Mencicip Kuliner Soto Mie Khas Bogor di Kedai Kong Piet Palembang

Apa yang kamu ingat tentang kota Bogor? Talas Bogor yang identik sebagai ejekan bagi betis besar? Walikota yang lumayan ganteng? Riweuhnya lalu lintas masa lalu karena angkot yang merajalela? Asrinya Bogor yang memiliki Kebun Raya? Atau…makanannya yang enak-enak?

Tak terlalu banyak kesempatanku untuk menyambangi kota Bogor. Lupa berapa kali, namun rasanya sih masih dalam hitungan jari. Walaupun begitu, main ke Bogor tak mungkin sekedar main saja. Pasti ada kesempatan untuk mencicip kuliner khas Bogor. Salah satu yang terkenal adalah Soto Mie khas Bogor.

Soto Mie, dari namanya saja ketahuan bahwa ini adalah hidangan berkuah dengan kaldu layaknya soto pada umumnya. Namun, jika beberapa soto menggunakan soun untuk isian dalam soto, soto mie menggunakan mie kuning, walau ada juga yang mencampur dengan soun. Selain itu, isi di dalam semangkuk soto mie ada irisan kentang rebus, tomat, telur ayam rebus, urat kaki sapi, daging sapi, dan risoles.

Sebagai perantauan di Palembang, aku terkadang merindukan kuliner Indonesia lain. Harus diakui, akses untuk mencicipi aneka kuliner di Indonesia termasuk susah jika di Palembang. Selain Nasi Padang yang memang rasanya default hampir di tiap kota ada, kuliner daerah lain agak susah didapat di kota ini. Apalagi, dengan lebih maraknya restoran yang menawarkan hidangan ala western.

Beruntungnya, masih ada orang yang berani membuka usaha kuliner Indonesia. Daaaaaaaaaaaan, baru-baru ini aku bisa mencicipi kembali Soto Mie khas Bogor di Palembang, tepatnya di Kedai Kong Piet yang baru buka di bulan Oktober 2018 ini.

Di malam Minggu, saat gerimis syahdu sisa hujan sore masih mengguyur Palembang, aku dan rombongan sirkus pun bergerilya mendatangi Kedai Kong Piet. Malam minggu dan gerimis, kombinasi tepat untuk mencari kehangatan.

Tujuanku sudah jelas, memesan Soto Mie khas Bogor. Selain Soto Mie, ada pula Soto Campur khas Bogor yang kuahnya agak bersantan, Soto Daging, dan Soto Ayam. Untuk makanan berat lain, ada Kwetiaw, Mie, Bihun Goreng, Nasi Goreng, Kwetiaw Kuah, dan Indomie. Kedai Kong Piet juga menawarkan aneka snacks mulai dari roti goreng, roti bakar, pisang goreng, dll. Untuk minumnya sendiri, ada kopi dan teh serta juice buah.

Kami memesan Soto Mie khas Bogor, Bihun Goreng Seafood, Nasi Putih, Telor Dadar, Teh Tarik, dan Teh Susu. Tidak terlalu banyak, wong cuma bertiga.

Tak perlu menunggu lama, minuman teh tarik dan teh susu datang duluan. Teh susu sangat berasa susu dan rasa manisnya. Sementara itu, teh tarik seperti pada umumnya, terdapat busa-busa di atasnya dengan rasa manis-manis pahit.

Setelah itu, satu per satu pesanan makanan keluar dimulai dari Soto Mie khas Bogor. Untuk rasa, rasanya dingin-dingin udara luar menjadi lebih hangat berkat Soto Mie. Banyak potongan daging dan kikil yang ada di dalam semangkuk Soto Mie ini. Tambahan nasi putih diperlukan agar terasa lebih mengenyangkan. Harga seporsi Soto Mie adalah 25 ribu rupiah.

Bihun Goreng Seafood keluar lengkap dengan potongan cumi dan udang serta sayuran di atasnya.  Sayangnya, pendamping yang disediakan hanya pangsit goreng, padahal makan bihun, kwetiaw, mie, atau nasi goreng, enaknya ditemani krupuk udang atau krupuk lainnya. Semoga saja nanti ditambah aneka krupuk.  Untuk tambahan telor dadar, agak sedikit asin rasanya. Harga seportsi Bihun Goreng Seafood adalah 23 ribu rupiah.

