6 Pikiran Buruk yang Tak Sepenuhnya Benar saat Mudik di Sumatera

Tahun ini adalah tahun pertama saya mudik lebaran di Sumatera, via jalan darat, dengan kendaraan pribadi pula. Sebelumnya, selama ini saya mudik ke Purbalingga dengan kendaraan umum pesawat sampai Jakarta lalu lanjut kereta. Tujuan mudik kali ini adalah ke Padang, kampung bojo. Kami memutuskan via jalur darat saja karena penerbangan direct Citilink dari Palembang-Padang sudah tidak ada, alias harus transit di Batam dan lagi harganya sudah w.o.w (bikin tabungan sakaratul maut) kalau untuk bertiga pulang pergi.
Berhubung ini adalah mudik perdana saya di Sumatera, maka beragam persiapan saya coba lakukan mulai dari mencari info tentang jalur mudik, mulai dari mantengin twitter Radio Elshinta yang bikin Ekspedisi Mudik, searching tentang jalur lintas timur dan lintas tengah Sumatera, cari tahu tentang kondisi jalan, tanya orang-orang yang pernah ke Padang via jalur darat, dan lain-lain. Berhubung saya tipikal orang yang watiran (suka khawatir takut ada kejadian ini itu), jadi banyak pikiran yang muncul dan ternyata ga semuanya benar
Ini dia 6 pikiran buruk yang tak sepenuhnya benar selama Mudik di Sumatra :

  • Jalur yang Dilalui Masih Banyak Hutan

Ya, pikiran ini muncul setelah mendapatkan minimnya informasi tentang pengalaman orang yang melakukan perjalanan jalur darat Palembang-Padang. Ada beberapa yang menyebutkan bahwa masih banyak hutan, ada juga yang bilang banyak jurang, tapi ada yang bilang pemandangannya indah.

Aslinya, memang ada area yang seperti hutan dan cukup gelap, ini ada di perjalanan dari Muara Tebo menuju Muara Bungo (provinsi Jambi). Kami sampai di area ini memang selepas jam 6 sore saat berangkat dari Palembang.Penerangan memang tidak banyak, tapi rambu-rambu penunjuk jalan cukup membantu. Oh ya, kata bojo, entah kenapa, orang di Sumatera baru mulai menyalakan lampu mobil saat perjalanan selepas maghrib atau diatas jam 18.30, mungkin karena masih agak terang ya suasananya (matahari belum terbenam sempurna), tapi kan namanya lewat jalanan banyak pohon rindang, udah lewat jam 6 sore, ya saya sih mendingan nyalain headlamp, demi keselamatan.

Selebihnya, jalur yang dilalui dari Palembang (Sumatera Selatan) ke Muara Bungo (Jambi) banyak melewati perkebunan sawit atau karet, tapi itu tidak melulu karena Jalur Lintas Timur Sumatera juga banyak melalui pinggiran kota. Jadi, masih ada kok rumah-rumah penduduk, ruko yang berjejer, komplek perusahaan (minyak, gas, pabrik, dll). Kalaupun ada daerah yang banyak pepohonan rindang, yang bukan suasana hutan yang mencekam juga. Oh ya, harus hati-hatinya karena banyak hewan yang suka lalu-lalang, awalnya merumput di sisi jalan, tau-tau mereka mau nyebrang aja.

  • Bakal Jarang Ketemu SPBU

Ini akibat pesan ibu-ibu di kantor yang bilang, kalo ketemu pom bensin pokoknya full-in aja itu. Nah, jadi di pikiran saya, kayaknya bakal jarang nih pom-bensin alias SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Bahkan saya wanti-wanti ke Bojo, pokoknya kalo ketemu pom bensin penuhin itu tangki, demi keamanan perjalanan dan dibilang lebay amat sama si Bojo.

Ternyata, di perjalanan Palembang menuju perbatasan provinsi Sumsel-Jambi saja, ada kali berhenti di 5 SPBU karena numpang buang air. Intinya mah, tiap ganti daerah atau kota pasti bakal ketemu SPBU.

