Gogo Voucher, Teman Jajan Hemat di Kota Palembang

Sebagai kaum yang ngakunya biasa-biasa aja (ya ngaku berkecukupan aja lah, pas mau apa uangnya cukup), kadang pengen ikut-ikutan gaya hidup keren-keren asyik layaknya sosialita. Tapi, ingat-ingat kantong, ingat-ingat cicilan, bikin mikir-mikir juga. Paling enak sih kalau bisa ngikut gegayaan makan enak mahal kalau ditraktir alias gratisan. Eh, tapi siapa saya, mana ada yang mau bayarin gratisan. Hehehe.

Di sekitar tahun 2010-an, rasanya muncul banyak banget situs-situs yang nawarin diskon-diskon gitu. Yang saya inget dulu ada namanya Disdus, terus ganti nama karena gabung sama Groupon, trus sekarang kayaknya ganti nama lagi jadi Fave. Banyak juga situs lainnya dan sekarang bahkan ada aplikasi di AppStore atau GooglePlay. Sayangnya, kebanyakan dari situs yang nawarin diskon ini, lokasi merchantnya ada di sekitar Jabodetabek, Bandung, Denpasar, Surabaya, atau Yogyakarta. Jadi, untuk yang hidupnya di kota yang ga terlalu metropolis macam Palembang ada plus minusnya. Plusnya kita dijauhkan dari kehidupan hedonis pengen jajan, minusnya ketika pengen jajan bisa jadi kita harus ngerogoh kocek tanpa harga diskon.

Beberapa waktu lalu, saya iseng download aplikasi Fave, eh ternyata 20Fit Palembang nawarin voucher diskon dan kemudian ada promo juga dari Pepper Lunch. Setelah itu, promo diskon melalui voucher atau kupon diskon Pepper Lunch ga ada lagi. Yah, susah deh jajan mahal enak tapi berasa murah. Di saat sedih gak nemu promo lagi, eh ngedenger di radio kalau ada yang namanya Gogo Voucher di Palembang. Jadi, Gogo Voucher ini situs yang menawarkan kupon diskon mulai dari kecantikan, liburan, makanan & minuman, dan lain-lain. Cakupannya didominasi di area Palembang.

Iseng-iseng nyoba deh, kali ini nyoba Paket Makan Siang Berdua Bebek Harissa seharga Rp 80.000,- dari harga aslinya Rp 120.000,-. Lumayan kan ngehemat uang jajan dikit.  . Proses untuk beli voucher di Gogo Voucher juga gampang sih. Kita bisa pilih promo voucher yang mau dibeli, lalu bayar dan konfirmasi, setelah itu datang ke merchantnya deh. Untuk lebih lengkapnya lagi, bisa dicek di gambar berikut.

Cara Transaksi Dengan Gogo Voucher

Saat datang ke merchant misalnya restoran gitu, ada baiknya pas mesan langsung bilang mau pakai Gogo Voucher, tunjukkin voucher yang ada di handphone kita, nanti petugas restoran akan memvalidasi. Eh tapi entah saya yang salah atau pihak restoran yang salah, saya kan pesan Paket Makan Siang Berdua Bebek Harissa yang isinya 1/2 ekor bebek goreng, 1 Soto daging babat, 2 nasi putih, dan 2 es teh manis. Trus pas dateng 2 es teh manis, 1 Soto daging babat + 1 nasi putih, 1/2 ekor bebek goreng + 2 nasi putih. Alias nasinya kelebihan 1 sih. Tau aja kita gak cukup nasinya cuma 2.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Bebek Harissa ini secara lokasi cukup strategis lah ya, ada di hampir pusat kota Palembang. Tempat parkir luas, tempat makannya juga lega, bisa buat ramean bahkan ada tempat karaokenya, menunya selain bebek ada soto juga. Bebek gorengnya garing ya, setengah bebek juga potongannya besar, dan yang jelas sambelnya juwara, bikin keringetan sih.

Pembayaran untuk pembelian di GogoVoucher baru bisa melalui bank Mandiri dan bank BCA. Pembeli juga harus konfirmasi lagi dan ada jeda cukup lama antara waktu konfirmasi sampai dikirimin voucher, sempet khawatir kalau vouchernya ga nyampe soalnya sekitar 1 jam-an rasanya baru dikirimin. Saya sih pengennya untuk ke depan Gogo Voucher ini ada aplikasinya di smartphone biar gampang gitu. Merchant juga bisa tinggal tap-tap langsung kan. Terus ya merchantnya sih pengennya nambah lah, makin banyak juga. Selain itu tentunya urusan konfirmasi dan pengiriman voucher lebih cepat dan pembayaran juga bisa lebih banyak channelnya.

Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

Selama libur 3 hari yang bertepatan dengan libur Natal yang lalu, saya sekeluarga main ke Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Sekilas tentang Pulau Bangka dan cerita liburan hari pertama bisa di baca di  Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]  dan ini adalah lanjutan cerita di hari kedua dan ketiga….

Day 2 (24 Desember 2017)