Ketika mencicipi makanan, tentu dong, aku posting di Instagram atau IG Story. Langsung deh ada temen kantor yang nanya dan kurekomendasikan. Eh, begitu dia nyoba, aku dibawain Risoles Amerika. Risoles dengan isian daging tipis / smoked beef, keju, dan telur. Gak sempat kufoto, tapi enak juga dan langsung habis 2 karena ternyata anak gak terlalu suka snack model ini. Hehehe, untung di aku.

Anyway, aku setuju sama tagline Kedai Kong Piet, Spesialis Kopi dan Soto Khas Bogor. Untuk Soto Khas Bogornya, berhubung belum ada saingan lain di Palembang, memang Kedai Kong Piet pantas untuk jadi pilihan. Oh iya, tempat makan ini buka mulai dari jam 8 pagi, jadi kalau siang-siang panas pengen yang berkuah segar seperti Soto Mie, bisa jadi pilihan sebagai menu makan siang. Kalau mau lihat instagramnya bisa di cek di @KedaiKongPiet

Kedai Kong Piet

Jalan Dr. M. Isa No.933 (jejeran ruko variasi mobil)

Palembang Food Guide : Pempek Palembang

“Orang Palembang itu hebat, kapal selam aja bisa dimakan”

 

Pernah dengar ga ungkapan seperti itu? Ya, pempek adalah salah satu makan asal Palembang yang terkenal banget di seantero negeri *ceilah*. Pempek juga oleh-oleh wajib bawa dari Palembang.

Pada umumnya, orang mengetahui pempek dengan nama pempek kapal selam. Pempek kapal selam adalah varian pempek yang paling umum ditemui di tempat makan yang menjual pempek. Di Palembang sendiri, pempek kapal selam dikenal juga dengan nama pempek telok besak (telur besar). Iya, isi di dalam pempek tersebut biasanya kan sebutir telur utuh dan ukurannya jadi besar.

Tak ada daerah lain yang mencintai makanan khas daerahnya layaknya orang Palembang. Saya pun pernah mendengar ungkapan seperti itu. Memang benar, orang Palembang begitu mencintai dan menikmati pempek. Di awal saya pindah ke Palembang sekitar 8 tahun lalu, saya cukup kaget karena orang di kantor rasanya tak bosan menikmati pempek setiap hari. SETIAP HARI!

Tapi, bukan pempek kapal selam yang dinikmati setiap hari. Umumnya pempek di sini dijual dengan ukuran kecil-kecil, kira-kira setengah kepalan tangan. Kalau di restoran yang menjual pempek, beberapa pempek disajikan dalam satu piring. Namun, kalau untuk sajian ramai-ramai di kantor atau acara kumpul lainnya, biasanya sewadah besar pempek disajikan aneka varian disajikan.

 

Dulu, saya hanya sanggup makan 2-3 pempek ukuran kecil. Saat hamil, saya sanggup menghabiskan 10 sekali duduk menghadap pempek.

Pempek memiliki banyak jenis. Jenis pempek bisa dibedakan berdasarkan bahan pembuatnya, ada Pempek Gabus (berasal dari Ikan Gabus), Pempek Udang (berasal dari udang), Pempek Tenggiri (dengan campuran ikan tenggiri), Pempek Dos (hanya dari tepung tanpa campuran ikan), Pempek Belida (berasal dari ikan belida), dan lain-lain. Untuk di rumahan, kadang ada juga yang membuat pempek dari campuran nasi, jadi pempek nasi deh. Kasta pempek dengan harga termurah biasanya dipegang oleh pempek dos yang seribuan (yaiyalah, kan ga ada ikannya) dan kasta termahal dipegang pempek belida yang sepuluh ribuan (karena ikannya susah dicari dan memang paling enak).

Selain dibedakan dari bahan pembuatnya, pempek kecil-kecil umumnya dibuat dengan bentuk-bentuk yang khusus. Namanya pun berbeda satu dengan yang lainnya. Apa saja?

    • Pempek Adaan : Pempek dengan bentuk bulat seperti bakso dengan isian potongan bawang
    • Pempek Lenjer : Pempek dengan bentuk seperti tabung, untuk oleh-oleh ada penjual pempek yang menjual lenjer ukuran besar sehingga orang yang membeli bebas memotong sesuai ukuran yang diinginkan
    • Pempek Pistel : Pempek berbentuk seperti pastel, diisi dengan potongan papaya muda dan terkadang ada campuran ebi
    • Pempek Tahu : Pempek dengan campuran tahu putih.

