.

 

Kenapa pindah ke Palembang?

 

Gejolak kawula muda yang ingin menjelajah tempat baru dan kemudian aku terjebak hahaha. Jujur di awal aku merasa terjebak, makanya sering ngerasa galau. Makin kesini, makin dewasa kali ya (bilang aja tua), mencoba menikmati saja yang diberi. *Soalnya mencoba kabur gagal terus, huh*

Tulisan ini bakal jadi tulisan pembuka dari seri cerita tentang kehidupan di Palembang. Gimana sempat kagetnya aku sama beberapa hal di Palembang yang rasanya beda banget. Hahaha. Pengennya sih seri ini dibuat khusus jadi kayak Palembang Life Guide. Tapi kok kesannya namanya gitu banget ya?

Intinya sih, aku mau cerita tentang Gagap Palembang yang sempat aku alami. Jadi siapa tau ada yang mau datang ke Palembang, bisa kenalan sedikit sama Palembang dari tulisan ini hehehe. Tulisan pembuka adalah soal…

Martabak Telur di Palembang.

 

Pertama kali aku di Palembang, aku diinepin di wisma tempat aku kerja bareng teman-teman lain sesama rekrutan Bandung. Ada yang punya saudara di Palembang terus bawain Martabak Telur.

Wah, begitu denger martabak telur yang kebayang martabak yang isinya campuran telur dikocok bareng daun bawang dan daging cincang. Temennya adalah acar (potongan timun dan sayuran).

Martabak Telur dalam bayangan – sumber : IG sukmawati_rs (resepkoki.id)

Ternyata martabak telur di Palembang bukan yang seperti itu saudara-saudara.

Martabak telur di Palembang adalah martabak yang isinya telor utuh. Kayak telor yang diceplok di atas kulit martabak jadi beneran kuningnya keliatan gitu di salah satu sisi potongannya. Kulitnya cenderung agak basah (kurang crispy). Cocolannya pun beda, yaitu kuah kari. Bagi yang doyan rempah, kuah kari dengan potongan kentang di dalamnya ini juara banget. Ada pula semacam saus manis yang agak pedas dengan potongan cabe rawit.

Martabak telur di Palembang yang paling terkenal adalah Martabak HAR. Makanya ada yang juga yang menyebut martabak telur Palembang ini martabak HAR. Martabak HAR berasal dari nama orang yaitu Haji Abdul Razak dan kini telah  banyak pula cabangnya. Tapi, beda cabang beda rasa pula menurutku. Cabang yang konon rasanya paling otentik ada di Jalan Jenderal Sudirman agak di sebrang Masjid Agung, jalan pas pengkolan. Di sana jual juga nasi minyak.

Kalau tempatnya sendiri, di Martabak Har yang ini kesannya ‘warung’ banget alias sangat sederhada dan ada kesan jaman dulu. Kita juga bisa request mau telur ayam atau telur bebek.

Selain bisa dibeli di Martabak HAR, martabak telur Palembang juga bisa ditemui di pasar-pasar tradisional atau penjual jajanan khas Palembang. Ada pula tempat makan yang menawarkan menu khas Arab atau India seperti Teh Aba atau HARBESS yang juga menjual martabak telur yang beneran isi telur. Yang jelas, martabak telur Palembang dengan kuah kari merupakan salah satu kuliner wajib coba kalau mampir ke kota Palembang.

Terus gimana kalau kangennya sama martabak telur yang ada dagingnya?

Setelah hampir 6 bulan di Palembang (waktu itu), aku baru tau kalau ada penjual gerobakan pinggir jalan yang jualan Martabak Malabar. Untuk yang pernah makan martabak telur di Pulau Jawa, martabak ini hampir mirip. Sama-sama isi kocokan telur dengan potongan daging, daun bawang, dan bawang bombay dan kulitnya garing kriuk-kriuk. Bedanya, biasanya martabak malabar ini ada rasa bumbu karinya atau rempah-rempahnya cukup kuat. Selain itu, menurutku juga lebih tipis dibanding martabak telur pada umumnya.

Martabak malabar biasanya dijual di pinggiran jalan dan baru ada sekitar sore menuju malam hari. Walaupun udah ketemu martabak telur yang gak cuma isi telur, rasanya masih aja kangen martabak telur ‘beneran’ versi aku.