Hujan membasahi kota Pangkal Pinang pagi itu. Rencana ingin berenang pagi harus kandas. Rencana ingin ke Alun-Alun Merdeka untuk olah raga sepertinya juga pupus. Alhasil, malah malas-malasan di Menumbing Heritage Hotel sampai jam 9 pagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Karena ingin ke pantai lagi, akhirnya kita menuju Sungailiat, tepatnya menuju Pantai Tongaci karena ada penangkaran penyu di sini. Sampai di Pantai Tongaci masih sedikit gerimis dan biaya masuknya Rp 5.000,-. Penangkaran penyu Tukik Babel memiliki kolam yang digunakan untuk penangkaran penyu, ada pula yang bentuknya keramba di dekat pantai. Kita bisa melihat langsung penyu-penyu yang berenang. Pada saat tertentu akan ada pelepasan penyu ke laut. Di sini terdapat 2 jenis penyu yaitu penyu hijau dan penyu sisik. Untuk informasi lengkap tentang Tukik Babel bisa mengunjungi Facebook Tukik Babel.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dekat dengan penangkaran penyu Tukik Babel, terdapat sebuah kompleks wisata De Locomotief. De Locomotief memiliki fasilitas berupa restaurant seafood, combi tiam (warung kopi dan minuman dengan tampilan vw combi), perpustakaan lengkap dengan area untuk anak bermain, art shop, art gallery, area pijat refleksi, museum, patung terracota dan binatang buatan, dan pantai tentunya. Untuk museum, anak-anak dilarang masuk. Jadi saya ga masuk karena ya ga enak aja cuma salah satu yang masuk anak ditinggal *ceritanya baik*. Sementara itu di art shop tidak boleh mengabadikan gambar sama sekali. Di area perpustakaan, ada tempat duduk dan bisa bersantai sejenak sementara anak main balok-balokan. Koleksi bukunya cukup lengkap dan beragam. De Locomotief penuh dengan hiasan payung jadul yang menggantung. Cukup instagramable lah bagi yang pandai mengambil foto atau paling tidak banyak spot untuk berfoto. Menutup kelaparan, kami memesan roti panggang khas Bangka dan kopi di Combi Tiam sebagai bekal menuju tujuan lainnya. Oh iya, di sekitar De’Locomotief ini tersedia beberapa pilihan watersport mulai dari Jetski, Banana Boat, sampai Snorkeling dan Diving.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Daerah Belinyu menjadi tujuan kami berikutnya. Sebuah daerah yang masih masuk Kabupaten Bangka dan berada di bagain utara pulau. Konon, banyak pantai di daerah ini, tapi yang paling utara adalah Pantai Penyusuk. Kami pun menuju ke sana. Butuh sekitar 1.5 jam lebih dari Sungailiat menuju Pantai Penyusuk. Harga tiket masuknya Rp 3.000,-. Ombak di Pantai Penyusuk terlalu besar. Konturnya masih sama, dipenuhi oleh banyak batu besar. Di sekitar pantai terdapat warung-warung yang menjual otak-otak atau mie instan. Hanya saja agak sedikit kurang terawat rasanya. Sempat menyimpulkan, kalau harga tiket masuk Rp 3.000,- jangan punya ekspektasi tinggi terhadap lingkungan pantai. Kalau harga tiket Rp 5.000,- bisa dapat pantai yang ada resto atau paling tidak lebih terjaga.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebenarnya kami sudah kelaparan, tapi cari makan di sekitar Belinyu berakhir zonk karena entah kurang banyak referensi dan sinyal juga agag igig ga jelas. Akhirnya secepat mungkin kembali ke Pangkal Pinang karena Bojo juga merasa lebih baik makan di Pangkal Pinang yang lebih banyak pilihan. Akhirnya lewat Sungailiat pun sekedar lewat padahal ada restoran seafood yang menggoda karena ramai. Sempat mampir di daerah Merawang karena katanya ada Danau Kaolin dan berakhir zonk juga karena nyasar. Akhirnya kami sampai di depan BES Cinema, sebuah bioskop di Bangka yang di depannya ada area foodcourt. Penasaran dengan Tahu Kok, kami memesan Tahu Kok Yen Yen untuk mengganjal perut. Tahu kok seperti layaknya bakso namun penuh dengan bakso ikan dengan kaldu gurih. Kuahnya sedap dan sudah halal. Kenapa namanya Tahu Kok, mungkin karena selain bakso ikan kukus dan goreng, ada juga tahu dengan isian bakso ikan yang juga dikukus dan digoreng yang berada dalam semangkok masakan ini. Beruntungnya mampir di foodcourt, karena saking kelaparannya, kita bisa nambah lagi menu lain seperti nasi bakar.

 

 

 

Lelah menyetir membuat Bojo ingin leyeh-leyeh di hotel saja. Eh, tapi anak minta berenang. Akhirnya berenang juga di hotel. Malamnya kami mencoba restaurant seafood lain yaitu Fresh Seafood Aju. Restoran ini terkenal dengan menu Kepiting Asap dan Terong Telor Asin. Rasanya…..Mantcaaappp bana. Apalagi kalau minumnya Es Kiamboy. Asem-asem seger lah. Cuma, setelah itu pas bayar rasanya hmmmm…. berdua sekitar Rp 225.000,-. Cukup lumayan sih, mengingat menunya ad a kepitingnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Keinginan mampir di Alun-Alun Merdeka batal karena penuh dan cukup susah dapat parkir. Akhirnya berburu oleh-oleh saja. Oleh-oleh wajib dari Bangka adalah Getas (seperti krupuk bulat yang teksturnya agak keras dan ikannya terasa), Kripik Telur Cumi, Rusip (fermentasi ikan), sirup jeruk kalamansi / jeruk kunci, , dan terasi tentunya. Sembari mengelilingi kota lagi, kami melihat jejeran pedagang buah durian di sepanjang jalan seberang kantor PT Timah. Tergoda untuk mencoba Durian Bangka, kami pun mampir. Sebuah pengalaman berbeda kami dapatkan saat jajan durian di Pangkal Pinang, penjualnya baik dan detail bertanya apa yang dimau.

Pedagang Durian (PD) : Silahkan kak, mau yang mana ?
 Bojo (B) : Kalo yang ini gimana kak? *menunjuk durian yang diletakkan di bawah bertuliskan 100ribu / 3 durian*
 PD : Itu, biasa aja kak, manis pahit. Kakak mau yang manis sedeng atau manis pahit? Kalau manis sedeng, kami kasih durian yang dagingnya kuning atau durian tembaga. Kalau yang manis pahit yang di bawah itulah, dagingnya putih.
 B : Yang manis biasa aja, jangan yang ada pahitnya.
 PD : Oke, kak, yang ini aja *dia ambil yang dipajang di atas* 40.000 satunya. 
 B : Yo, ambil dua ya kak
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya merasakan penyampaian informasi tentang per-durian-an ini penting. Biasanya kalau makan di Pasar Kuto Palembang cuma bilang, “yang manis ya kak, kalo gak puas, kami tukar”. Buat pelajaran aja, besok-besok requestnya “Yang manis, dagingnya kuning”. Selagi saya makan, ada ibu-ibu lain mau beli dan request detail “Mau duren manis, yang banyak dagingnya” dan pedagangnya menawarkan durian tembaga. Beberapa teman yang memiliki kerabat dari Bangka pernah menyampaikan kalau Durian Bangka lebih enak daripada Durian Palembang. Walau sama-sama lokalan (bukan Durian Bangkok), menurut saya itu benar adanya.

Hari kedua liburan di Bangka kesimpulannya adalah : Masih puas main di pantai dan makan enak.

Day 3 (25 Desember 2017)

Pesawat kami sekitar pukul 13.55 yang berarti harus cek in sekitar pukul 12.00. Cocok dengan waktu cek out. Kami memutuskan keliling kota Pangkal Pinang saja. Kami kembali mengelilingi kota dan mampir ke Museum Timah. Sebagai daerah penghasil timah di Indonesia dan lokasi di mana PT Timah berada, maka wajar rasanya kalau di kota ini berdiri Museum Timah. Di museum ini kita bisa belajar tentang sejarah tentang timah di Indonesia yang dimulai sejak penambangan zaman Belanda serta perkembangan teknologi saat ini. Biaya masuknya gratis juga.

