Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

Selama libur 3 hari yang bertepatan dengan libur Natal yang lalu, saya sekeluarga main ke Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Sekilas tentang Pulau Bangka dan cerita liburan hari pertama bisa di baca di  Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]  dan ini adalah lanjutan cerita di hari kedua dan ketiga….

Day 2 (24 Desember 2017)

Hujan membasahi kota Pangkal Pinang pagi itu. Rencana ingin berenang pagi harus kandas. Rencana ingin ke Alun-Alun Merdeka untuk olah raga sepertinya juga pupus. Alhasil, malah malas-malasan di Menumbing Heritage Hotel sampai jam 9 pagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Karena ingin ke pantai lagi, akhirnya kita menuju Sungailiat, tepatnya menuju Pantai Tongaci karena ada penangkaran penyu di sini. Sampai di Pantai Tongaci masih sedikit gerimis dan biaya masuknya Rp 5.000,-. Penangkaran penyu Tukik Babel memiliki kolam yang digunakan untuk penangkaran penyu, ada pula yang bentuknya keramba di dekat pantai. Kita bisa melihat langsung penyu-penyu yang berenang. Pada saat tertentu akan ada pelepasan penyu ke laut. Di sini terdapat 2 jenis penyu yaitu penyu hijau dan penyu sisik. Untuk informasi lengkap tentang Tukik Babel bisa mengunjungi Facebook Tukik Babel.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dekat dengan penangkaran penyu Tukik Babel, terdapat sebuah kompleks wisata De Locomotief. De Locomotief memiliki fasilitas berupa restaurant seafood, combi tiam (warung kopi dan minuman dengan tampilan vw combi), perpustakaan lengkap dengan area untuk anak bermain, art shop, art gallery, area pijat refleksi, museum, patung terracota dan binatang buatan, dan pantai tentunya. Untuk museum, anak-anak dilarang masuk. Jadi saya ga masuk karena ya ga enak aja cuma salah satu yang masuk anak ditinggal *ceritanya baik*. Sementara itu di art shop tidak boleh mengabadikan gambar sama sekali. Di area perpustakaan, ada tempat duduk dan bisa bersantai sejenak sementara anak main balok-balokan. Koleksi bukunya cukup lengkap dan beragam. De Locomotief penuh dengan hiasan payung jadul yang menggantung. Cukup instagramable lah bagi yang pandai mengambil foto atau paling tidak banyak spot untuk berfoto. Menutup kelaparan, kami memesan roti panggang khas Bangka dan kopi di Combi Tiam sebagai bekal menuju tujuan lainnya. Oh iya, di sekitar De’Locomotief ini tersedia beberapa pilihan watersport mulai dari Jetski, Banana Boat, sampai Snorkeling dan Diving.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Daerah Belinyu menjadi tujuan kami berikutnya. Sebuah daerah yang masih masuk Kabupaten Bangka dan berada di bagain utara pulau. Konon, banyak pantai di daerah ini, tapi yang paling utara adalah Pantai Penyusuk. Kami pun menuju ke sana. Butuh sekitar 1.5 jam lebih dari Sungailiat menuju Pantai Penyusuk. Harga tiket masuknya Rp 3.000,-. Ombak di Pantai Penyusuk terlalu besar. Konturnya masih sama, dipenuhi oleh banyak batu besar. Di sekitar pantai terdapat warung-warung yang menjual otak-otak atau mie instan. Hanya saja agak sedikit kurang terawat rasanya. Sempat menyimpulkan, kalau harga tiket masuk Rp 3.000,- jangan punya ekspektasi tinggi terhadap lingkungan pantai. Kalau harga tiket Rp 5.000,- bisa dapat pantai yang ada resto atau paling tidak lebih terjaga.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebenarnya kami sudah kelaparan, tapi cari makan di sekitar Belinyu berakhir zonk karena entah kurang banyak referensi dan sinyal juga agag igig ga jelas. Akhirnya secepat mungkin kembali ke Pangkal Pinang karena Bojo juga merasa lebih baik makan di Pangkal Pinang yang lebih banyak pilihan. Akhirnya lewat Sungailiat pun sekedar lewat padahal ada restoran seafood yang menggoda karena ramai. Sempat mampir di daerah Merawang karena katanya ada Danau Kaolin dan berakhir zonk juga karena nyasar. Akhirnya kami sampai di depan BES Cinema, sebuah bioskop di Bangka yang di depannya ada area foodcourt. Penasaran dengan Tahu Kok, kami memesan Tahu Kok Yen Yen untuk mengganjal perut. Tahu kok seperti layaknya bakso namun penuh dengan bakso ikan dengan kaldu gurih. Kuahnya sedap dan sudah halal. Kenapa namanya Tahu Kok, mungkin karena selain bakso ikan kukus dan goreng, ada juga tahu dengan isian bakso ikan yang juga dikukus dan digoreng yang berada dalam semangkok masakan ini. Beruntungnya mampir di foodcourt, karena saking kelaparannya, kita bisa nambah lagi menu lain seperti nasi bakar.