Setelah pencarian panjang, ketemulah sama Martabak Alim Palembang yang selain jual martabak manis juga martabak telur ‘beneran’ (seperti gambar martabak telur yang pertama) dan campuran bumbunya bukan kari (gak rempah banget) serta tebalnya pun lumayan. Cocolannya pun walau serupa tampilannya, ternyata bukan cuko seperti cocolan pempek. Lebih mirip campuran pendamping kari di Martabak HAR. Manis pedas jelas terasa.

Semakin lama, akhirnya yang jual martabak telur ‘beneran’ di Palembang makin banyak. Pilihanku sih Martabak Sari Eco atau Martabak Techno yang dekat rumah saja.

Nah, sekian cerita tentang dunia martabak telur di Palembang. Jadi jangan kaget kalau datang ke Palembang dan diajak makan martabak telur ternyata dapatnya beneran isi telur utuh tanpa campuran apapun dan kuahnya kari, karena memang begitulah martabak telur khas Palembang.

Common Ground Palembang @ SOMA

“Nun, kemarin aku nyoba Common Grounds yang di SOMA baru itu,” ujar Mba Lin membuka percakapan pagi.
“Wah, enak ga? Makan apa di sana mba? Bukannya itu tempat ngopi aja ya?” tanya saya sok tau.
“Si Ank makan kayak steak, mayan lah. Tempat ngopi sih, tapi makannya enak juga kok.” ujar Mba Lin lagi.

Wah menarik nih kalau ada steak-steak-annya. Secara, saya pecinta daging-dagingan model keringan gitu (dendeng, daging goreng, steak). Ya, walau gak nolak juga kalau dikasih rendang.

Akhirnya ajuin proposal dulu ke Bojo. Proposal permohonan makan steak dari istri yang (ngakunya) udah lama gak makan steak. Hihi, gak tau aja dia kemarin di Jakarta ke Holycow. Wehehehehe.

Baca juga : Kerinduan Holycow! yang Akhirnya Terbayarkan di TKP Halim

Seperti biasa, walau hari Minggu saya udah masak, biasanya porsinya ya cuma buat 2 kali makan. Entah siangnya jajan di luar, atau sore sekalian malam jajannya. Berhubung kemarin sore ke daerah Plaju dan bingung mau ke mana lagi. Akhirnya mutusin pulang, di jalan saya bilang (kode),”Kalau mau jajan, jajannya sekalian sekarang aja, soalnya lauk sisa dikit.”

Akhirnya si Bojo ngebelokin mobil ke SOMA (SOcial MArket). Wah kesempatan, mari kita ke Common Ground. SOMA ini bisa dibilang sebuah area yang kebanyakan isinya adalah tempat makan, tempat ngopi, dan tempat nonton. Dulu sempat ada Holycow di sini, tapi sekarang sudah tutup dan tenant yang bertahan urusan perut adalah Pancious, Pangkep 33, Terassa, Pasarasa, Potsuki, Tokopi, dan Common Ground. Urusan nonton, ada CGV di lantai paling atas. Eh, ada yang baru juga, ada barbershop dan reflexology sekarang di SOMA.

Yang jelas, untuk urusan tempat makan yang fancy-fancy, SOMA ini juaranya deh.

 

Oke, balik ke Common Ground.

 

Common Ground ternyata adalah gerai kopi yang berawal dari Jakarta. Kota Palembang merupakan kota pertama Common Ground di Pulau Sumatera. Selain di Jakarta (Neo Soho, Citiwalk, dan PIM 2), Common Ground juga buka di Surabaya dan Bandung.

Sentuhan industrial cukup terasa di Common Ground ini. Beberapa pipa-pipa besi terpasang di langit-langit area makan. Oh iya, area makannya sendiri ada indoor dan outdoor. Jadi, buat yang suka dengan angin alami, bisa menikmati area luar.

Begitu kita masuk ke dalam, ada area untuk pembuatan minuman. Yang jelas sih, sebuah mesin kopi tampak dari kejauhan. Bisa jadi, kalau penasaran sama proses penyeduhan kopi, pelanggan bisa ngintip-ngintip dikit atau malah ngedatengin dan nanya-nanya sama baristanya.