Dari Museum Timah, saya berburu oleh-oleh lain sekalian mengganjal cacing di perut yang berteriak lagi. Otak-otak khas Bangka. Ada dua tempat yang terkenal yaitu Otak-Otak Ase dan Amui, namun yang kebetulan kami temui adalah Otak-Otak Amui. Harga satuan otak-otak bakar adalah Rp 2.500,-. Dengan dua sambal yang diberikan sambal yang agak asam (taoco) dan sambal yang agak berbau terasi. Otak-otak Bangka menurut saya beda dengan otak-otak Palembang, beda pula dengan Batam yang biasanya kecil-kecil, beda pula dengan otak-otak Bintan yang daun pembungkusnya beda. Otak-otak Bangka lebih harum. Menurut nenek (pengasuh Mahira yang jago masak), karna banyak santannya jadinya wangi. Penasaran deh, kapan-kapan nyoba bikin lah. Kalau khilaf.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Setelah itu, kami istirahat sebentar di hotel, lalu mengurus check out dan bergegas ke Bandara Depati Amir. Walaupun terbilang kecil, boarding gate hanya ada 2, tapi ruang tunggunya cukup memadai. Di area luar ada Dum-Dum Thai Tea, restaurant Kopi Tung Tau (selain kopi dan roti panggang ada menu lain juga), CFC Indonesia, dan Otak-Otak Asui. Bahkan ada Zoomoov, itu mainan semacam hewan-hewanan buat anak keliling bandara. Di ruang tunggu atas, ternyata makanan juga ada mulai dari restoran padang, Maxx Coffee, Bakso Lapangan Tembak, dan semacam mini market kecil. Ada playground untuk anak yang bersebelahan dengan Zoomoov.id tapi zoomoov untuk mewarnai gitu. Ada televisi yang menampilkan informasi tentang cuaca. Ada juga ruang untuk menyusui yang nyaman. Daaaaaaaaaaaan akhirnya Nam Air yang kami tunggu untuk membawa kami kembali ke Palembang mulai memanggil. Perjalanan ke Palembang lancar, sampai rumah juga lancar, lanjut cuci-cuci dan meneparkan diri karena besok langsung kerja.

Hasil dari 3 hari 2 malam di Bangka adalah : Ternyata kurang waktunya untuk eksplor sana sini. Pulau Bangka terdiri dari 5 kabupaten/kota, namun kami hanya terfokus di bagian Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka (Sungailiat). Kalau ada kesempatan naik mobil lalu menyebrang dengan Ferry, di Bangka Barat (Muntok) ada rumah yang pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno, di Kabupaten Bangka Tengah juga banyak pantai dan kami belum sempat ke Danau Kaolin Koba yang ternyata ada di daerah ini, Pantai di Belinyu juga banyak yang belum kami lihat, wisata lain seperti kuil belum juga. Urusan kuliner, kami baru mencoba Mie Koba dan Roti Panggang khas Bangka aja, padahal pengen nyoba Lempah (seperti pindang tapi khas Bangka), belum nyoba lalapan pakai rusip, belum nyoba Martabak Bangka yang dijual di Bangka. Intinya sih, pengen ngulang lagi ke Bangka 🙂 Semoga ada kesempatan dan rejeki lagi.

Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]

Pulau Bangka merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung, merupakan destinasi wisata yang umum didatangi oleh orang Palembang. Itu menurut saya sendiri ya. Beberapa hal yang mendasari asumsi saya adalah dulu Bangka Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatera Selatan, jadi ada kekerabatan gitu lah. Ketika awal saya pindah ke Palembang tahun 2011, Pulau Bangka jadi obyek wisata pantai yang paling mudah dijangkau karena ada kapal langsung dari Pelabuhan Boom Baru dan pesawat langsung ke Pangkal Pinang. Sekarang, ketika banyak destinasi penerbangan lain dari dan ke Palembang, intensitas pesawat ke Pulau Bangka juga meningkat.

Beberapa kali saya mendapatkan ajakan ke Pulau Bangka. Pertama di tahun 2012 bersama teman-teman se-perantau-an di Palembang. Satu rekrutmen bareng dari Bandung dan beberapa diantaranya mengontrak bersama. Salah satu teman kontrakan ini berasal dari Sungai Liat. Tapi ada juga ajakan teman kuliah untuk ke Singapore. Kangen teman kuliah dan pengen ngecap paspor lagi, akhirnya saya ke Singapore. Di tahun 2014, ajakan datang lagi dari teman-teman se-unit kerja. Eh, kok barengan sama rekrutmen yang lagi diikutin. Yaudah batal deh dan gagal lolos pula. Ah, elah.

Di bulan April 2017, saya dapat ajakan main ke Pulau Belitung. Secara nama memang Pulau Belitung rasanya lebih terkenal dari Pulau Bangka, terutama karena julukan Negeri Laskar Pelangi. Terus, entah kenapa saya ngerasa, ih, kok Bangka yang lebih deket belum pernah didatengin, malah Belitung udah pernah. Eh, pas pula sama muncul iklan hotel Menumbing Heritage. Penasaran nyoba nginep di sana dan akhirnya booking dapat tanggal 23-25 Desember 2017. Oke, hotel udah baru booking tiket pesawat.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dari Palembang ke Pulau Bangka sebenarnya bisa ditempuh dari 3 cara, naik pesawat langsung dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke kota Pangkal Pinang, (40 menit), naik kapal cepat dari Pelabuhan Boom Baru ke Muntok (+/-3 jam), atau naik ferry dari Pelabuhan Tanjung Api-Api ke Muntok. Secara harga, memang pesawat lebih mahal sih dari kapal cepat, tapi kadang bisa sama juga kalau pesan jauh-jauh hari. Kalau bawa mobil sendiri dan naik ferry, ada biaya untuk mobil sendiri dan itu juga lumayan, seharga satu tiket pesawat. Secara waktu, dari Palembang ke Tanjung Api-Api butuh waktu 2 jam lebih, dari Muntok ke Pangkal Pinang butuh waktu sekitar 3 jam. Alasan libur yang sebentar, anak masih kecil (khawatir cranky di perjalanan laut), bikin kami memilih naik pesawat aja. Penerbangan langsung dari Palembang ke Pangkal Pinang dioperasikan oleh beberapa maskapai mulai Wings Air, Sriwijaya Air, Nam Air, dan Garuda Indonesia dengan kisaran harga mulai 250.000 (kalau jauh-jauh hari) sampai 700.000-an (kalau mepet-mepet) sekali jalan.

Sejak berkeluarga, apalagi punya anak sendiri, tipe liburan saya sekarang santai aja. Gak ngoyo harus ke sana ke sini. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi pendukung liburan seperti Trip Advisor dan apa-apa bisa dicari di Google. Jadi, saya ga bikin itenary apapun. Hehehe. Berikut cerita perjalanan 3 hari 2 malam di Pulau Bangka. Akan dibagi jadi 2 bagian karena panjang 🙂

Day – 1 (23 Desember 2017)

Gerimis sisa hujan deras mulai menyapa kota Palembang pada pagi hari itu. Sejak semalam, saya mencoba memesan taxi Blue Bird dengan menu advance booking karena flight jam 07.55 artinya saya dari rumah harus pergi jam 06.15 paling lama. Dulu, awal Blue Bird masuk Palembang, nyari taxi ke bandara untuk flight pagi susah banget, kalau nelpon mendadak sering ga dapat, kalau nelpon malam sebelumnya malah nawarin jemput pagi banget biasanya. Dengan fitur advance booking, kita bisa pastikan bookingan kita telah tercatat dan benar saja, sekitar jam 06.00 driver Blue Bird sudah menghubungi saya.