 

 

 

Lelah menyetir membuat Bojo ingin leyeh-leyeh di hotel saja. Eh, tapi anak minta berenang. Akhirnya berenang juga di hotel. Malamnya kami mencoba restaurant seafood lain yaitu Fresh Seafood Aju. Restoran ini terkenal dengan menu Kepiting Asap dan Terong Telor Asin. Rasanya…..Mantcaaappp bana. Apalagi kalau minumnya Es Kiamboy. Asem-asem seger lah. Cuma, setelah itu pas bayar rasanya hmmmm…. berdua sekitar Rp 225.000,-. Cukup lumayan sih, mengingat menunya ad a kepitingnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Keinginan mampir di Alun-Alun Merdeka batal karena penuh dan cukup susah dapat parkir. Akhirnya berburu oleh-oleh saja. Oleh-oleh wajib dari Bangka adalah Getas (seperti krupuk bulat yang teksturnya agak keras dan ikannya terasa), Kripik Telur Cumi, Rusip (fermentasi ikan), sirup jeruk kalamansi / jeruk kunci, , dan terasi tentunya. Sembari mengelilingi kota lagi, kami melihat jejeran pedagang buah durian di sepanjang jalan seberang kantor PT Timah. Tergoda untuk mencoba Durian Bangka, kami pun mampir. Sebuah pengalaman berbeda kami dapatkan saat jajan durian di Pangkal Pinang, penjualnya baik dan detail bertanya apa yang dimau.

Pedagang Durian (PD) : Silahkan kak, mau yang mana ?
 Bojo (B) : Kalo yang ini gimana kak? *menunjuk durian yang diletakkan di bawah bertuliskan 100ribu / 3 durian*
 PD : Itu, biasa aja kak, manis pahit. Kakak mau yang manis sedeng atau manis pahit? Kalau manis sedeng, kami kasih durian yang dagingnya kuning atau durian tembaga. Kalau yang manis pahit yang di bawah itulah, dagingnya putih.
 B : Yang manis biasa aja, jangan yang ada pahitnya.
 PD : Oke, kak, yang ini aja *dia ambil yang dipajang di atas* 40.000 satunya. 
 B : Yo, ambil dua ya kak
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya merasakan penyampaian informasi tentang per-durian-an ini penting. Biasanya kalau makan di Pasar Kuto Palembang cuma bilang, “yang manis ya kak, kalo gak puas, kami tukar”. Buat pelajaran aja, besok-besok requestnya “Yang manis, dagingnya kuning”. Selagi saya makan, ada ibu-ibu lain mau beli dan request detail “Mau duren manis, yang banyak dagingnya” dan pedagangnya menawarkan durian tembaga. Beberapa teman yang memiliki kerabat dari Bangka pernah menyampaikan kalau Durian Bangka lebih enak daripada Durian Palembang. Walau sama-sama lokalan (bukan Durian Bangkok), menurut saya itu benar adanya.

