Berpergian bersama Anak (Infant) dengan Pesawat

Pesawat adalah moda transportasi yang paling nyaman, menurut saya sih begitu. Alasan utamanya adalah cepatnya berpergian dengan pesawat. Seperti dari Palembang menuju Jakarta paling hanya butuh 1 jam saja. Bandingkan jika harus berpergian dengan mobil, butuh waktu 12 jam sampai ke Bakauheni (Lampung), lalu menyebrang sampai Merak dan melanjut ke Jakarta.

Mudik ataupun liburan, biasanya saya memilih menggunakan pesawat sebagai moda transportasi. Beberapa kali saya sudah ‘berhasil’ membawa anak naik pesawat.

 

Berpergian dengan anak (apalagi infant atau anak < 2 tahun) jelas berbeda dibanding berjalan sendirian atau dengan teman dewasa. Ada beberapa hal yang perlu disiapkan agar anak tidak rewel dalam perjalanan.

Anak menangis di pesawat yang penuh penumpang tentu tidak nyaman bagi saya maupun bagi penumpang lain. Walaupun belum pernah mengalami sih dipelototin orang karena anak menangis, tapi saya pernah merasa tidak nyaman saat mendengar anak kecil nangis di pesawat. Mau membantu gak enak, gak membantu juga gak enak mendengarnya.

Setelah beberapa kali naik pesawat dengan Mahira, saya merasa bersyukur selama di pesawat Mahira hampir jarang rewel, bahkan kebanyakan sih dia tidur. Nah, ini beberapa hal yang saya lakukan saya saat berpergian naik pesawat dengan anak (infant):

  • Pastikan anak sudah boleh naik pesawat

Sebagai orang tua, tentu ada kecemasan saat akan membawa anak naik pesawat. Tekanan udara yang berubah terkadang membuat kita merasa sakit di telinga. Hal inilah yang juga membuat saya pernah was-was. Ada baiknya, jika merencanakan berpergian dengan pesawat, kita memastikan anak boleh naik pesawat. Konsultasi dengan dokter bagaimana kondisi anak jika perlu mintalah ijin tertulis.

Jika dokter telah memberi izin, kita dapat memastikan anak telah memasuki usia yang diperbolehkan naik pesawat oleh maskapai. Aturan yang ditetapkan oleh tiap maskapai berbeda. Umumnya, anak yang berusia kurang dari 1 bulan membutuhkan Surat Keterangan Medis dari dokter yang menyatakan kondisi anak sehat untuk terbang.

  • Pilih waktu terbang yang sesuai dengan jam anak tidur

Infant biasanya masih membutuhkan waktu tidur yang cukup lama. Biasanya mereka memiliki waktu tidur siang. Untuk penerbangan jarak pendek yang pernah saya lakukan (durasi 1 s.d 1,5 jam), saya akan memilih waktu penerbangan sekitar siang hari atau sore hari.

Biasanya saya memilih penerbangan sekitar jam 10 pagi atau seterusnya. Alasan utama jelas itu waktunya anak tidur siang. Jam 10 juga bisa dibilang aman untuk saya karena gak merasa terburu-buru.

Penerbangan paling pagi, misal jam 6 tentu membutuhkan waktu bersiap-siap sebelumnya dan bisa jadi ini berbeda dari jadwal aktivitas kita biasanya. Kondisi anak mungkin kaget karena bangun lebih pagi dan bisa jadi fisiknya tidak siap dan berakibat sakit saat perjalanan.

  • Memilih tempat duduk yang sesuai

Posisi tempat duduk sedikit banyak juga berpengaruh kepada kenyamanan saat di pesawat. Jika memungkinkan pilih tempat duduk di bagian depat karena area untuk kaki lebih lega. Posisi tempat duduk di bagian depan juga jauh dari mesin pesawat.

Bassinet (sumber : shutterstock)

Selain itu, jika ingin meminjam bassinet (keranjang khusus bayi di pesawat), biasanya akan diberikan saat berada di tempat duduk bagian depan. Biasanya, untuk mendapatkan bassinet kita bisa membeli tiket langsung ke maskapai atau segera menelepon maskapai setelah membeli tiket untuk request terlebih dahulu sebelum penerbangan. Oh iya, bassinet ini biasanya hanya ditemukan pada maskapai Full Services.

Ketika anak masih menyusu langsung (ASI), saya lebih memilih duduk di dekat jendela. Alasannya, tentu adalah kenyamanan saat memberikan ASI kepada anak. Walaupun pakai nursing cover, saya lebih merasa nyaman saat ‘mojok’ dan tidak terlihat banyak orang. Kalau di gang (aisle) yang melihat pasti lebih banyak lagi.