Boleh dibaca : Mau Keliling Palembang, Pake Blue Bird Aja


New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Proses check in termasuk cepat. Sayangnya ternyata pesawat didelay sampai batas waktu yang belum diketahui. Beruntungnya karena delay saya jadi bisa mencoba Nursing Room yang ada di Bandara SMB II ini, foto-foto sama maskot Asian Games 2018, foto di Rumah Limas, dan jajan Chatime. Untuk area playground anak di ruang tunggu bandara masih sedikit kotor, tapi sudah lebih rapi dibanding bulan September lalu. Akhirnya panggilan boarding datang dan penerbangan pun mulus selama 40 menit. Rasanya baru naik, duduk, dikasih snack dan minum, eh udah dikasih tau siap mendarat aja.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sampai di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang, kira-kira sekitar pukul 10.00. Kebetulan saya menyewa mobil dari Bangka Tour (0812 8298 8898 / 0852 6999 9927) dan lokasi pengantaran mobil di bandara. Harga sewa mobil per hari tanpa supir adalah Rp 350.000,-. Sambil menunggu transaksi selesai, saya sempat foto-foto dulu di sekitar Bandara Depati Amir.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Dari bandara, tujuan pertama kami adalah mengisi tenaga di Mie Koba Iskandar. Mie Koba merupakan mie khas Bangka yang terdiri dari mie kuning dan tauge yang disiram dengan kuah ikan. Saat datang di pagi hari, warung mie ini tidak terlalu ramai. Mie kuningnya terasa kenyal dan kuah ikannya sedap sekali. Topping bawang goreng juga semakin menggugah aroma. Oh ya, walaupun kuahnya ikan, saya sama sekali tak merasakan bau amis, malah ada rasa manis-manis gurih gitu deh. Sebagai teman makan mie ini, di meja disediakan telur rebus sementara itu untuk menghilangkan seret setelah makan mie kita bisa minum air mineral kemasan gelas yang tersedia di meja atau teh botol yang bisa diambil dari cooler box. Sebuah keunikan terjadi saat membayar.

Bojo (B) : Mba, mau bayar, mie nya dua..
 Mba-Mba Mie Koba (M) : Empat puluh ribu..
 B : Tambah telor dua
 M : Empat puluh ribu
 B : Teh botolnya juga dua
 M : Empat puluh ribu

Bojo pun bingung harga telor dan teh botol aslinya berapa di sini. Jadi anggap saja begini, makan di Mie Koba Iskandar ini seporsi Rp 20.000,-. Daripada nyesel makan kurang kenyang, mending tambah telor. Abis makan biasa seret dan haus kan ya, jadi mending sekalian pesan minum aja.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Selepas makan Mie Koba, kami meluncur ke Bangka Botanical Garden (BBG), yang merupakan kawasan agrowisata di kota Pangkal Pinang. Kawasan BBG terdiri dari beberapa bagian antara lain hutan pinus, perkebunan, peternakan sapi, saung untuk makan di area BBG cafe, restaurant, dan warung susu sapi segar. Sebenarnya di area peternakan sapi, pengunjung bisa melihat proses pemerahan sapi langsung. Namun, menurut informasi pemerahan dilakukan pukul 08.00 pagi atau 14.00 siang. Kalau tidak bisa melihat proses pemerahan susu sapi, kita bisa memberi makan sapi-sapi secara langsung. Sebuah pengalaman yang juga akan disenangi oleh anak-anak. Di area perkebunan, kita bisa memanen langsung hasil kebun dan membelinya nanti. Kawasan BBG ini kerap dijadikan area untuk pre-wedding juga. Sehingga saya pun tak lupa berfoto-foto. Terakhir, jangan lupa menikmati susu segar yang warungnya berada persis di depan pintu masuk/keluar BBG. Bisa buat bekal perjalanan. Biaya masuk BBG masih gratis, namun saat memberi makan sapi bisa memberikan uang ke kotak untuk mendukung biaya perawatan. Makan atau jajan susu segar juga bisa membantu mendukung area wisata ini.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tempat wisata yang bisa dikunjungi dekat dengan BBG adalah Pantai Pasir Padi. Hanya sekitar 5 menit dari BBG, kita akan masuk ke area Kawasan Pantai Pasir Padi. Biaya masuk sekitar Rp 4.000,-. Pantai Pasir Padi termasuk pantai dengan garis pantai yang panjang. Areanya sudah dilengkapi WC Umum, warung di sekitar, Restaurant Seafood, bahkan ada juga resort yang sedang dibangun. Sayangnya, di akhir bulan Desember, laut sedang pasang dan ombak pun cukup kencang sehingga tak tampak banyak orang yang bermain di pantai ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tak terlalu lama di Pantai Pasir Padi, kami mencoba mencari hal menarik yang ada di dekat area ini. Ternyata ada Jembatan Emas. Jembatan Emas ini sangat jelas terlihat saat kita akan mendarat di Pulau Bangka. Merupakan sebuah ikon wisata baru di Pulau Bangka yang merupakan jembatan dengan sistem buka tutup. Saat datang kesana, jembatan ini sedang terbuka. Banyak juga yang datang untuk foto-foto dengan latar belakang jembatan ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tiba saatnya cacing di perut meronta minta asupan makanan. Namanya juga trip labil, kami kembali ke area kota Pangkal Pinang dan berakhir makan di Restauran Mr. Adox setelah sholat dhuhur terlebih dahulu. Restoran Seafood Mr. Adox ini berada di simpang jalan. Sangat mudah ditemui dari arah bandara menuju pusat kota. Restoran ini cukup besar dan termasuk populer di Pangkal Pinang. Di salah satu sisi terpampang foto-foto orang penting yang pernah datang ke sini. Halaman resto terbilang cukup untuk menampung banyak mobil. Pelayanan juga sigap. Kalau dirasa-rasa sih, secara harga dan namanya juga restaurant ya, jadi memang sedikit mahal dan porsinya pun tak terlalu besar. Tapi secara rasa emang bikin puas sih. Udang plus petenya, mantapppppp! Ya, setelah itu sih sempat kaget saat tagihan sekitar Rp 200.000, untuk berdua.

