Writing Task I – Three Days Without Nanny

Well, i feel lacking at English because don't use English regularly like when i was student. So i take a Writing English class online with iCan English Course and this is my first task writing English again. I tried to write naturally and i wish i got feedback and my writing skill will be better.

Since Monday, Yayu , that how we called nanny for our child, was absent. She was sick and the doctor said she need a rest. So, i must leave from my work.

I must changed role from working-mom to stay-at-home mom. Every Saturday, Yayu goes back to her home at noon and every Sunday she doesn't come for work. At the weekend, my husband is also at home so i don't feel worry much.

Being alone with my daughter made me being worried. I want my house always clean but having a baby would make your house always messy. Then, i feel amaze to stay-at-home mom without nanny who can bear their stress.

At Tuesday, Yayu still didn't come. So i need stay at home again. But, that day, i prepared more. I woke up early, cooked for breakfast, bathed my daughter, nursed her, washed and ironed clothes. I realize, being a mom is really hard because mom is a manager at home and mom must could manage time well.

I would stay at home at Wednesday but suddenly my boss texted me and she said she need help at office. So, i went to the office with my baby. My colleagues helped me. They babysitted and i could get my work done. Aha, next time, if Yayu can come to work again, maybe i will bring my baby to office again.

Today, Yayu is healthy again and come to work. I realize that i have dependent with Yayu and must learn more like cooking, managing time, etc to be a good wife and a good mom.

Mencoba Menjadi Peri Buku Books On The Go Indonesia

Melihat rak buku yang semakin penuh dan kayaknya kalau beli buku baru lagi bisa dilirikin sama Bojo (dengan tatapan semacam “beli lagi? mau ditaroh di mana?”), saya jadi kepikiran mau mendonasikan buku-buku yang saya punya sih.

Awalnya melihat ada akun instagram yang kalau kita donasi buku ada semacam ‘balasan’ berupa dilukis atau digambar ilustrasi gitu buat kita. Menarik? tentu dong, namanya gratisan. Tapi saya ga berada di kota yang sama dengan akun IG itu, dan diarahkan untuk donasi ke komunitas di kota saya tempati, Palembang. Saya diberi nomer kontaknya dan ternyata dia adalah salah satu perwakilan dari @sobatliterasi28 . Nanya-nanya, ternyata dia buka lapak (semacam perpus gratis) tiap Sabtu malam di Pedestrian Sudirman dan Minggu sore di Kambang Iwak. Okeee, niat saya adalah datang pas dia buka lapak, lalu memberikan di sana. Ternyata mau datang ke sana dan ngasih langsung tuh gagal terus, ada aja alasan, ya kecapekan, ya macet, dll.

Sampai pada akhirnya, ketemu akun instagram @BooksOnTheGoIDN dan menjelajah facebooknya, dapat deskripsi seperti ini

“HALO! Kami adalah PERI BUKU yang suka BERBAGI buku GRATIS.

TAKE – READ – SHARE (AMBIL – BACA – BERBAGI)

TAKE – AMBIL dan bawa pulang buku yang kalian temukan

READ – BACA buku tersebut sampai selesai

SHARE – BERBAGI buku tersebut agar yang lain bisa membaca juga dengan meletakkannya di transportasi publik dan juga di tempat-tempat umum lainnya di Indonesia

Misi gerakan ini adalah untuk menyebarkan MINAT MEMBACA BUKU di Indonesia agar teman-teman mendapatkan INSPIRASI dari BUKU.

Seperti perpustakaan berjalan, kami ingin kalian dapat membaca buku di mana pun dan kapan pun.

Books On The Go! Indonesia adalah bagian dari Books On The Move Global http://www.booksonthemoveglobal.com/

Untuk bergabung: http://bit.ly/daftarBOTG

~ SHARE ONE BOOK, CHANGE ONE LIFE! ~”

Terus saya tertarik, dan order stickernya.