    • Pempek Kulit : Pempek yang umumnya berwarna gelap karena berasal dari kulit ikan ada pula yang membuatnya dari daging merah ikan dan digoreng dengan sangat garing sampai disebut pempek crispy.

    • Pempek telur/telok kecil : Mirip dengan pempek kapal selam, pempek ini memiliki isian telur namun ukurannya kecil-kecil.
    • Pempek keriting : Pempek yang punya bentuk seperti kabel ruwet alias keriting hehe.

    • Pempek belah : Bentuknya seperti pempek lenjer (tabung kecil), namun ada belahan di tengah dan biasanya diberi isian campuran ebi.

  • Pempek Lenggang : Potongan pempek (kalau saya biasanya pakai yang lenjer) lalu dicampur dengan telur. Bisa dipanggang, bisa juga digoreng.
  • Pempek panggang : Pempek dengan isian campuran udang yang dipanggang.

Makan pempek tak enak jika terpisah dengan cuko/cuka. Banyak yang bilang, pempek gak enak gapapa asal cukanya enak. Kalau saya sih, kalau pempeknya ga enak ya tetep aja ga enak 😀 .

Cuko yang berwarna gelap ini berasal dari gula batok (umumnya gula yang digunakan berasal dari daerah Linggau). Gula merah yang berbentuk seperti setengah bola adalah faktor penentu nikmatnya cuko. Kalau gula merah ini diganti dengan gula jawa, hmmm rasanya akan berbeda dan tak sedap.

Cara makan pempek cukup unik juga. Sebelum di Palembang, biasanya saya menemukan penjual pempek kapal selam yang menuangkan cukanya langsung di mangkoknya, sehingga si kapal selam tampak terendam setengah badan. Sementara itu, biasanya disediakan piring-piring kecil. Jadi, kita bisa menuang sendiri cuko sesuai selera. Pempek akan dicocol-cocol di cuko dan terakhir jangan heran jika melihat orang Palembang menghirup cuko di piring kecil tersebut.

Untuk menyesuaikan dengan gaya orang Palembang dalam menikmati pempek, saya sendiri belum ‘fasih’. Beberapa pempek seperti pempek telur kecil, pempek keriting, pempek lenjer adalah jenis pempek yang direbus terlebih dahulu. Saya lebih suka gorengan kadang menggoreng lagi pempek rebusan tersebut.

Pempek kecil kerap dijadikan oleh-oleh. Pempek yang dijual dan sering dijadikan oleh-oleh adalah pempek adaan, kulit, telur, dan lenjer. Dulu, pempek biasanya ditaburi tepung agar lebih awet, nantinya kita bisa mencuci tepung tersebut sebelum direbus atau digoreng. Kini ada juga teknologi vakum jadi kita tak perlu repot menghilangkan tepungnya.

Nah, demikian cerita tentang pempek. Ada yang jadi pengen pempek ga?

 

 

 

 

Chicking! Sensasi Berbeda Fast Food Ayam dari Dubai

Akhir pekan emang jadi waktunya untuk keluarga kami mencicipi makanan di luar rumah. Rasanya, banyak sekali tempat makan yang bermunculan di Palembang mulai dari yang warung tenda pinggir jalan sampai restoran di mall.

Beberapa minggu lalu, kami mencoba restoran fast food baru di Palembang. Chicking namanya. Beberapa blogger di Jabodetabek pernah menuliskan reviewnya yang membuat saya tertarik untuk mencobanya.

Alasan utamanya yang membuat saya berhasil menarik suami mampir adalah nasinya bukan nasi putih biasa, melainkan nasi biryani atau nasi khas Arab yang berasal dari beras basmati. Sejak pertama makan nasi briyani pakai kari ayam di Singapura di bulan Mei lalu, pak suami emang jadi doyan saya nasi briyani. Sampai-sampai saya juga beli beras basmati dan bikin nasi briyani di rumah.

Chicking Ayam Top Dubai

Chicking adalah restoran fast food yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA). Dubai sendiri adalah salah satu kota di UEA. Kalau gak percaya Chicking asalnya dari UEA bisa cek web mereka : http://chickinguae.com/ .