Tentu saja saya milih yang bisa senderan empuk-empuk. Common Ground juga menyediakan baby chair untuk pelanggan yang membawa anak kecil. Sayangnya si bocah lagi ogah banget duduk di baby chair.

Lanjut urusan makanannya.

Jam buka Common Ground ini dari jam 7 pagi sampe 23.30 malam. Jadi, menu yang ditawarkan pun mulai dari menu sarapan sampai cemilan-cemilan sebelum nonton midnight. Eh, ada midnight gak sih di CGV?

Pilihan menunya di Common Ground jenisnya ada untuk brunch, main dish, sweets yang manis-manis kayak waffle. Minumannya selain kopi, ada beragam pilihan teh, serta jus buah. Sehat pokoknya.

Walaupun ini condong ke tempat ngopi, kami berdua tidak memesan kopi sih. Emang kopi bisa bikin tahan ngadepin anak Tapi,anak suka minta, ntar dia ga tidur-tidur lagi. Kalau dilihat dari tampilannya, saya yakin kopi di sini kualitasnya cukup tinggi.

Saya sih jelas ya, maunya milih yang daging-dagingan. Gak mau ayam soalnya udah masak ayam. Sempat bingung milih Steak & Eggs yang isinya Sirloin 150 gram tapi pakai telor atau Steak yang 200gram. Ceritanya sayang anak (alias pengen hemat), jadi pilihlah Steak & Eggs yang ada telornya secara bocah suka telor ceplok kuningnya aja. Suami awalnya niat makan Dorry Rice with Sambal Matah tapi ngeliat orang sebelah makan burger segede gaban, dia akhirnya milih Gourmet Beef Burger. Untuk minumnya, yang aman aja buat anak Ice Lemon Tea.

Seperti biasa, minuman akan disajikan duluan untuk menghabiskan waktu menunggu makanan datang. Tak terlalu lama rasanya untuk menunggu hidangan disajikan. Sekitar 10-15 menitan lah.

Sejujurnya, kami sempat ngerepotin mas-mas dan mba-mba di Common Ground ini. Ceritanya si bocah mau minum dan yeah kayak orang gede, maunya megang gelas sendiri dan dibalikin ke meja gak mau. Akhirnya dia pegang-pegang gelasnya, dan berakhir numpahin segelas iced lemon tea ke tempat duduk yang sofa panjang. Akhirnya pindah meja dan ya mas dan mbanya jadi kerepotan ngeringin tempat yang ketumpahan air tadi. Maaf lagi ya mba mas.

Dan, yaaaaaaaaaaa akhirnya Steak & Eggs saya dan Gourmet Beef Burger Bojo datang juga.

 

Steak & Eggs (130k)

Seperti namanya Steak & Eggs ini ya isinya daging steak yang ternyata sudah diiris tipis-tipis dan dipotong-potong juga, telor 2 buah yang digoreng, dan salad. Dagingnya gak terlalu banyak ya, 150 gram sirloin. Di menu sih dibilangnya Australian Sirloin. Untuk daging, seperti biasa, saya sukanya well done. Sementara telornya, di menu sih gambarnya sunny-side up ya, yang itu tuh, dimasaknya cuma 1 sisi jadi kuningnya gak mateng banget, pas dibelek mbleber. Uh, enak. Tapi inget anak, dia doyan yang mateng, jadi urung ahehe. Ada french friesnya juga dan ini porsinya banyak banget menurut saya. Serta salad yang ada seladanya dan tomat cherry. Untuk menu ini, sausnya disediakan hanya saus tomat dan sambal biasa.

Topping saladnya gak terlalu banyak menurut saya. Untuk sayurannya sendiri cukup fresh ya. Nebak-nebak sih, ini sayuran yang kalau di supermarket labelnya ada Berastagi-Berastaginya itu. Dagingnya beneran well done, tapi walaupun tipis dan cukup kering, masih oke juga kok buat dikunyah. Kalau ngarepin juicy, ya jelas susah juga ya kalau modelnya tipis. French friesnya garing banget, ada potongan sayuran kering nempel di atasnya. Bocah doyan banget ternyata yang kering-kering. Dagingnya juga dia mau. Telornya yang awalnya buat dia malah gak disentuh karena terdistraksi kentang. Heleh.