Kenapa saya tertarik ? Tantangan buat saya untuk berani meletakkan buku di tempat umum, kalau ada kesempatan malah bisa naik kendaraan umum untuk meletakkan buku-buku tersebut. Terus ketertarikan lain karena saya merasa orang yang akan mengambil buku bisa jadi karena 2 hal yaitu memang tertarik untuk membaca atau kalau yang tidak tertarik bisa jadi menjadi punya minat untuk membaca. Saya merasa gerakan seperti ini bagus untuk ditularkan, dan di Palembang belum ada.

Setelah sticker datang saya sempat bingung sih, buku mana yang mau saya taruh di tempat umum. Akhirnya saya memutuskan sendiri syarat buku yang saya letakkan di tempat umum : harus sudah dibaca dan ditulis sekilas reviewnya di blog. Buat apa? buat dokumentasi saya sendiri kalau saya pernah punya dan baca buku tersebut.

Akhirnya ada satu buku yang kepilih, yaitu Bajak Laut & Purnama Terakhir karya Adhitya Mulya. Saya sempat mau letakkan di salah satu mall di jalan POM IX, tapi grogi karena ramai. Akhirnya beberapa hari kemudian diletakkan di salah satu mall di jalan R. Sukamto Palembang. Sempat bingung juga sih mau naroh di mana. Ternyata emang bikin grogi sih ngelakuin hal kayak gitu. Bisa aja disangka naroh yang ngga-ngga, diliatin orang, dan lain-lain. Tapi, dari banyaknya yang nge-share di akun IG @BooksOnTheGoIDN bikin saya terinspirasi naroh lagi di tempat lain. Next ya….masih dibaca dan ada yang dibaca ulang, biar ini blog juga ada isinya ¬†hehehe.

Beberapa waktu lalu, ada tawaran buat peri buku BOTG di beberapa kota dari BOTG dan Bentang Pustaka. Di bulan Juli, Bentang Pustaka bekerja sama dengan Books On The Go Indonesia mengadakan event #BerburuKaryaAndrea di kota Bandung, Medan, Palembang, dan Banjarmasin. Ada 3 paket buku karya Andrea Hirata (#AndreaSurprisePackage). Tugas para peri buku (sebutan untuk anggota BOTG Indonesia) adalah men-drop buku di tempat umum, lalu tim akan men-share clue di sosial media. Menarik? ya, sangat menarik untuk saya. Sekalian olah raga. Saya daftar dan ternyata di approve untuk melaksanakan di Palembang. Jadi tanggal 22 Juli 2017 lalu saya ‘mangkal’ di Kambang Iwak Family Park ngedrop paket satu per satu. Dan ternyata seru. Oke, paling ngga untuk saya sendiri saya merasa seru. Saya sempat bikin videonya, silahkan ditonton ūüôā

Lalu saya merasa, men-drop buku di tempat umum itu bikin deg-deg-an tapi seru. Ngelakuin bareng Bojo, dia malah penasaran sendiri bukunya ada yang ngelirik terus ngambil ngga. Ngelakuin di depan anak, saya berharap dia jadi memiliki rasa berbagi dan berbagi itu seru. Semoga ini jadi contoh yang baik buat dia. Dan tentunya, saya sendiri jadi terpacu untuk membaca lebih dan menulis lebih (walau cuma cerita baca buku ehei). Rasanya saya juga jadi terkoneksi dengan apa yang saya beri, mungkin kalau ada yang posting dia ngambil buku yang saya drop di tempat umum saya akan merasa lebih bahagia ūüėÄ

Semoga, ada yang tertarik juga jadi peri buku ūüôā biar gerakan membaca buku bisa menular.

Belajar Kebaikan dari Buku Aku dan Kamu

Udah lama rasanya ga nulis tentang buku, apalagi tentang buku anak. Kali ini buku yang mau saya ceritain adalah buku Aku dan Kamu (Me and You).