Chicking pertama kali didirikan pada tahun 2000 dan mulai berkembang di negara lain seperti Dubai, Oman, India, Afghanistan, Maldives, Ivory Coast, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia. Kehalalan produk adalah keutamaan yang ditawarkan oleh Chicking.

Saya sempat penasaran kenapa ada yang menyebut Chicking Ayam Top Dubai, ternyata pemegang lisensi Chicking di Indonesia adalah PT Ayam Top Dubai. Nama yang unik sekaligus mewakili Chicking sendiri sebagai restoran ayam yang memang terkenal dan berasal dari Dubai.

Nuansa Timur Tengah di Chicking

 

Ketika memasuki Chicking Palembang, nuansa khas Timur Tengah terasa dari interior ruangan restoran. Ada beragam tanaman palma tiruan yang ditempatkan di bagian dalam restoran. Belum lagi lagu-lagu dengan bahasa Arab yang mengalun. Rasanya ingin bergoyang dengan unta di padang pasir seketika.

Tepat di depan pintu masuk, terdapat meja untuk memesan makanan. Ada banyak tempat-tempat duduk yang siap menemani para tamu menikmati hidangan lezat dari Chicking.

Sistem pemesanan mirip restoran fast food pada umumnya, kita bisa memesan lalu membayar namun kadang harus menunggu sebentar sebelum pesanan keluar. Jika penasaran, ada layar yang menunjukkan urutan pesanan yang sedang dalam proses.

Cita Rasa Berbeda dari Fast Food Lainnya

 

Pada umumnya, fast food ayam menawarkan kesamaan yaitu ayam goreng dengan tepung krispi dan nasi putih. Chicking juga menawarkan ayam goreng dengan tepung krispi. Namun, saya tentu ingin mencicipi menu lainnya. Berikut menu yang saya coba di Chicking.

 

Chicking Combo 1

Ada beberapa paket combo yang ditawarkan di Chicking. Saya sendiri memilih paket Chicking Combo 1 yang terdiri dari Nasi Chicking, ayam, dan minum. Untuk ayam, pelanggan bisa memilih sesuai kesukaan apakah ayam goring tepung krispi atau ayam panggang. Saya sih, pengen yang beda dan ‘agak lebih sehat’, yaitu ayam panggang. Sementara itu, untuk minum dalam paket combo pilihan yang disediakan adalah kopi arab atau ‘teh botol dengan kemasan kotak’.

Grilled Chicken atau ayam panggang Chicking rasa bumbunya karena dipanggang menjadi tak terlalu basah. Bumbunya meresap ke ayamnya sampai berwarna kecoklatan. Ada sensasi pedas, namun bagi pecinta pedas tentu akan kurang kalau tidak mencocolkan potongan ayam ke saus sambal tambahan. Ukuran ayamnya tidak terlalu besar. Saya sempat juga memesan grilled wings dan ternyata ukurannya kecil-kecil sekali. Hehehe.

Nasi dalam chicking combo adalah nasi yang berasal dari beras basmati. Sekilas mirip nasi kuning dengan bentuk nasi yang lebih panjang dari biasanya. Rasa nasinya gurih dan cukup terasa rempah-rempahnya. Bagi saya, nasi ini bisa enak dimakan tanpa tambahan lauk. Tapi, pasti kurang pas kalau nyemilin nasi. Ketika nasi berempah bergabung dengan ayam panggang berbumbu rempah juga ternyata bisa menjadi kombinasi yang pas.

Sementara itu, kopi arab menjadi pilihan. Butiran kapulaga menambah wangi aroma dari kopi ini. Sayangnya, setelah ditambahkan gula pasir 3 sachet, rasa pahit masih terlalu pekat.  Bagi orang yang bukan penikmat kopi hitam, akan lebih baik memilih teh sejak awal.

Royal Wrap

Menu royal wrap adalah menu kebab dengan isian ayam crispy dan sayuran. Menu ini sebenarnya bisa juga dicombo dengan minuman (cola) dan kentang Potongan ayam crispynya cukup banyak. Menu ini sebenarnya mirip dengan beberapa menu di resto fast food lain, hanya saja, roti kebab royal wrap di Chicking lebih tipis dan lebih lembut.