 

Kenyang makan, kayaknya perlu aktivitas lain nih. Check in di hotel belum bisa. Akhirnya kami menuju Sungailiat, Kabupaten Bangka. Di Sungailiat, pilihan pantai pun semakin banyak. Salah satu yang paling terkenal adalah Pantai Parai Tenggiri. Sudah mengikuti petunjuk jalan, tapi kami ragu kenapa diarahkan ke resort. Ternyata memang Pantai Parai Tengiri ini bagian dari resort Pantai Parai Beach & Resort dan dikelola secara khusus. Untuk masuk area resort sih boleh saja, ada restaurant juga. Tetapi, kalau mau masuk area pantai harus membayar lagi Rp 25.000,-. Sebelumnya kami sempat menyasar sebentar ke Pantai Matras dan bermain di sana sebentar saja. Ombak cukup besar, tetapi tak menghalangi foto-foto. Di area Pantai Matras sedang ada pembangunan juga. Warung dan tempat bilas dapat ditemui di sekitaran pantai ini. Masuk ke kawasan Pantai Matras dikenakan biaya Rp 3.000,-.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dari Pantai Parai, kami berniat kembali ke Pangkal Pinang lagi. Eh, kok ada motor masuk sebuah jalan kecil. Bojo curiga, dan bilang, biasanya kalau orang jalan naik motor nemu pantai bagus tuh. Yasudah, kami ikuti dan menemukan fakta, sebenarnya pantai di Pulau Bangka memiliki kontur mirip dengan pantai di Pulau Belitung yang didominasi batuan besar dan tinggi. Tapi sepertinya memang secara pengelolaan lebih baik di Pulau Belitung.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Menuju Pangkalpinang, kami melalui jalur yang berbeda saat menuju Pantai Parai. Memilih Jalan Laut di Google Maps, membawa kami menemukan Pantai Batu Bedaun. Pantai ini sepertinya sedang dalam pengembangan untuk dibangun resort. Kami menemukan sebuah restaurant yang cukup besar dengan area permainan di sekitarnya. Karena baru saja makan seafood, kami pesan yang normal saja : Nasi Goreng Seafood dan Mie Goreng Seafood. Enaknya makan di restauran pantai dengan area permainan yang cukup, waktu menunggu jadi tak berasa karena anak bisa bermain ayunan atau bermain pasir. Secara rasa sih, enak sayang terlalu banyak minyak di makanannya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Selesai makan, Mahira mulai ngantuk dan waktu juga sudah menjelang sore. Akhirnya kali ini beneran kembali ke Pangkal Pinang tanpa mampir-mampir lagi. Saat menuju Hotel Menumbing Heritage, kami melewati Alun-Alun Merdeka yang sudah ramai sore itu. Mau mampir tapi badan lengket. Akhirnya diputuskan cek in di hotel dulu dan besok pagi saja sekalian olah raga.

 

Baca juga : [Review] Menumbing Heritage Hotel, Penginapan dengan Bangunan Bersejarah di Pangkal Pinang

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Malamnya kami mencoba Warung Ikan Bakar Bogi-Bogi. Sebuah warung kecil yang sempat saya baca sekilas saat menuju hotel sore hari. Walaupun warungnya kecil, tapi ternyata di malam hari cukup ramai. Pengunjung bisa memilih ikan yang dimau, beragam ikan laut seperti kakap merah . Setelah itu bisa dipilihkan juga mau dimasak apa. Kami request dibakar saja. Sebagai pendamping, ditawarkan pula kangkung dengan pilihan mau ditumis balacan (terasi) atau bawang putih. Ikan bakar pun datang bersama dua jenis sambal, salah satunya adalah sambal dabu-dabu. Rasanya, pas asem-asem pedes gitu. Harganya juga ramah di kantong. Makan berdua dengan dua ikan plus minum sekitar Rp 100.000,-. Kenyang, murah, enak. Tapi berhubung ramai ya kudu sabar dikit.

Kelar makan, kami semua kenyang dan berakhir keliling kota aja malam-malam lanjut ke hotel terus tidur pulas………

Jangan lupa baca lanjutannya 😀 di Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

 

Menjejak Dieng Negeri di Atas Awan, Tempatnya Para Dewa

Sebagai keluarga perantauan, mudik menjadi saat-saat yang menyenangkan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Biasanya, kita akan bernostalgia dengan kampung halaman atau mungkin hanya bersantai di rumah saking kangennya sama keluarga. Rasanya ketika mudik malah ke luar rumah untuk bermain rasanya agak gimana gitu, gak enak sama keluarga. Hal itu pun biasanya saya lakukan. Kalau mudik ke Purbalingga, paling main cuma ke Purwokerto yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 30 menit.

Biasanya mudik dilakukan di waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah. Namun, waktu-waktu tersebut biasanya jadi momen ‘rebutan’ cuti dengan rekan kerja lainnya. Berhubung anak belum sekolah, saya dan suami biasanya mengambil jatah cuti bukan saat liburan sekolah. Sayangnya, hal ini jadi gak sinkron sama kondisi di rumah. Ibu masih mengantar adik ke sekolah, keponakan juga masih sekolah. Akibatnya, di rumah jadi sepi dan malah pengen main-main ke luar rumah.

Sebenarnya di daerah Purbalingga sendiri banyak wisata alam seperti curug, kebun strawberry, atau tempat lainnya. Bisa cek di instagram Wisata Purbalingga ini. Tapi, saya pengen mencoba ke tempat lain. Setelah labil mau ke pantai di Cilacap atau daerah gunung di area Banjarnegara dan Wonosobo, akhirnya kami memutuskan ke Dieng saja karena Bojo pengen makan Mie Ongklok di Wonosobo.

***

Dieng, Negeri di Atas Awan

Dataran Tinggi Dieng, sering dikenal dengan nama Dieng saja, adalah salah satu kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Kawasan Dieng ini masih merupakan kawasan vulkanik (gunung berapi) aktif. Di pertengahan bulan September lalu, Kawah Sileri, salah satu kawah di Dieng sempat dinyatakan sedang aktif dan memiliki status waspada.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Jarak Purbalingga ke Dieng sekitar 90 km, kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil yang kami tempuh melalui jalur arah Banjarnegara. Untuk wisatawan lain, menuju Dieng jika dari Jakarta dapat menggunakan kereta melalui Purwokerto lalu dilanjut bis ke arah Wonosobo. Bisa juga bis langsung menuju Wonosobo dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Suguhan alam asri khas pegunungan dengan sawah yang membentang akan tampak saat mendekati Dieng. Jalanan memang berkelak kelok naik, namun tak terlalu membuat pusing atau tak nyaman di kendaraan.

Dataran Tinggi Dieng memiliki ketinggian 2.093 mdpl dan berasal dari bahasa sansekerta yaitu ‘Di’ yang memiliki arti tempat tinggi dan ‘Hyang’ yang memiliki arti kayangan. DiHyang alias Dieng dapat diartikan sebagai tempat tinggi untuk dewa dan dewi tinggal. Begitu memasuki kawasan Dieng, rasanya hawa dingin semakin terasa. Sempat saya mematikan Air Conditioner (AC) di mobil dan membuka jendela untuk menikmati udara segar khas pegunungan.