Detail Buku 

  • Judul Buku : Aku dan Kamu
  • Design & Ilustrasi : Clefiena
  • Editor : Fandra
  • Translator : Kandi Sekarwulan
  • Penerbit : Cleferik Doodle Books
  • Cetakan : 1

Buku ini bilingual, jadi walaupun judulnya dan bahasa utama yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, ada teks lain berupa Bahasa Inggris di setiap halaman. Kalau melihat keseharian penulis melalui instagram @clefy_theartganta dan pengantar

Untuk dua bolang yang tidak pernah kenal kata lelah

rasanya, buku ini adalah persembahan teh clefy (ih sok akrab banget nun) untuk kedua anak lelakinya.

Aku dan kamu selalu berjalan bersama

Nah, dari sini saya makin yakin kalau ini cerita tentang dua anak lelaki dari penulis.

“Aku dan Kamu” memiliki tokoh seorang anak lelaki berambut hijau dan berkaus garis-garis merah dan putih yang bertualang melewati halangan dan rintangan bersama dengan hati-hati.

“Aku dan Kamu” mengajarkan untuk saling menjaga dan menghormati karena itulah tujuan Tuhan menciptakan kita semua.

“Aku dan Kamu” berani bertualang bersama hewan-hewan, melihat pemandangan alam, karena Tuhan menciptakan keindahan, keunikan, dan manfaat untuk setiap hewan-hewan.

“Aku dan Kamu” mengingatkan bahwa Tuhan menciptakan alam untuk semua makhluk hidup. Kita bisa menikmati dan merasakan apa yang ada di alam dengan baik. Jadi, jangan sampai merusak alam ya.

“Aku dan Kamu” mengingatkan, dalam bertualang, mungkin saja kita jatuh, tersandung dan terhempas. Menangis itu lemah? Tidak. Kita boleh saja menangis, karena setelah itu kita akan menjadi lebih kuat.

Buku ini sangat bagus untuk mengajarkan tentang kehidupan.

Memangnya anak sudah mengerti tentang Tuhan?

Kalau mengutip pelajaran di kelas Home Education Pendidikan Berbasis Fitrah, di usia 0-2 tahun, anak bisa diajarkan fitrah keimanan dengan imaji dan kecintaan. Ga ada salahnya untuk mengajarkan konsep tentang Tuhan di usia tersebut.

Selain itu, buku ini gambar-gambarnya juga bagus sekali dengan ilustrasi menggunakan cat air, sehingga tone warnanya juga tidak terlalu terang dan menyejukkan. Ada konsep tentang kepedulian, saling menghormati, keberanian, dan tentu saja rasa bersyukur kepada Tuhan. Gambar tentang hewan dan alam juga bisa menjadi bahan mengenalkan anak tentang hewan, tumbuhan, dan fenomena alam seperti pelangi.

Menurut saya, buku ini cocok dibacakan sebagai dongeng pengantar tidur anak agar konsep kebaikan yang diajarkan dapat tertanam di benak anak. Mau buku ini? boleh kok kontak saya (loh kok promo? tapi ini beneran hehe)

 

 

 

 

6 Pikiran Buruk yang Tak Sepenuhnya Benar saat Mudik di Sumatera

6 Pikiran Buruk yang Tak Sepenuhnya Benar saat Mudik di Sumatera

Tahun ini adalah tahun pertama saya mudik lebaran di Sumatera, via jalan darat, dengan kendaraan pribadi pula. Sebelumnya, selama ini saya mudik ke Purbalingga dengan kendaraan umum pesawat sampai Jakarta lalu lanjut kereta. Tujuan mudik kali ini adalah ke Padang, kampung bojo. Kami memutuskan via jalur darat saja karena penerbangan direct Citilink dari Palembang-Padang sudah tidak ada, alias harus transit di Batam dan lagi harganya sudah w.o.w (bikin tabungan sakaratul maut) kalau untuk bertiga pulang pergi. 
Berhubung ini adalah mudik perdana saya di Sumatera, maka beragam persiapan saya coba lakukan mulai dari mencari info tentang jalur mudik, mulai dari mantengin twitter Radio Elshinta yang bikin Ekspedisi Mudik, searching tentang jalur lintas timur dan lintas tengah Sumatera, cari tahu tentang kondisi jalan, tanya orang-orang yang pernah ke Padang via jalur darat, dan lain-lain. Berhubung saya tipikal orang yang watiran (suka khawatir takut ada kejadian ini itu), jadi banyak pikiran yang muncul dan ternyata ga semuanya benar
Ini dia 6 pikiran buruk yang tak sepenuhnya benar selama Mudik di Sumatra :