Spaghetti Royal

Spaghetti Royal dari Chicking sekilas mirip spaghetti bolognaise, ya spaghetti dengan saus daging giling dan tambahan keju sebagai topping. Namun, adanya potongan cabai hijau membuat spaghetti ini berbeda. Suprisingly, rasanya enak banget kalau buat saya. Potongan dagingnya banyak dan berasa banget.

Tandoori Fries

Sebenarnya ini adalah kentang goreng dengan tambahan bumbu tabor rasa tandoori. Sayangnya, bumbu tandoorinya kurang banyak sehingga agak kurang berasa aja dan jadi tak ada bedanya dengan kentang goreng pada umumnya.

Dubai Breeze

Jika kamu pecinta mocktail, maka Dubai Breeze bisa jadi pilihan. Terdapat 2 varian rasa yaitu Green Apple dan Passion Fruit. Saya mencoba keduanya. Campuran sirup dengan rasa buah, dipadu dengan soda, mint, dan lemon jelas memberikan kesegaran di siang hari.


Overall, Chicking bisa menjadi pilihan untuk pecinta fast food yang ingin menikmati rasa yang berbeda. Ya, dari menunya saja sudah berbeda dari yang lain. Belum lagi suasana rasa-rasa Timur Tengah yang ada di dalam restorannya.Kalau urusan harga sih, masih mirip-mirip lah.

Saya berdoa supaya Chicking ini bertahan lama di Palembang mengingat pesaing fast food ayam lumayan banyak dan pernah kejadian ada fast food Malaysia yang akhirnya tutup gerai di Palembang. Oh iya, sampai tulisan ini saya buat, Chicking belum ada di Go-Food.

Chicking Palembang


4 Oleh Oleh Khas Bali Anti Ribet Anti Remuk

Sering banget gak sih kejadian kalau kita liburan ditagih oleh-oleh sama teman atau keluarga. Apalagi kalau mereka tahu kita liburan ke mana. Langsung deh, ya nitip ini itulah, harus di sini belinya lah, macem-macem. Ya, kalau kita orangnya cuek sih bisa aja gak bawain oleh-oleh. Tapi kan, ga enak ya ditagihin trus berujung dibilang pelit.

Ada banyak alasan sih kenapa orang gak mau bawa oleh-oleh. Bisa jadi, emang males belinya. Ada juga yang ngerasa repot urusan pengemasannya, takut rusaklah. Atau emang bawaan kita udah banyak jadi males nambah-nambah lagi.

Buat temen-temen yang punya rencana ke Bali dan khawatir bakal ditagih oleh-oleh. Aku coba kasih saran beberapa oleh-oleh khas Bali yang bisa dibawa, mudah dikemas, dan anti remuk. Oleh-oleh ini cukup istimewa loh.

  1. Kopi Bubuk

Biji kopi yang ditanam di Bali memiliki keistimewaan tersendiri. Ciri khas seperti aroma dan juga rasa yang dimiliki kopi Bali juga berbeda. Jika kamu ingin membawa oleh oleh khas Bali yang praktis, hampir semua orang suka dan pastinya gampang dibawa maka kopi bubuklah jawabannya. Ada beberapa pilihan merek dan tempat membelinya, masing-masing punya keunikan tersendiri. Tinggal disesuaikan dengan mana yang paling mudah kamu jangkau untuk lokasi pembeliannya.

Black Eye Coffee

Black Eye Coffee : https://www.instagram.com/bima_suparta/

Black Eye Coffee yang berasal dari Bedugul ini bisa menjadi pilihan oleh-oleh. Bedugul terkenal dengan udara dingin serta pemandangannya yang menawan. Bayangkan menikmati secangkir kopi yang hangat di tengah hawa pegunungan yang sejuk plus hamparan pepohonan hijau di sekitar? Bawalah pengalaman ini dalam sebungkus kopi bubuk yang diproduksi oleh Black Eye Coffee. Variannya ada banyak dan juga toko penjualannya juga ada di mana-mana. Salah satu toko besarnya ada di Jl. Sunset Road No.168, Kuta, Kabupaten Badung, Bali .