Gourmet Beef Burger (99k)

 

Kalau Gourmet Beef Burger, tentu saja isinya burger, dengan pendamping french fries dan onion ring. Untuk onion ringnya, menurut saya crispy banget. Untuk french friesnya juga bisa dibilang banyak banget dengan tampilan dan rasa yang sama seperti di Steak & Eggs saya. Nah, urusan burgernya nih. Daging burgernya itu tebel pake banget tapi empuk sih. Gampang dikunyahnya. Untuk Gourmet Beef Burger, bojo yang biasa makannya banyak aja sampai nyerah sih, ngasih-ngasih dagingnya ke saya.

Iced Lemon Tea (35k)

Lemon teanya sendiri menurut saya gak terlalu asem-asem banget ya. Soalnya anak juga mau-mau aja gitu. Biasanya kalau asem banget dia bakal nolak. Seger deh dan beneran ada potongan lemonnya juga.

 

Overall, Common Ground ini puas dan ngenyangin. Enak banget sebenernya buat makan sambilsantai-santai. Range harga makanannya sekitar 30k sampai 150k. Untuk minumannya mulai dari 35k. Makan bisa lama banget nih di sini, secara porsinya juga gede. Nah, buat ngabisin porsi yang gede dan enak itu rasanya pengennya menikmati dengan santai dan pas banget deh suasana Common Ground Palembang ini.

 

Social Market (SoMa) GF Blok A1,
Jl. Veteran No. 999,
Palembang, Sumatera Selatan. Indonesia
Instagram : @commongroundplg

Kerinduan Holycow! yang Akhirnya Terbayarkan di TKP Halim

Bulan Februari 2016 lalu, Steak Hotel by Holycow! buka cabang (TKP) di Palembang. Sebagai pecinta steak, rasanya seneng banget akhirnya steak ternama dari Jakarta muncul di Palembang, apalagi kalau kita ulang tahun kita bisa nikmatin free buddy steak. Sayangnya, saya nggak pernah bisa nyicipin free buddy steak ulang tahun Steak Hotel by Holycow! di TKP Palembang. Ketika saya ngerayain ulang tahun di tahun 2016, saya lagi ada di Jakarta dan akhirnya makan di Holycow! Steakhouse by Chef Afit. Sementara itu, waktu mau cari gratisan di tahun 2017, ternyata Holycow! yang di Palembang udah tutup.

Uh, sedihnya! Makanya, jangan mental gratisan mulu….hahaha

Walau ngakunya pecinta steak, saya jarang-jarang bisa makan steak di Palembang. Selain karena jarang tempat yang enak (dulu ada The Butcher Steak yang lumayan sekarang udah tutup juga), Bojo juga kurang suka steak jadinya kan ga enak kalau saya makan sendiri di restoran steak tapi dia malah gak makan. Dan akhirnya…..puasa steak enak terbayarkan juga saat me-time ke Jakarta.

Yaelah, gaya amat ya me-time di Jakarta….hehehe

Senin lalu, saya dapat undangan lagi ke kantor Sekretariat Negara. Karena pesawat sore dengan Batik Air adanya dari Bandara Halim Perdana Kusuma, akhirnya saya pulang ke Palembang via Bandara Halim. Jarang banget sih saya ke bandara ini. Saya cuma inget ada Beardpapa buat camilan, Starbucks dan Periplus di ruang tunggu. Duh, kalau saya laper berat gimana? Eh, ternyata hasil googling ketemu deh kalau ada Steak Hotel by Holycow! di Bandara Halim.

Kadang, emang ada hal-hal yang belum diberikan oleh Allah, tapi diganti dengan hal lainnya yang juga membahagiakan 😀 Iya, awalnya kesel sih saya gak pulang via Bandara Soekarno Hatta, soalnya kan jadi gak bisa ngerasain kereta bandara baru. Tapi, ternyata saya dikasih kesempatan jajan steak yang udah lama gak bisa saya nikmatin.

*langsung nyanyi lagu Raihan – Thank You Allah* **sok-sokan anak nasyid**

Kelar check-in, saya langsung beli Beard Papa buat oleh-oleh, terus ke luar dari area orang-orang check in dan menuju Holycow! TKP Halim. Interior dari Holycow! TKP Halim ini menyesuaikan lokasi yang berada di bandara. Ada beberapa pesawat-pesawatan yang tergantung dekat meja kasir, ada tempelan dengan gambar pesawat, serta barang-barang lain yang biasanya digunakan petugas bandara seperti helm safety yang digantung.