  • Buat anak lelah dan lapar sebelum terbang

Biasanya, saya memilih menyiapkan waktu menunggu di bandara sekitar 1 jam sebelum waktu keberangkatan. Dalam kurun waktu tersebut, saya akan berusaha menjaga anak tetap melek. Kalau di bandara ada arena main anak, saya akan mengajaknya main sampai panggilan boarding terdengar.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Hal ini saya lakukan agar ia energinya keluar dan dia kemudian merasa lapar. Ketika telah memasuki pesawat dan menjelang lepas landas, saya mulai memberikan anak makanan lalu ia pun mengantuk dan tertidur.

  • Sebisa mungkin anak sudah ‘pup’ sebelum naik pesawat

Saat membawa anak dengan kondisi ia belum bisa duduk dengan benar, toilet pesawat jelas tidak nyaman untuk mengganti popok anak. Kalau boleh memilih, saya memilih untuk mengganti popok di Ruang Menyusui yang ada di karena posisinya lebih memudahkan, anak pun bisa sambil tiduran.

Sebisa mungkin urusan anak buang air besar di pesawat saya hindari. Walaupun pakai popok, kadang bisa aja tuh tembus baunya dan membuat polusi udara seantero kabin pesawat. Maka dari itu, sedari malam biasanya saya sudah ngomong ke anak supaya ‘pup’ di rumah aja. Selain itu, saya juga memberi makanan pelancar seperti buah-buahan saat malam hari dan melakukan pijatan ILU ke perutnya. Harapannya, tentu agar anak ‘pup’ di rumah saja. Alhamdulillah selama ini sukses hehehe.

  • Buat anak sibuk ‘menelan’ selama take off dan landing

Ketika take off dan landing, sering kali kita merasa sakit di telinga. Ini diakibatkan adanya perubahan tekanan udara sehingga telinga rasanya tersumbat. Salah satu tips untuk mengurangi rasa sakit ini adalah dengan melakukan gerakan menelan agar saluran di bagian dalam telinga dapat terbuka dan udara dapat masuk ke telinga bagian tengah.

Jika anak masih menyusui, maka susuilah anak sesaat saat akan take-off atau landing. Biasa kan akan diumumkan oleh pilot jika sudah berada dalam posisi tersebut.

Kalaupun anak sedang tidak mau menyusu, buat anak sibuk dengan makanan. Itulah mengapa saya membiarkan dia menghabiskan energi saat di bandara. Jika ingin membawa makanan / susu bayi ke dalam kabin, biasanya diperkenankan walau di beberapa penerbangan internasional terdapat batasan terkait cairan dalam kabin.

  • Pakaikan baju yang nyaman untuk anak

Suhu di dalam kabin pesawat cenderung lebih dingin, untuk menghindari anak rewel karena kedinginan, akan lebih baik jika memakaikan pakaian panjang. Lengkapi pula dengan kaos kaki dan penutup kepala.

  • Siapkan aktivitas menyenangkan jika anak tidak tidur

Ketika anak terbangun atau tidak tidur di dalam pesawat, anak cenderung rewel karena tidak betah duduk atau bosan. Maka dari itu, siapkan aktivitas yang menyenangkan anak. Buku bacaan maupun mainan bisa dibawa untuk mengalihkan fokus anak saat rewel. Salah satu alasan saya memilih duduk di dekat jendela adalah agar bisa menunjukkan anak sayap pesawat, awan, atau pemandangan di luar jendela ketika ia mulai rewel.


Beberapa barang juga perlu disiapkan saat berpergian dengan pesawat membawa infant. Barang-barang untuk anak lebih baik disiapkan dengan tas terpisah untuk memudahkan. Yang selama ini selalu saya bawa antara lain:

  • Popok sekali pakai alias pospak dan tissue basah
  • Baju ganti cadangan (1 set lengkap), antisipasi kalau baju yang dipakai kotor karena makanan atau mungkin muntahan
  • Makanan, susu, dan air minum untuk anak
  • Nursing cover untuk menutupi saat menyusui
  • Jaket untuk anak agar ia tidak kedinginan di pesawat
  • Buku, boneka, dan mainan kesukaan anak

Jika anak masih infant, biasanya anak tidak mendapat tempat duduk sendiri dan orang dewasa (orang tuanya) diminta untuk memangkunya. Pastikan orang tua telah mendapatkan safety belt dan pelampung khusus untuk anak sebelum lepas landas.

Selamat berpergian naik pesawat 😀

One Reply to “Berpergian bersama Anak (Infant) dengan Pesawat”

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....