  •  Jarang ada Rest Area

Ya, kalau perjalanan di Pulau Jawa yang lewat tol, ada banyak ya SPBU yang lengkap dengan rest-area yang isinya ada KFC, Starbucks, atau restoran ternama lain. Nah, di Sumatera ini belum banyak tol kan, jadi kebayang, duh ntar kalo capek istirahat di mana ya? Ternyata, jawabannya ada sama saja yaitu di SPBU. Hehehe. Ada di SPBU daerah Sungai Lilin yang luas dan bagus banget. Selebihnya, cukup banyak SPBU yang menyediakan toilet, musholla, bahkan ruangan khusus untuk duduk-duduk istirahat. Beberapa SPBU memasang logo ***** alias lima bintang (atau bintang lima) yang memang bisa dibilang cukup bersih dan terawat.


Selain SPBU, Rest Area bisa ditemukan juga di beberapa rumah makan seperti Pagi Sore yang memiliki halaman yang luas. Banyak juga rumah makan lain yang memang memiliki halaman luas dan jadi area istirahat bis atau truk yang melintas. Ga cuma itu, beberapa rest area juga dibuat oleh Kodim (Komando Distrik Militer), Koramil (Komando Rayon Militer), beberapa partai, serta tentu saja polisi yang membuat posko mudik. Tapi, dalam perjalanan kami tidak ada mampir ke rest area selain SPBU sih.

Oh ya, di daerah Pangkalan Balai menuju Palembang, bahkan ada Tahu Sumedang Renyah, restoran yang cukup lengkap lah buat makan. Sebelumnya pernah mencoba yang arah Prabumulih dan enak banget gorengannya, walaupun gorengan berasa premium hahaha. Jadi, waktu menuju Palembang, mampir juga di sini.

  • Jalannya Bakal Jelek

Jalanan jelek versi saya sih berlubang dengan kedalaman yang bisa bikin mobil kecil gesrek-gesrek sama jalanan yang berkelak-kelok sampai bikin mual. Maklum, mobil yang dipakai mudik mobil kecil yang memang untuk dalam kota alias city car. Ditambah lagi bawa anak kecil, walau selama ini ga pernah mabok dan saya juga bukan tipikal yang mabok perjalanan, tapi khawatir kalau jalan jelek bisa bikin pusing dan mual.

Ternyata, pikiran jelek saya ini hampir salah sekitar 80 %.

Jalanan sudah diaspal, bolong sepanjang Sumatera Selatan cukup jarang, tapi jalan agak bergelombang karena ya yang bolong sudah ditambal tapi tidak merata, tambalannya pun sudah dengan aspal bukan pasir seperti kata beberapa teman. Jalanan di Provinsi Jambi cenderung lebih mulus, namun, di area sekitar Muara Tebo memang ada yang bolong-bolong. Beberapa jalan di Provinsi Sumatera Barat bahkan ada yang mulai dibeton.

Oh ya, jalanan di jalur Lintas Timur Sumatra ini cenderung lurus, ada yang naik turun, dan sedikit berkelok-kelok. Bagian yang banyak kelokan ada di Solok, Sumatera Barat.

Semoga kalau perjalanan jalur darat lagi di Sumatera bakal lebih nyaman karena jalanannya mulai diperbaiki.

  • Beradu dengan Banyak Kendaraan Besar

Tau dong kalo berita arus mudik banyak banget itu kendaraan mau roda dua, roda empat, atau roda banyak (bis gitu) ikutan lewat jalur mudik. Kepikirannya sih orang yang mau pulang kampung dengan kendaraan pribadi ke Sumatera juga bakal banyak, belum lagi truk-truk besar yang kadang di dalam kota (eh pinggiran kota ding ya saya tinggalnya) sering lewat-lewat. Kan banyak tuh truk pengangkut batu bara, truk pengangkut sawit, dan truk pengangkut lainnya. Jalan di belakang truk atau bis itu ga enak, berasa kecil gitu.