  • Jalur yang Dilalui Masih Banyak Hutan

Ya, pikiran ini muncul setelah mendapatkan minimnya informasi tentang pengalaman orang yang melakukan perjalanan jalur darat Palembang-Padang. Ada beberapa yang menyebutkan bahwa masih banyak hutan, ada juga yang bilang banyak jurang, tapi ada yang bilang pemandangannya indah. 

Aslinya, memang ada area yang seperti hutan dan cukup gelap, ini ada di perjalanan dari Muara Tebo menuju Muara Bungo (provinsi Jambi). Kami sampai di area ini memang selepas jam 6 sore saat berangkat dari Palembang.Penerangan memang tidak banyak, tapi rambu-rambu penunjuk jalan cukup membantu. Oh ya, kata bojo, entah kenapa, orang di Sumatera baru mulai menyalakan lampu mobil saat perjalanan selepas maghrib atau diatas jam 18.30, mungkin karena masih agak terang ya suasananya (matahari belum terbenam sempurna), tapi kan namanya lewat jalanan banyak pohon rindang, udah lewat jam 6 sore, ya saya sih mendingan nyalain headlamp, demi keselamatan. 

Selebihnya, jalur yang dilalui dari Palembang (Sumatera Selatan) ke Muara Bungo (Jambi) banyak melewati perkebunan sawit atau karet, tapi itu tidak melulu karena Jalur Lintas Timur Sumatera juga banyak melalui pinggiran kota. Jadi, masih ada kok rumah-rumah penduduk, ruko yang berjejer, komplek perusahaan (minyak, gas, pabrik, dll). Kalaupun ada daerah yang banyak pepohonan rindang, yang bukan suasana hutan yang mencekam juga. Oh ya, harus hati-hatinya karena banyak hewan yang suka lalu-lalang, awalnya merumput di sisi jalan, tau-tau mereka mau nyebrang aja. 

  • Bakal Jarang Ketemu SPBU

Ini akibat pesan ibu-ibu di kantor yang bilang, kalo ketemu pom bensin pokoknya full-in aja itu. Nah, jadi di pikiran saya, kayaknya bakal jarang nih pom-bensin alias SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Bahkan saya wanti-wanti ke Bojo, pokoknya kalo ketemu pom bensin penuhin itu tangki, demi keamanan perjalanan dan dibilang lebay amat sama si Bojo.

Ternyata, di perjalanan Palembang menuju perbatasan provinsi Sumsel-Jambi saja, ada kali berhenti di 5 SPBU karena numpang buang air. Intinya mah, tiap ganti daerah atau kota pasti bakal ketemu SPBU.

  •  Jarang ada Rest Area

Ya, kalau perjalanan di Pulau Jawa yang lewat tol, ada banyak ya SPBU yang lengkap dengan rest-area yang isinya ada KFC, Starbucks, atau restoran ternama lain. Nah, di Sumatera ini belum banyak tol kan, jadi kebayang, duh ntar kalo capek istirahat di mana ya? Ternyata, jawabannya ada sama saja yaitu di SPBU. Hehehe. Ada di SPBU daerah Sungai Lilin yang luas dan bagus banget. Selebihnya, cukup banyak SPBU yang menyediakan toilet, musholla, bahkan ruangan khusus untuk duduk-duduk istirahat. Beberapa SPBU memasang logo ***** alias lima bintang (atau bintang lima) yang memang bisa dibilang cukup bersih dan terawat. 