Sebagai seorang yang sendirian, saya milih duduk di pojokan. Iya, biar gak keliatan sendiriannya, padahal mah sama aja. Hehehe. Mas-mas berbaju hitam sigap membawakan buku menu ke meja saya. Hmmm, kok pengen ini pengen itu banyak sekali. Rasanya semua pengen dipesen. Ah tapi, sudahlah, yang biasa aja Australia Tenderloin dan Ice Lemonade biar lemaknya langsung luruh (rasa-rasa aja, ini sih pembelaan diri semata).

Untuk resto steak yang kualitasnya lumayan, biasanya kita bakal ditanya kentangnya bentuk mashed potatoes (ditumbuk) atau french fries (potongan kentang goreng). Saya sendiri prefer mashed potatoes sih, karena kentang goreng buat dicemil aja. Selain itu juga akan ada potongan sayurnya, di awal mas-masnya bilang, sayurnya cuma ada buncis (biasanya ada tomat cherry atau bayam juga), dan buat saya sih it’s okay karena saya suka nyemilin baby buncis. Oh ya, terus akan ditanya juga saucenya mau apa, kalo aku lebih suka blackpepper. Selain blackpepper, ada juga sauce mushroom dan bbq. Oh iya, tingkat kematangan daging juga bakal ditanyakan, buat yang suka juicy bisa pesan rare. Tapi karena kebiasaan, saya pesan well-done yang artinya daging akan dimasak secara matang dengan sempurna.

Namanya juga pesan well-done, artinya ya saya kudu siap nunggu lama karena kan masak dagingnya juga lama. Sekitar 30 menitan akhirnya makanan saya datang juga. Australian Tenderloin well-done telah hadir di piring dengan warna kecoklatan. Tekstur luar garing dan sedikit keras. Ketika dagingnya saya potong, bagian dalam pun sudah coklat, tak lagi ada kemerah-merahan. Walaupun begitu saya merasa masih ada sedikit sensasi juicy ketika dipotong. Jadi ya gak terlalu kering juga dan masih enak buat dikunyah.

Untuk side dish atau makanan pendamping, porsi mashed potatoesnya tidak terlihat banyak, tapi ternyata cukup mengenyangkan. Baby buncisnya juga sudah dimasak sebentar, tak terlalu keras. Tanpa sauce blackpepper, baby buncisnya terasa sedikit asin. Untuk sauce blackpeppernya sendiri, beneran enak ya. Berasa banget.

Untuk harga sendiri, sepertinya sih mengalami kenaikan dibanding 2 tahun lalu *yaeyalaaaah, harga lain juga banyak yang naik*. Tapi saya gak bisa bandingin apakah harga di TKP bandara ini lebih mahal dari TKP lainnya. Biasa kan gitu ya, harga makanan bandara lebih mahal.

Overall saya puas, rindu akan steak enak akhirnya terbayar juga. Pulang ke Palembang perut udah terisi penuh dan bibir pun senyum senyum bahagia.
Ohyeah. Tapi puasa makan steak lagi.

Steak Hotel by Holycow! TKP Halim
Jl. Komodor Halim Perdana Kusuma No.15, RT.1/RW.9, Halim Perdana Kusumah, Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13610
Open Everyday : 06.00 – 22.00
Budget per person : Rp 150.000 – Rp 250.000,-

Menjejak Dieng Negeri di Atas Awan, Tempatnya Para Dewa

Sebagai keluarga perantauan, mudik menjadi saat-saat yang menyenangkan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Biasanya, kita akan bernostalgia dengan kampung halaman atau mungkin hanya bersantai di rumah saking kangennya sama keluarga. Rasanya ketika mudik malah ke luar rumah untuk bermain rasanya agak gimana gitu, gak enak sama keluarga. Hal itu pun biasanya saya lakukan. Kalau mudik ke Purbalingga, paling main cuma ke Purwokerto yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 30 menit.