Revolver Espresso

Revolve Espresso – https://www.instagram.com/revolverespresso/

Jika kamu mengikuti akun Instagram Influencer seperti Eat and Treats (@eatandtreats) dan Anastasia Siantar (@anazsiantar) maka Revolver Espresso bukanlah ‘hal baru’ bagimu. Kafe kecil ini konon menjual espresso paling enak di Bali. Kamu bisa mampir ke kafenya yang berada di Jalan Kayu Aya, Seminyak dan Jalan Petitenget, Kerobokan Bali untuk mencicipinya sendiri. Jangan lupa beli dalam versi bubuk untuk dijadikan oleh-oleh. Kemasannya elegan dan khas, pasti senang deh yang dibawakan.

Bhineka Djaja

Bhineka Djaja – https://www.instagram.com/ariskurniawan_80/

Penggemar kopi sejati nggak bakalan melewatkan Bhineka Djaja sebagai salah satu destinasinya saat liburan ke Bali. Coba sendiri kopi bubuk andalannya seperti varian Arabica yang bikin kamu nggak bisa move on dari kedai kecil di Jl. Gajah Mada No.80, Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar ini. Bawakan beberapa bungkus untuk oleh oleh khas Bali andalan, dijamin nggak menyesal! Kemasannya juga kuat dan ringkas jadi anti rusak deh.

  1. Cokelat

Bicara tentang cokelat, lupakan dulu merek yang kerap kamu beli sebelumnya. Bali punya beberapa merek camilan favorit perempuan ini yang diproduksi dari biji kakao asli Bali. Meski kelihatannya ribet membawa makanan manis satu ini tapi ada triknya kok. Pilih yang kemasannya kaleng atau bawa saja bubuk minuman atau permen cokelat. Di mana belinya?

Pod Chocolate

Pod Chocolate – https://www.instagram.com/podchocolate/

Merek satu ini sudah begitu terkenal sampai-sampai kini sudah dijual di beberapa minimarket yang ada di Bali. Memang rasanya lezat dan juga kini ada kafenya lho! Alamatnya ada di Jl. Tukad Ayung, Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali . Kamu bisa berbelanja aneka varian cokelatnya yang beda dengan merek lain seperti salted peanut, honeycomb dan cranberry. Kalau ingin beli yang isinya nggak gampang hancur, bisa beli selai dan roasted almondnya yang best seller itu.

Ubud Raw

Ubud Raw – https://www.instagram.com/ubudraw/

Apakah kamu dan #girlsquad mu sedang menjalankan pola hidup sehat dan diet? Wah Ubud Raw jadi pilihan oleh oleh khas Bali yang cocok nih! Dibuat dari biji kakao terbaik dan dicampur dengan bahan-bahan lain yang juga bermanfaat baik bagi tubuh seperti goji berry dan aneka kacang-kacangan. Kemasannya juga dari botol kaca yang bisa dipakai kembali, selain enak juga ramah lingkungan. Temukan tokonya di Jl. Raya Sayan 74 & Jl. Goutama 8 Ubud.

Krakakoa Bali

Krakakoa Bali – https://www.instagram.com/krakakoa/

Merek cokelat satu ini nggak usah diragukan lagi, karena kualitasnya juara baik di rasa dan juga kemasannya variatif mulai dari kaleng hingga pouch bag. Kreasi produknya juga bermacam-macam jadi daripada khawatir membawa cokelat batangan bisa beli cacao nibs dan cokelat bubuk. Tokonya juga bagus dan instagram-able, bisa sekalian foto-foto nih. Langsung aja mampir ke Krakakoa yang beralamat di Jl. Raya Seminyak No.57, Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

  1. Sambal Kemasan

Sambal matah sedang hits di mana-mana lho! Kok bisa gitu ya? Ternyata rasanya memang unik, karena nggak diuleg atau dihaluskan. Sensasi mengunyah bahan-bahan kuliner khas yang disiram dengan minyak ini bikin ketagihan. Sudah tahu asalnya darimana? Yup, oleh oleh khas Bali punya! Sekarang sudah tersedia beberapa versi kemasannya lho, jangan lupa juga coba varian sambal lain yang nggak kalah enak:

Rasa Lokal

Rasa Lokal – https://www.instagram.com/rasalokalindonesia/

Oleh oleh khas Bali satu ini sebenarnya adalah keripik yang kemudian dicocol dengan sambal matah. Tapi semakin seru kan karena pengalaman baru ngemil keripik pakai sambal. Sekarang sudah ada tokonya yaitu di Jl. Dewi Sri No.100b, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Borong yang banyak ya! Minta dikemas yang rapi oleh penjaga tokonya dan tinggal tenteng saja untuk dibawa pulang.