Kawasan Wisata Dieng memiliki beberapa tempat yang dapat dituju untuk melihat keindahan alam seperti kawah untuk melihat aktivitas vulkanik (Candradimuka, Sibanteng, Siglagah, Sikendang, Sikidang, Sileri, Sinila, dan Timbang), Telaga atau danau (Telaga Warna, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Pengilon, Telaga Dringo, dan Telaga Nila), Gunung di sekitar yang dapat dinaiki sampai puncak ( Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, Gunung Sikunir), serta kawasan candi untuk wisata sejarah (Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca). Awalnya ibu saya sempat menyarankan, kalau ingin melihat matahari terbit, lebih baik menginap di kawasan Dieng lalu sekitar jam 3 pagi ke arah Gunung Sikunir. Hanya saja mengingat anak yang masih 1,3 tahun rasanya hal itu terlalu memaksakan. Akhirnya, hanya beberapa area saja yang kami datangi di Dieng ini.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang termasuk daerah yang paling mudah dikunjungi dan dicapai karena medannya tidak terlalu berat. Saat saya datang, rombongan wisatawan asing juga datang dengan menggunakan bis. Sebelum memasuki area Kawah Sikidang ini, kita memasuki pasar yang berisi oleh-oleh khas Dieng seperti krupuk kentang, carica, purwaceng, serta sayuran khas Dieng seperti cabai dan kentang.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Bagi yang memiliki minat terhadap fenomena alam dan sains tentu akan sangat senang berkunjung ke kawah inikarena dapat melihat aktivitas vulkanik secara langsung. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyusuri kawah dengan jalan kaki atau motor trail. Ada juga beberapa spot untuk foto-foto namun rasanya justru tidak menambah keindahan kawasan ini.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna berada di satu kawasan yang searah dengan Kawah Sikidang. Komplek candi ini terdiri dari beberapa candi yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca yang merupakan candi-candi Hindu.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Secara arsitektur, candi di kawasan ini cenderung sederhana dan ukurannya tak terlalu besar. Di kawasan ini terdapat hamparan halaman yang luas yang bisa kita gunakan untuk bersantai karena dari area pintu masuk kawasan candi sampai area candinya sendiri kita perlu jalan sekitar 5 menit. Tiket masuk kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang hanya Rp 15.000,- saja. Cukup murah ya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat di Dieng

Dieng merupakan daerah kawasan dataran tinggi. Tentunya, suhu dingin akan sangat terasa di daerah ini. Oleh karena itu, akan lebih baik jika membawa jaket untuk mengurangi rasa dingin, apalagi kalau bawa anak kecil, kita akan cenderung lebih memberi proteksi lebih untuk mereka.

Karena kawasan kawah Dieng masih cukup aktif dan mengandung belerang, ada baiknya kita memakai masker. Tenang, di area kawah ada penjual masker kok. Kita bisa membeli dengan harga yang cukup terjangkau.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dieng memiliki kentang dan sayuran khas. Kentang Dieng berukuran kecil-kecil. Harga per bungkus cukup murah, sekitar 10.000 rupiah. Rasanya tak perlu menawar lagi, apalagi kalau melihat penjualnya adalah nenek-nenek 🙂 Kentang khas Dieng ini berbeda dengan kentang rendang walaupun ukurannya mirip. Saya biasanya mengolah dengan cara mengukus, lalu ditumis dengan butter, bawang, seledri, serta sedikit garam dan lada. Oleh-oleh lain yang bisa dibeli adalah manisan carica (buah khas Dieng), aneka kripik dan krupuk, edelweis, dan banyak lagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Di sekitar Dieng terdapat penginapan. Banyak homestay di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Dieng.

Menuju Wonosobo untuk Makan Mie Ongklok
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Mie Ongklok menjadi salah satu kuliner wajib ketika berkunjung ke Dieng. Mie Ongklok yang menjadi favorit banyak orang, termasuk saya adalah Mie Ongklok Longkrang di Wonosobo. Sebenarnya Mie Ongklok juga bisa ditemui di sekitar kota Banjarnegara, hanya saja cita rasa kuahnya berbeda. Mie Ongklok Longkrang yang konon sudah ada sejak tahun 1975 ini sudah masuk dalam rekomendasi Trip Advisor juga.

Mie ongklok adalah mie dengan kuah kental yang lezat. Mie kuningnya cukup lembut dan kuahnya pun sangat lezat dan hangat. Cocok untuk udara Wonosobo yang dingin. Kuah kental berwarna coklat tersebut berasal dari tepung tapioka dan diolah dengan campuran sayur kol. Rasanya cenderung manis gurih. Sajian lain yang ditawarkan untuk menemani makan mie ongklok adalah Sate Daging Sapi. Irisan daging sapinya tak terlalu besar dengan kuah pendamping kuah kacang yang sangat halus. Selain itu ada juga tempe kemul alias tempe selimut. Ya, kemul artinya selimut dalam Bahasa Jawa. Tempe kemul memiliki irisan tempe yang tipis, namun tepung yang banyak dan kering dengan taburan potongan daun kucai.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Mie Ongklok Longkrang ini dapat dibawa pulang dan jika ingin menikmati di rumah, cara menghangatkannya cukup unik. Yang dihangatkan adalah mienya bukan kuahnya. Mie kuningnya biasa dibungkus dalam plastik, lalu plastiknya kita bolongi dengan garpu dan dimasukkan ke dalam air panas atau air hangat. Setelah itu mie dapat dicampurkan dengan kuah dan kuahnya juga akan menjadi hangat juga lalu siap dinikmati. Tempe kemul juga wajib dibawa pulang untuk teman ngemil sepanjang perjalanan Wonosobo – Purbalingga.

***

Setelah pulang ke Purbalingga, terdapat penyesalan sedikit karena saya tidak membawa pulang kentang Dieng cukup banyak. Semoga jika mudik lagi, saya berkesempatan mampir ke Dieng lagi. Ingin memborong kentang 🙂 Dieng memiliki banyak pesona bahkan ada event tahunan Dieng Culture Festival. Rasanya ingin kembali ke Dieng dan berkeliling ke area wisata yang lebih banyak lagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Mencicip Es Ragusa, Es Krim Khas Italia di Jakarta

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Konon katanya, kalau ke Jakarta wajib mampir ke Es Krim Ragusa. Entah kata siapa itu, yang jelas waktu ke Jakarta kemarin saya mampir ke tempat ini karena diajakin. Biasanya sih jarang explore selain tempat yang biasa dikunjungi aja.

