Blue Valley Series : Elegi Rinaldo (dari Bernard Batubara)

Bernard Batubara, penulis asal Pontianak yang sepertinya bermukim di Yogyakarta. Melihat umurnya, dia sepertinya seangkatan dengan saya. Memang benar sih, ada teman-teman SD saya yang sepertinya satu sekolah dengan dia. Kebetulan saya sempat bersekolah di Pontianak dan kadang di tulisannya Bang Bara ini bersinggungan dengan kota Pontianak. Lumayan menjadi mengingat masa kecil jadinya dan jadi senang dengan tulisannya terus ya membeli bukunya. Kali ini mencoba membeli buku Elegi Rinaldo .

 

Detail Buku

Penulis : Bernard Batubara

Penyunting : Jia Effendie

Cetakan : I, Desember 2016

Penerbit : PT Falcon

ISBN : 978-602-60514-0-0

 

Brurb :

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Jika kau berjalan ke salah satu blok, kau akan menemukan rumah yang setiap pagi dipenuhi nyanyian Rihanna. Seorang pemuda kribo yang selalu menenteng kamera tinggal di sana bersama tantenya. Dia sering sekali bersikap dingin. Dia menyimpan duka. Sisa penyesalan terdalam dua tahun lalu.

Ada gadis yang menantinya, dan ingin menamai hubungan mereka yang kian dekat. Namun, pemuda itu selalu ragu. Dia menyukai gadis itu, tetapi… selalu merasa bersalah jika memberikan rempat yang sengaja dia kosongkan di hatinya. Namanya Rinaldo. Panggil dia Aldo, tapi jangan tanya kapan dia akan melepas masa lajang.

 

Resensi versi Inyun :

Aldo, seorang food fotographer berambut kribo. Aldo tinggal dengan Tante Fitri , satu-satunya keluarga yang masih bersamanya, di kompleks Blue Valley. Awalnya, Aldo merasa hidupnya baik-baik saja tanpa seorang pacar atau pun istri. Ya, walaupun kebanyakan orang di lingkungannya sudah menyindir bahwa usianya sudah pantas untuk memiliki istri.

Aldo mendapat pekerjaan untuk memotret menu di kafe baru Dinda, pacar Wicak, teman kuliahnya. Di “UNO” itulah dia bertemu dengan Jenny, sang chef di kafe milik Dinda tersebut yang juga sahabat dari Dinda. Di awal pertemuan, Aldo sudah merasa akan adanya ketidakcocokan bekerja dengan Jenny karena watak Jenny yang ‘agak’ susah untuk diatur.

Pada suatu ketidaksengajaan bernama ‘kondangan’, Aldo dan Jenny bertemu kembali dan karena seekor panda, Jenny mengingatkan Aldo kepada seseorang yang sangat berarti untuk Aldo yaitu Rahayu. Jenny sekilas tampak menganggap pernikahan itu konyol, karena ada sesorang yang berani mengorbankan mimpi hanya untuk menikah.

Pertemuan Aldo dan Jenny pun berlanjut karena urusan kerjaan. Karena urusan kerjaan juga timbul kesalahpahaman. Adanya kesalahpahaman berlanjut ke makan bersama dan tentu saja ngobrol berujung perasaan yang hangat satu dengan yang lainnya.

Jenny secara terang-terangan sudah menunjukkann rasa ketertarikan kepada Aldo, walau masih menjaga jarak tentunya. Aldo pun memvonis Jenny sebagai gadis yang menarik. Namun, kadangkala, sekelebat peristiwa masa lalu tentang kehilangan Rahayu, mantan pacarnya masih muncul di benak Aldo.

Aldo dan Jenny semakin dekat, walau belum jelas akan dibawa ke mana kedekatan mereka. Tetiba, muncul seseorang dari masa lalu Jenny, Dipa, mantan pacar yang juga cinta pertama Jenny. Dipa yang menjadi sumber

kesalahpahaman baru antara Aldo dan Jenny.

Di tengah keruwetan tanpa kejelasan hubungan antara Aldo dan Jenny, Tante Fitri yang mengetahui Aldo sedang dekat dengan Jenny, meminta Aldo untuk mengenalkannya kepada Jenny. Tak berapa lama, kedekatan antara Tante Fitri dan Jenny pun terjalin. Walaupun begitu, hubungan Aldo dan Jenny masih belum beranjak dari ketidakjelasan.

Sampai kapan Aldo dan Jenny terperangkap ketidakjelasan? Sampai kapan perasaan yang sebenarnya sudah muncul tapi sama-sama tak terucap akan terungkap? Bagaimana akhir kisah mereka?

***

Ya, novel ini lumayan ‘kena’ sih di hati. Walaupun belum pernah merasa diombang-ambing oleh perasaan galau berkepanjangan karena ketidakseriusan dalam hubungan, Alur ceritanya bagus dan ga lurus-lurus aja. Sebagai pembaca, kadang saya merasa dibawa senyum-senyum sendiri, kadang dibawa kesel sama tingkah laku Aldo yang mirip-mirip sama cowok kebanyakan yaitu ga jelas, kadang merasa sama kayak Jenny yang juga kadang absurd, sempat merasa sedih karena kehilangan keluarga, sempat merasa hangat karena adanya keluarga yang lain.

Penggambaran sosok Aldo yang food fotographer, Jenny yang chef, kafe, co-working space, jalanan dan suasana di Jakarta, bagi saya cukup mudah tergambar dalam bayangan saya. Ya, pembaca macam saya bawaannya butuh visual, jadi, kadang-kadang suka mereka-reka adegan dalam cerita.

Elegi Rinaldo menjadi satu dari lima Blue Valley Series yang memiliki komposisi judul mirip-mirip yaitu “kata benda + tokoh utama cerita”. Sampai saat ini saya belum beli keempat buku lainnya walau sudah penasaran.

Untuk bacaan ringan dengan penuturan kehidupan metropolis generasi milenial, buku ini bisa jadi pilihan. Terus kebayang sih, ini kayaknya seri Blue Valley bisa kali ya dijadiin film 😀

#ODOP

#ODOP4

#BloggerMuslimahIndonesia

Written by

2 comments / Add your comment below

Silahkan meninggalkan komentar :)