Sambal Bu Susan

Sambal Bu Susan – https://www.instagram.com/sambelbususan/

Orang Indonesia biasanya suka makan pakai sambal dan kerupuk, apalagi kalau pedas dan bikin huh hah wah pasti sampai nambah-nambah deh. Jika keluarga dan teman-temanmu adalah sahabat pecinta pedas maka Sambal Bu Susan wajib masuk ke dalam daftar oleh oleh khas Bali yang mau dibeli. Pedasnya nggak main-main tapi bikin ketagihan. Silakan memborong kuliner ini di Jl Pidada IX, Ubung, Denpasar Utara, Ubung, Denpasar Utara, Kota Denpasar.

Sambal Bu Emma

Sambal Bu Emma – https://www.instagram.com/sambal.bu.emma/

Beda dengan Bu Susan yang sambalnya bikin kamu mengelap keringat berkali-kali, racikan Bu Emma lebih ‘bersahabat’ dan variannya juga banyak. Ada sambal uleg, abon ikan dan ayam betutu dengan kemasan botol yang kokoh. Setelah mencicipi gurih dan sedapnya ayam betutu, membawa sambalnya sebagai oleh oleh rasanya cukup ‘adi’ bagi mereka yang mendengar ceritamu. Daripada cuma kebayang-bayang aja kan?

  1. Baju Bali

Siapa yang nggak jatuh cinta dengan baju berbahan rayon dengan motif bunga-bunga khas dan dijahit dengan model yang bisa dipakai sehari-hari ini? Baju Bali cocok untuk jalan-jalan ataupun bersantai di rumah, pilihan modelnya pun banyak. Apalagi warna-warninya menarik, teman-teman pasti senang dibawakan oleh oleh khas Bali satu ini. Ada banyak toko yang menjualnya, beberapa di antaranya adalah: Jl. Krisna Pusat Oleh Oleh (Sunset Road No.88, Kuta, Kabupaten Badung, Bali), Agung Bali Oleh Oleh (Jl. Sunset Road No.18XX, Kuta, Kabupaten Badung, Bali) dan Hawaii Oleh Oleh (Jalan By Pass Ngurah Rai No.28-28, Kuta, Kabupaten Badung, Bali).

Baju Bali – https://www.instagram.com/tropicakhasbali/

Bagaimana, kini bawa oleh oleh khas Bali semakin mudah kan? Aman tanpa khawatir rusak di perjalanan dan yang terpenting semua suka. Selamat berbelanja! Borong yang banyak ya.

 

Sumber : qupas.id

 

Palembang’s Food Guide : Martabak Telur

Well, kayaknya harusnya sih bikin tulisan ini awal-awal tinggal di Palembang ya. Tapi saat itu kayaknya mood nulisku gak jalan karena dipenuhi kegalauan jiwa raga heu. Semoga tulisan-tulisan ini masih relate dengan kondisi sekarang.

Jadi, aku nih punya status merantau ke Palembang. Keluargaku aslinya berada di satu kota kawasan karisidenan Banyumas, Jawa Tengah. Aku kuliah di Bandung dan menikmati asyiknya hidup di kota yang ramai dan kreatif tersebut. Jadi aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Palembang dan awalnya nge-blank sama sekali tentang kota ini.

 

Kenapa pindah ke Palembang?

 

Gejolak kawula muda yang ingin menjelajah tempat baru dan kemudian aku terjebak hahaha. Jujur di awal aku merasa terjebak, makanya sering ngerasa galau. Makin kesini, makin dewasa kali ya (bilang aja tua), mencoba menikmati saja yang diberi. *Soalnya mencoba kabur gagal terus, huh*

Tulisan ini bakal jadi tulisan pembuka dari seri cerita tentang kehidupan di Palembang. Gimana sempat kagetnya aku sama beberapa hal di Palembang yang rasanya beda banget. Hahaha. Pengennya sih seri ini dibuat khusus jadi kayak Palembang Life Guide. Tapi kok kesannya namanya gitu banget ya?

Intinya sih, aku mau cerita tentang Gagap Palembang yang sempat aku alami. Jadi siapa tau ada yang mau datang ke Palembang, bisa kenalan sedikit sama Palembang dari tulisan ini hehehe. Tulisan pembuka adalah soal…

Martabak Telur di Palembang.