Ternyata, saat berangkat ke Jambi di H-2 Lebaran, ga banyak truk besar lewat, mungkin ada larangan ya demi kelancaran arus mudik. Terima kasih buat pemerintah yang bikin aturan hehehe.

Saat arus balik di H+8 dari Jambi menuju Palembang, truk besar sudah banyak lewat lagi. Walaupun begitu, jalanan masih lancar, dan masih bisa nyalip-nyalip lah. ehei.

Kalau beradu sesama kendaraan roda 4 atau dengan kendaraan roda 2 ya biasa aja kan.

  • Kena Macet

Kalau ga lewat tol, biasanya kita mengalami macet kan ya. Lewat tol aja kadang macet, apalagi ga lewat tol. Itu yang sempat saya pikirkan. Apalagi mudik kan ya, pasti banyak orang mau pulang. Orang Sumatera juga kan banyak yang merantau. Pengalaman Palembang-Indralaya aja kadang kena macet, makanya sampai dibuat tol, bisa jadi luar kota gini kena juga. Share instastory salah seorang teman di H-3 dia kena macet di arah Palembang dari Jambi tambah bikin was-was aja.

Nyatanya, alhamdulillah perjalanan hampir bebas macet, lancar aja di kecepatan rata-rata 60-70 km/jam. Macet muncul ketika melewati pasar dan jembatan, seperti di daerah Sungai Lilin. Namanya juga lewat pasar, menjelang lebaran, pagi-pagi pula. Macet ya wajar. Untungnya polisi cukup sigap karena ada polisi yang membantu mengatur lalu lintas.

Ketika kembali pun, hampir jarang ketemu macet. Eh saya banyakan tidur pas ini hahaha, begitu ketemu macet, karena ada perbaikan (pengaspalan) jalan di daerah Banyuasin yang entah kenapa dikerjain sore-sore bukan malam hari.

Jadi…..

Berdasarkan pengalaman perjalanan jalur darat Palembang – Muara Bungo – Padang – Jambi – Palembang atau Sumatera Selatan – Jambi – Sumatera Barat pada saat mudik kemarin, perjalanan darat di Sumatera cukup nyaman juga kok. Untuk Jalur Lintas Timur (Jalintim) Sumatera, jalannya cukup bagus, bahkan ada berita jalur di Tempino, Jambi yang biasa dilewati truk atau bus akan diperbaiki dan dibeton setelah mudik lebaran ini. Buat yang mau road-trip Jalur Lintas Timur Sumatera, insyaAllah aman dan lancar. Saran aja, lebih baik melakukan perjalanan di hari terang (pagi-siang-sore) karena penerangan memang belum banyak, cuma  yang macam glow in the dark itu loh, kena sinar nyala deh.

Written by

4 comments / Add your comment below

  1. Dari dulu pengen banget tuh nyoba mudik ke Semarang via darat dari Pekanbaru. Cuman jauh banget kan. Mana sekarang udah tinggal di Medan. Makin jauh lagi…
    Selain jauh ya itu. Terkadang terpikir jalur rawan terutaman Sumsel hingga Lampung

    Salam kenal dari Medan, mb

    1. Waaah berapa lama ya kalau dari pekanbaru sama medan?Saya juga pingin mudik Palembang Purbalingga tapi kayaknya nginepnya banyak deh hahaha.

  2. waaaaah, sayapun belum pernah tuh ke daerah sumatera.
    Tapi buat kita apalagi yang bawa kendaraan sendiri pasti punya was was yang hampir sama ya mbak aahahha..
    Apalagi yang bingung nyari pom bensin, ada ditengah hutan, malem malem lagi.

    Ya tapi semuanya harus kita awali dengan niat baik sama doa sih ya mbak biar aman aman aja di jalan.
    “Biar was wasnya juga hilang”
    xD

Silahkan meninggalkan komentar :)