Hari kedua liburan di Bangka kesimpulannya adalah : Masih puas main di pantai dan makan enak.

Day 3 (25 Desember 2017)

Pesawat kami sekitar pukul 13.55 yang berarti harus cek in sekitar pukul 12.00. Cocok dengan waktu cek out. Kami memutuskan keliling kota Pangkal Pinang saja. Kami kembali mengelilingi kota dan mampir ke Museum Timah. Sebagai daerah penghasil timah di Indonesia dan lokasi di mana PT Timah berada, maka wajar rasanya kalau di kota ini berdiri Museum Timah. Di museum ini kita bisa belajar tentang sejarah tentang timah di Indonesia yang dimulai sejak penambangan zaman Belanda serta perkembangan teknologi saat ini. Biaya masuknya gratis juga.

Dari Museum Timah, saya berburu oleh-oleh lain sekalian mengganjal cacing di perut yang berteriak lagi. Otak-otak khas Bangka. Ada dua tempat yang terkenal yaitu Otak-Otak Ase dan Amui, namun yang kebetulan kami temui adalah Otak-Otak Amui. Harga satuan otak-otak bakar adalah Rp 2.500,-. Dengan dua sambal yang diberikan sambal yang agak asam (taoco) dan sambal yang agak berbau terasi. Otak-otak Bangka menurut saya beda dengan otak-otak Palembang, beda pula dengan Batam yang biasanya kecil-kecil, beda pula dengan otak-otak Bintan yang daun pembungkusnya beda. Otak-otak Bangka lebih harum. Menurut nenek (pengasuh Mahira yang jago masak), karna banyak santannya jadinya wangi. Penasaran deh, kapan-kapan nyoba bikin lah. Kalau khilaf.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Setelah itu, kami istirahat sebentar di hotel, lalu mengurus check out dan bergegas ke Bandara Depati Amir. Walaupun terbilang kecil, boarding gate hanya ada 2, tapi ruang tunggunya cukup memadai. Di area luar ada Dum-Dum Thai Tea, restaurant Kopi Tung Tau (selain kopi dan roti panggang ada menu lain juga), CFC Indonesia, dan Otak-Otak Asui. Bahkan ada Zoomoov, itu mainan semacam hewan-hewanan buat anak keliling bandara. Di ruang tunggu atas, ternyata makanan juga ada mulai dari restoran padang, Maxx Coffee, Bakso Lapangan Tembak, dan semacam mini market kecil. Ada playground untuk anak yang bersebelahan dengan Zoomoov.id tapi zoomoov untuk mewarnai gitu. Ada televisi yang menampilkan informasi tentang cuaca. Ada juga ruang untuk menyusui yang nyaman. Daaaaaaaaaaaan akhirnya Nam Air yang kami tunggu untuk membawa kami kembali ke Palembang mulai memanggil. Perjalanan ke Palembang lancar, sampai rumah juga lancar, lanjut cuci-cuci dan meneparkan diri karena besok langsung kerja.

Hasil dari 3 hari 2 malam di Bangka adalah : Ternyata kurang waktunya untuk eksplor sana sini. Pulau Bangka terdiri dari 5 kabupaten/kota, namun kami hanya terfokus di bagian Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka (Sungailiat). Kalau ada kesempatan naik mobil lalu menyebrang dengan Ferry, di Bangka Barat (Muntok) ada rumah yang pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno, di Kabupaten Bangka Tengah juga banyak pantai dan kami belum sempat ke Danau Kaolin Koba yang ternyata ada di daerah ini, Pantai di Belinyu juga banyak yang belum kami lihat, wisata lain seperti kuil belum juga. Urusan kuliner, kami baru mencoba Mie Koba dan Roti Panggang khas Bangka aja, padahal pengen nyoba Lempah (seperti pindang tapi khas Bangka), belum nyoba lalapan pakai rusip, belum nyoba Martabak Bangka yang dijual di Bangka. Intinya sih, pengen ngulang lagi ke Bangka 🙂 Semoga ada kesempatan dan rejeki lagi.

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....