Sampai di lokasi Es Krim Ragusa, teman yang mengajak bilang, beruntung nih, masih belum begitu ramai. Lokasi Es Krim Ragusa berada di Jalan Veteran I nomor 10, Jakarta Pusat. Menempati ruko pinggir jalan, Ragusa terbilang cukup mencolok karena dari luar sudah tampak eksterior tua.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ternyata….di dalamnya juga nilai tradisional dan tua juga dipertahankan. Kursi dan mejanya masih rotan. Lukisan jaman lampau juga terpasang. Bahkan di dekat kasir seperti ada mesin tua yang dipajang. Ragusa menjual es krim tradisional dari Italia dan tanpa bahan pengawet. Es Krim Ragusa sendiri telah berdiri sejak 1932. Bahkan tempat ini mendapat penghargaan MURI sebagai toko es krim tertua.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kami pun memesan es krim. Yang dijual di sini hanya es krim dan minuman saja ya. Ada sih cemilan dipajang di etalase, tapi tidak ada di list menu. Beberapa menu yang dipesan :

  • Regular Ice Cream Mocca : Hanya 1 scoop es krim rasa mocca saja
  • Mixed Flavored Special Mix : Ada beberapa scoop es krim, campuran vanilla, nougat, coklat, dan strawberry
  • Fancy Flavored Cassata Siciliana : Campuran beberapa rasa es krim yang dibentuk kotak
  • Fancy Flavored Spaghetti Ice Cream : Es krim vanilla yang dibentuk seperti spaghetti dengan tambahan topping
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Kita akan diberikan segelas air mineral dingin sebagai penetralisir kalau merasa seret. Harga es krim di tempat ini berkisar antara 15.000 – 35.000. Secara rasa, memang Es Ragusa ini lembut teksturnya dan tidak terlalu menyengat manisnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kalau masih lapar, di ruko sebelah dijual asinan, rujak, batagor, siomay, dan sate. Berhubung saya kangen makan sate ayam kuah kacang pakai lontong, saya pesan sate. Harga makanan di ruko sebelah berada di kisaran 30.000 rupiah. Es Krim Ragusa juga bisa dibawa pulang sih, saya lihat ada yang bawa pulang dengan dibungkus sterofoam.

Urusan pelayanan, hmmm…Di Ragusa ini pelayannya kebanyakan sudah berusia lanjut termasuk yang bertanggung jawab di mesin kasir. Sebenarnya sih cukup baik pelayanannya. Saya sempat dipersilahkan memfoto oleh salah seorang pelayan, tapi dimarahi juga karena itu bukan untuk saya eh saya main foto aja. Iya sih salah saya juga. Selain itu, yang bikin ga enak adalah saat kami akhirnya pulang setelah nongkrong kelamaan karena makan dan duduk santai ngobrol, saat pulang, salah seorang pelayang bilang Alhamdulillah. Kayaknya lega banget akhirnya kami beranjak. Hahaha. Maafkan pak kalau kami kelamaan.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Senang sih, bisa menikmati es krim tertua di Indonesia dengan cita rasa tradisional. Mungkin lain kali kalau main ke Jakarta akan saya coba lagi. Hehehei.

Yogyakarta : Puas Makan Sate Klatak, Bakar Lemak di Hutan Pinus

Untuk beberapa orang, itenerary menjadi hal yang wajib dirancang terlebih dahulu sebelum liburan. Saya pun dulu demikian. Banyaknya arus informasi membuat memudahkan kita untuk menyusun rencana perjalanan. Tapi setelah berkeluarga, saya merasa itenerary tidaklah terlalu penting dan saklek harus dibuat. Ya, kecuali urusan tiket dan penginapan sih memang kalau bisa harus disiapkan dulu. Urusan mau ke mana saat di tempat tujuan, sekarang mengikuti alur aja.

Ini yang terjadi ketika main ke Jogja kemarin. Sebelumnya sudah baca beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi bersama keluarga. Ujung-ujungnya, ketika sampai di Jogja dan mobil rental datang untuk menjemput kami, pemilik mobil minta diantarkan ke suatu tempat. Hal-hal mendadak kayak gini dulu sering bikin saya bete, karena punya rencana a-z terus rasanya bubar atau molor aja gitu, jadi kesel. Sekarang, karena ga ada rencana, ya enak-enak aja, mas-mas rentalnya juga enak diajak ngobrol.

Mas Rental (MR) : Jadi mau ke mana mba sama masnya?
Saya (S) : Gak tau sih mas, ya kira-kira aja abis nganter mas daerah yang bisa dikunjungi mana.
MR : Kalau deket sama tempat saya ada sate klatak tuh, terus lurus terus bisa ke hutan pinus. Ke hutan pinus enaknya sih siang-siang gini, soalnya adem.

Jadilah, kami yang kelaparan setelah sampai di Jogja (padahal udah sarapan di Palembang), melipir ke daerah Imogiri, Bantul. Tempat di mana banyak penjual Sate Klatak. Pilihan kami adalah Sate Klatak Pak Pong. Pesan dari Mas Rental, Sate Klatak Pak Pong ini udah buka cabang, ke tempat yang asli aja, emang lebih kecil sih, tapi lebih enak. Katanya, mungkin karena faktor tempat yang baru lebih luas, yang dilayani lebih banyak, cita rasa masakan yang dimasak buat banyak porsi kan beda sama yang dimasak buat yang dikit-dikit. Bener juga sih, pikir kami.

Sate Klatak Pak Pong

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sate Klatak jadi salah satu kuliner wajib saat di Jogja karena unik. Keunikan sate ini berada di tusukannya, umumnya sate ditusuk dengan tusukan sate dari bambu, namun, sate klatak menggunakan tusukan jeruji besi sepeda. Alasan penggunaannya adalah, besi merupakan penghantar panas yang baik, jadi daging bagian dalam juga akan matang.


Dengan bantuan Google Maps, kami sampai ke tempat Pak Pong. Eh, tapi kata mas rental, agak maju dikit, 100 meteran nemu di kanan jalan bangunan berwarna agak kuning, bertuliskan Sate Pak Pong. Dari luar sudah tampak semacam daging-daging yang digantung dan panggangan.

Menu yang kami pilih hanya seporsi sate, seporsi tongseng, dua porsi nasi, es teh manis panas, dan es jeruk. Lalu datanglah sepiring kecil berisi 2 tusuk sate daging kambing dan ada sedikit kuah di piring tersebut. Karena tusukannya dengan jeruji sepeda yang cukup panjang, daging kambing terlihat sedikit dan kecil. Padahal mah, kalo dirasa-rasa ya gede juga itu. Menyusul kemudian semangkuk tongseng kambing dan dua piring nasi. Yak, langsung tancap gas, cuci tangan, hajar bleh!

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ini perdana saya dan bojo makan sate klatak. Beda dengan sate kambing yang umumnya berbumbu kecap atau sambal kacang, sate klatak ini bumbunya ga terlalu banyak, hanya garam dan ketumbar sedikit, tapi kok bisa ya rasanya enak? Ya, mungkin karena beda sama rasa sate yang biasanya kaya, sate klatak membawa kenikmatan dalam balutan kesederhanaan.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Butuh rasa yang kaya? Cicipilah kuah tongseng dan kuah yang ada di piring sate. Gurih dan nikmat. Walaupun dagingnya daging kambing, bau prengus (alias bau ga enak) yang biasa muncul dari daging kambing sama sekali ga terasa. Daging-dagingnya juga empuk. Dan finally, kangennya saya sama tongseng kebayar di Sate Klatak Pak Pong.