 

Pertama kali aku di Palembang, aku diinepin di wisma tempat aku kerja bareng teman-teman lain sesama rekrutan Bandung. Ada yang punya saudara di Palembang terus bawain Martabak Telur.

Wah, begitu denger martabak telur yang kebayang martabak yang isinya campuran telur dikocok bareng daun bawang dan daging cincang. Temennya adalah acar (potongan timun dan sayuran).

Martabak Telur dalam bayangan – sumber : IG sukmawati_rs (resepkoki.id)

Ternyata martabak telur di Palembang bukan yang seperti itu saudara-saudara.

Martabak telur di Palembang adalah martabak yang isinya telor utuh. Kayak telor yang diceplok di atas kulit martabak jadi beneran kuningnya keliatan gitu di salah satu sisi potongannya. Kulitnya cenderung agak basah (kurang crispy). Cocolannya pun beda, yaitu kuah kari. Bagi yang doyan rempah, kuah kari dengan potongan kentang di dalamnya ini juara banget. Ada pula semacam saus manis yang agak pedas dengan potongan cabe rawit.

Martabak telur di Palembang yang paling terkenal adalah Martabak HAR. Makanya ada yang juga yang menyebut martabak telur Palembang ini martabak HAR. Martabak HAR berasal dari nama orang yaitu Haji Abdul Razak dan kini telah  banyak pula cabangnya. Tapi, beda cabang beda rasa pula menurutku. Cabang yang konon rasanya paling otentik ada di Jalan Jenderal Sudirman agak di sebrang Masjid Agung, jalan pas pengkolan. Di sana jual juga nasi minyak.

Kalau tempatnya sendiri, di Martabak Har yang ini kesannya ‘warung’ banget alias sangat sederhada dan ada kesan jaman dulu. Kita juga bisa request mau telur ayam atau telur bebek.

Selain bisa dibeli di Martabak HAR, martabak telur Palembang juga bisa ditemui di pasar-pasar tradisional atau penjual jajanan khas Palembang. Ada pula tempat makan yang menawarkan menu khas Arab atau India seperti Teh Aba atau HARBESS yang juga menjual martabak telur yang beneran isi telur. Yang jelas, martabak telur Palembang dengan kuah kari merupakan salah satu kuliner wajib coba kalau mampir ke kota Palembang.

Terus gimana kalau kangennya sama martabak telur yang ada dagingnya?

Setelah hampir 6 bulan di Palembang (waktu itu), aku baru tau kalau ada penjual gerobakan pinggir jalan yang jualan Martabak Malabar. Untuk yang pernah makan martabak telur di Pulau Jawa, martabak ini hampir mirip. Sama-sama isi kocokan telur dengan potongan daging, daun bawang, dan bawang bombay dan kulitnya garing kriuk-kriuk. Bedanya, biasanya martabak malabar ini ada rasa bumbu karinya atau rempah-rempahnya cukup kuat. Selain itu, menurutku juga lebih tipis dibanding martabak telur pada umumnya.

Martabak malabar biasanya dijual di pinggiran jalan dan baru ada sekitar sore menuju malam hari. Walaupun udah ketemu martabak telur yang gak cuma isi telur, rasanya masih aja kangen martabak telur ‘beneran’ versi aku.

Setelah pencarian panjang, ketemulah sama Martabak Alim Palembang yang selain jual martabak manis juga martabak telur ‘beneran’ (seperti gambar martabak telur yang pertama) dan campuran bumbunya bukan kari (gak rempah banget) serta tebalnya pun lumayan. Cocolannya pun walau serupa tampilannya, ternyata bukan cuko seperti cocolan pempek. Lebih mirip campuran pendamping kari di Martabak HAR. Manis pedas jelas terasa.

Semakin lama, akhirnya yang jual martabak telur ‘beneran’ di Palembang makin banyak. Pilihanku sih Martabak Sari Eco atau Martabak Techno yang dekat rumah saja.

Nah, sekian cerita tentang dunia martabak telur di Palembang. Jadi jangan kaget kalau datang ke Palembang dan diajak makan martabak telur ternyata dapatnya beneran isi telur utuh tanpa campuran apapun dan kuahnya kari, karena memang begitulah martabak telur khas Palembang.