Biasanya mudik dilakukan di waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah. Namun, waktu-waktu tersebut biasanya jadi momen ‘rebutan’ cuti dengan rekan kerja lainnya. Berhubung anak belum sekolah, saya dan suami biasanya mengambil jatah cuti bukan saat liburan sekolah. Sayangnya, hal ini jadi gak sinkron sama kondisi di rumah. Ibu masih mengantar adik ke sekolah, keponakan juga masih sekolah. Akibatnya, di rumah jadi sepi dan malah pengen main-main ke luar rumah.

Sebenarnya di daerah Purbalingga sendiri banyak wisata alam seperti curug, kebun strawberry, atau tempat lainnya. Bisa cek di instagram Wisata Purbalingga ini. Tapi, saya pengen mencoba ke tempat lain. Setelah labil mau ke pantai di Cilacap atau daerah gunung di area Banjarnegara dan Wonosobo, akhirnya kami memutuskan ke Dieng saja karena Bojo pengen makan Mie Ongklok di Wonosobo.

***

Dieng, Negeri di Atas Awan

Dataran Tinggi Dieng, sering dikenal dengan nama Dieng saja, adalah salah satu kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Kawasan Dieng ini masih merupakan kawasan vulkanik (gunung berapi) aktif. Di pertengahan bulan September lalu, Kawah Sileri, salah satu kawah di Dieng sempat dinyatakan sedang aktif dan memiliki status waspada.

Jarak Purbalingga ke Dieng sekitar 90 km, kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil yang kami tempuh melalui jalur arah Banjarnegara. Untuk wisatawan lain, menuju Dieng jika dari Jakarta dapat menggunakan kereta melalui Purwokerto lalu dilanjut bis ke arah Wonosobo. Bisa juga bis langsung menuju Wonosobo dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Suguhan alam asri khas pegunungan dengan sawah yang membentang akan tampak saat mendekati Dieng. Jalanan memang berkelak kelok naik, namun tak terlalu membuat pusing atau tak nyaman di kendaraan.

Dataran Tinggi Dieng memiliki ketinggian 2.093 mdpl dan berasal dari bahasa sansekerta yaitu ‘Di’ yang memiliki arti tempat tinggi dan ‘Hyang’ yang memiliki arti kayangan. DiHyang alias Dieng dapat diartikan sebagai tempat tinggi untuk dewa dan dewi tinggal. Begitu memasuki kawasan Dieng, rasanya hawa dingin semakin terasa. Sempat saya mematikan Air Conditioner (AC) di mobil dan membuka jendela untuk menikmati udara segar khas pegunungan.

Kawasan Wisata Dieng memiliki beberapa tempat yang dapat dituju untuk melihat keindahan alam seperti kawah untuk melihat aktivitas vulkanik (Candradimuka, Sibanteng, Siglagah, Sikendang, Sikidang, Sileri, Sinila, dan Timbang), Telaga atau danau (Telaga Warna, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Pengilon, Telaga Dringo, dan Telaga Nila), Gunung di sekitar yang dapat dinaiki sampai puncak ( Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, Gunung Sikunir), serta kawasan candi untuk wisata sejarah (Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca). Awalnya ibu saya sempat menyarankan, kalau ingin melihat matahari terbit, lebih baik menginap di kawasan Dieng lalu sekitar jam 3 pagi ke arah Gunung Sikunir. Hanya saja mengingat anak yang masih 1,3 tahun rasanya hal itu terlalu memaksakan. Akhirnya, hanya beberapa area saja yang kami datangi di Dieng ini.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang termasuk daerah yang paling mudah dikunjungi dan dicapai karena medannya tidak terlalu berat. Saat saya datang, rombongan wisatawan asing juga datang dengan menggunakan bis. Sebelum memasuki area Kawah Sikidang ini, kita memasuki pasar yang berisi oleh-oleh khas Dieng seperti krupuk kentang, carica, purwaceng, serta sayuran khas Dieng seperti cabai dan kentang.

Bagi yang memiliki minat terhadap fenomena alam dan sains tentu akan sangat senang berkunjung ke kawah inikarena dapat melihat aktivitas vulkanik secara langsung. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyusuri kawah dengan jalan kaki atau motor trail. Ada juga beberapa spot untuk foto-foto namun rasanya justru tidak menambah keindahan kawasan ini.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna berada di satu kawasan yang searah dengan Kawah Sikidang. Komplek candi ini terdiri dari beberapa candi yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca yang merupakan candi-candi Hindu.