Di tempatnya Pak Pong ini, kita bisa duduk dengan kursi kayu berat jaman dulu yang panjang-panjang atau lesehan. Musholla, wastafel, dan kamar kecil pun tersedia. Plusnya lagi, ga bikin kantong kempes. Makan segitu dan nambah nasi seporsi lagi plus krupuk banyak, gak nyampe 100 ribu. Itu ngerasanya kenyang banget.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Hutan Pinus Asri Mangunan


Sudah isi perut, saatnya kita main. Kami menuju daerah Mangunan. Coba cari di Google Maps, Hutan Pinus akan banyak banget pilihannya. Akhirnya, kita ngikutin aja petunjuk arah. Hampir semua mengarah ke daerah yang sama. Ternyata memang benar, banyak banget pilihan Hutan Pinus yang bisa dikunjungi. Jalan menuju daerah ini menanjak dan agak berbelok-belok. Untuk yang pakai mobil matic, rasanya ada settingan gigi sendiri biar ga merosot. Untung bojo yang bawa, kalau saya mah, wassalam, mending ga jadi naik deh. Awalnya sih kami berprinsip, ah, nanjak aja dulu deh, sampe yang paling akhir dulu, ntar kalo ga sreg baru liat yang di bawah. Maka, sampailah kami di Hutan Pinus Asri.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Yang menarik dari daerah wisata di Jogja ini adalah adanya tempat parkir yang cukup luas ya. Jadi, ya, kerasa banget sih emang siapnya untuk menjadikan satu kawasan jadi daerah kunjungan wisata. Di dekat tempat parkir banyak semacam warung berjualan kelapa muda, minuman, mie instan, dll. Parkirnya juga murah, karcisnya bener-bener dikasih dan dicatat. Plusnya lagi, harganya murah-murah. Masuk hutan pinus aja cuma Rp 2.500,-. Untuk sewa hammock dan lainnya ya nambah bayar lah.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebenarnya, hutan-hutan pinus ini banyak spot di ujung-ujungnya untuk menikmati matahari dan foto-foto. Tapi bawa anak ngeri juga ya main-main ke ujung gitu, jadi ah sudahlah, kita bisa juga foto-foto di hutan pinusnya yang rasanya adem. Hutan Pinus Asri ini cukup luas, di tanah-tanahnya ada dipasang batangan pohon yang dibentuk untuk pijakan. Ada juga area yang memang dibentuk seperti bintang, love, yang sengaja dibuat untuk foto-foto. Tak lupa semacam rumah-rumahan yang ada di negeri Bikini Bottomnya Sponge Bob juga ada.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ngapain sih di hutan pinus? Utamanya sih foto-foto aja ya. Tempat ini bisa jadi instagramable banget. Kalau bawa anak, ya jadi ajang untuk perkenalan anak akan alam, ngenalin anak tekstur buah pinus yang baru aja ditemuin (di Palembang ga ada soalnya). Terus, karena abis makan dan area hutan pinus ini gede banget dan naik turun gitu konturnya, ya, jadi bisa juga buat olah raga alias bakar lemak. Kerasa ngos-ngosan sih keliling hutan ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kita di hutan pinus kurang lebih setengah jam aja. Terus nyoba nengok ke hutan pinus lainnya yang tadi sempat dilewatin, kayaknya sih sama aja, akhirnya batal masuk karena udah cukup ngos-ngosannya dan jadi laper lagi. Akhirnya sih, balik ke kota Jogjakarta.

Kalau mau ke daerah hutan pinus ini, mendingan jangan pas musim hujan atau pas hari hujan. Selain karena jalannya nanjak dan belok-belok, menurut saya sih bakal serem, juga karena kalau pas ke hutannya basah bakalan becek gitu kan, nempel-nempel tanah di alas kaki. Hehe.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kalau main ke Jogja, jangan lupa nyobain Sate Klatak yang unik, setelah itu bakar lemaknya dengan keliling di hutan pinus biar berasa impas gitu abis makan enak terus olah raga.

Btw, nama asli mas rental adalah Mas Rusli, no hp nya 0896-7141-6161. Monggo kalau mau ke Jogja dan ngerental mobil bisa ngehubungin beliau.

Lacasa Pizza Palembang

Gleeeep……

*ceritanya ini backsound mati lampu*

Ya, jadi beberapa waktu yang lalu, selepas Magrib, rumah kami kena giliran pemadaman listrik. Haduh, niatnya mau istirahat sepulang kantor, malah kepanasan.

Makanya beli dan pakai genset bu………..

Berhubung anak tipikal yang gerah-an dan kurang suka gelap-gelapan, maka diputuskanlah, bawa anak jalan-jalan tapi yang deket-deket aja, sambil memantau aplikasi cctv kalau-kalau listrik sudah nyala lagi. Pas jalan, ngelewatin tempat pizza yang belum pernah dicoba, yaitu Lacasa Pizza, dan mampirlah kita.

 

Lacasa Pizza, berada di salah satu ruko di Jalan Mayor Ruslan. Gampangnya, ada di seberang restoran Ever Fresh.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Di interiornya, terdapat mural layaknya Menara Pisa Italia yang dikelilingi nama-nama menu seperti Meat Lover, American Classic, Tuna Melt, dll. Oh ya, ternyata di Lacasa Pizza ini, basic pizza tidak hanya yang asin saja sebagai menu, tapi ternyata pizza manis seperti Banana Pizza juga ada. Ada juga pizza calzone yang berbentuk seperti pastel raksasa dan snack lain seperti pasta.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Kami memesan Basic Pizza yaitu Blackpapper Beef dengan Extra Mozarella dan snack French Fries. Sementara minum, Virgin Mojito dan Apple Tea menjadi pilihan kami.

Untuk pizzanya sendiri, yang small cukup untuk berdua. Roti pizzanya lembut dan daging serta mozarella yang diberikan cukup banyak. Kalau French Fries, rasanya sih, ga terlalu beda ya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Overall, untuk Lacasa Pizza ini bisa jadi tempat nongkrong makan pizza yang asyik. Oh ya, Lacasa Pizza juga sekarang dapat dipesan melalui aplikasi Go-Jek di fitur Go-Food loh. Untuk harganya sendiri, masih cukup terjangkau. Kalau makan berdua dengan menu pizza, french fries dan minuman yang agak fancy masih dibawah 150.000.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kelar makan, kenyang, cek aplikasi CCTV di rumah ternyata sudah nyala, artinya listrik sudah nyala. Saatnya pulang ke rumah 🙂

 

Kalau mau tau info dari Lacasa Pizza, bisa cek Instagram Lacasa Pizza

Untuk alamat Lacasa Pizza, ada di maps berikut