Secara arsitektur, candi di kawasan ini cenderung sederhana dan ukurannya tak terlalu besar. Di kawasan ini terdapat hamparan halaman yang luas yang bisa kita gunakan untuk bersantai karena dari area pintu masuk kawasan candi sampai area candinya sendiri kita perlu jalan sekitar 5 menit. Tiket masuk kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang hanya Rp 15.000,- saja. Cukup murah ya.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat di Dieng

Dieng merupakan daerah kawasan dataran tinggi. Tentunya, suhu dingin akan sangat terasa di daerah ini. Oleh karena itu, akan lebih baik jika membawa jaket untuk mengurangi rasa dingin, apalagi kalau bawa anak kecil, kita akan cenderung lebih memberi proteksi lebih untuk mereka.

Karena kawasan kawah Dieng masih cukup aktif dan mengandung belerang, ada baiknya kita memakai masker. Tenang, di area kawah ada penjual masker kok. Kita bisa membeli dengan harga yang cukup terjangkau.

Dieng memiliki kentang dan sayuran khas. Kentang Dieng berukuran kecil-kecil. Harga per bungkus cukup murah, sekitar 10.000 rupiah. Rasanya tak perlu menawar lagi, apalagi kalau melihat penjualnya adalah nenek-nenek 🙂 Kentang khas Dieng ini berbeda dengan kentang rendang walaupun ukurannya mirip. Saya biasanya mengolah dengan cara mengukus, lalu ditumis dengan butter, bawang, seledri, serta sedikit garam dan lada. Oleh-oleh lain yang bisa dibeli adalah manisan carica (buah khas Dieng), aneka kripik dan krupuk, edelweis, dan banyak lagi.

Di sekitar Dieng terdapat penginapan. Banyak homestay di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Dieng.

Menuju Wonosobo untuk Makan Mie Ongklok

Mie Ongklok menjadi salah satu kuliner wajib ketika berkunjung ke Dieng. Mie Ongklok yang menjadi favorit banyak orang, termasuk saya adalah Mie Ongklok Longkrang di Wonosobo. Sebenarnya Mie Ongklok juga bisa ditemui di sekitar kota Banjarnegara, hanya saja cita rasa kuahnya berbeda. Mie Ongklok Longkrang yang konon sudah ada sejak tahun 1975 ini sudah masuk dalam rekomendasi Trip Advisor juga.

Mie ongklok adalah mie dengan kuah kental yang lezat. Mie kuningnya cukup lembut dan kuahnya pun sangat lezat dan hangat. Cocok untuk udara Wonosobo yang dingin. Kuah kental berwarna coklat tersebut berasal dari tepung tapioka dan diolah dengan campuran sayur kol. Rasanya cenderung manis gurih. Sajian lain yang ditawarkan untuk menemani makan mie ongklok adalah Sate Daging Sapi. Irisan daging sapinya tak terlalu besar dengan kuah pendamping kuah kacang yang sangat halus. Selain itu ada juga tempe kemul alias tempe selimut. Ya, kemul artinya selimut dalam Bahasa Jawa. Tempe kemul memiliki irisan tempe yang tipis, namun tepung yang banyak dan kering dengan taburan potongan daun kucai.

 

Mie Ongklok Longkrang ini dapat dibawa pulang dan jika ingin menikmati di rumah, cara menghangatkannya cukup unik. Yang dihangatkan adalah mienya bukan kuahnya. Mie kuningnya biasa dibungkus dalam plastik, lalu plastiknya kita bolongi dengan garpu dan dimasukkan ke dalam air panas atau air hangat. Setelah itu mie dapat dicampurkan dengan kuah dan kuahnya juga akan menjadi hangat juga lalu siap dinikmati. Tempe kemul juga wajib dibawa pulang untuk teman ngemil sepanjang perjalanan Wonosobo – Purbalingga.

***

Setelah pulang ke Purbalingga, terdapat penyesalan sedikit karena saya tidak membawa pulang kentang Dieng cukup banyak. Semoga jika mudik lagi, saya berkesempatan mampir ke Dieng lagi. Ingin memborong kentang 🙂 Dieng memiliki banyak pesona bahkan ada event tahunan Dieng Culture Festival. Rasanya ingin kembali ke Dieng dan berkeliling ke area wisata yang lebih banyak lagi.