Selain SPBU, Rest Area bisa ditemukan juga di beberapa rumah makan seperti Pagi Sore yang memiliki halaman yang luas. Banyak juga rumah makan lain yang memang memiliki halaman luas dan jadi area istirahat bis atau truk yang melintas. Ga cuma itu, beberapa rest area juga dibuat oleh Kodim (Komando Distrik Militer), Koramil (Komando Rayon Militer), beberapa partai, serta tentu saja polisi yang membuat posko mudik. Tapi, dalam perjalanan kami tidak ada mampir ke rest area selain SPBU sih.

Oh ya, di daerah Pangkalan Balai menuju Palembang, bahkan ada Tahu Sumedang Renyah, restoran yang cukup lengkap lah buat makan. Sebelumnya pernah mencoba yang arah Prabumulih dan enak banget gorengannya, walaupun gorengan berasa premium hahaha. Jadi, waktu menuju Palembang, mampir juga di sini. 

  • Jalannya Bakal Jelek

Jalanan jelek versi saya sih berlubang dengan kedalaman yang bisa bikin mobil kecil gesrek-gesrek sama jalanan yang berkelak-kelok sampai bikin mual. Maklum, mobil yang dipakai mudik mobil kecil yang memang untuk dalam kota alias city car. Ditambah lagi bawa anak kecil, walau selama ini ga pernah mabok dan saya juga bukan tipikal yang mabok perjalanan, tapi khawatir kalau jalan jelek bisa bikin pusing dan mual.

Ternyata, pikiran jelek saya ini hampir salah sekitar 80 %. 

Jalanan sudah diaspal, bolong sepanjang Sumatera Selatan cukup jarang, tapi jalan agak bergelombang karena ya yang bolong sudah ditambal tapi tidak merata, tambalannya pun sudah dengan aspal bukan pasir seperti kata beberapa teman. Jalanan di Provinsi Jambi cenderung lebih mulus, namun, di area sekitar Muara Tebo memang ada yang bolong-bolong. Beberapa jalan di Provinsi Sumatera Barat bahkan ada yang mulai dibeton.  

Oh ya, jalanan di jalur Lintas Timur Sumatra ini cenderung lurus, ada yang naik turun, dan sedikit berkelok-kelok. Bagian yang banyak kelokan ada di Solok, Sumatera Barat.

Semoga kalau perjalanan jalur darat lagi di Sumatera bakal lebih nyaman karena jalanannya mulai diperbaiki. 

  • Beradu dengan Banyak Kendaraan Besar

Tau dong kalo berita arus mudik banyak banget itu kendaraan mau roda dua, roda empat, atau roda banyak (bis gitu) ikutan lewat jalur mudik. Kepikirannya sih orang yang mau pulang kampung dengan kendaraan pribadi ke Sumatera juga bakal banyak, belum lagi truk-truk besar yang kadang di dalam kota (eh pinggiran kota ding ya saya tinggalnya) sering lewat-lewat. Kan banyak tuh truk pengangkut batu bara, truk pengangkut sawit, dan truk pengangkut lainnya. Jalan di belakang truk atau bis itu ga enak, berasa kecil gitu.

Ternyata, saat berangkat ke Jambi di H-2 Lebaran, ga banyak truk besar lewat, mungkin ada larangan ya demi kelancaran arus mudik. Terima kasih buat pemerintah yang bikin aturan hehehe.

Saat arus balik di H+8 dari Jambi menuju Palembang, truk besar sudah banyak lewat lagi. Walaupun begitu, jalanan masih lancar, dan masih bisa nyalip-nyalip lah. ehei.

Kalau beradu sesama kendaraan roda 4 atau dengan kendaraan roda 2 ya biasa aja kan.

  • Kena Macet

Kalau ga lewat tol, biasanya kita mengalami macet kan ya. Lewat tol aja kadang macet, apalagi ga lewat tol. Itu yang sempat saya pikirkan. Apalagi mudik kan ya, pasti banyak orang mau pulang. Orang Sumatera juga kan banyak yang merantau. Pengalaman Palembang-Indralaya aja kadang kena macet, makanya sampai dibuat tol, bisa jadi luar kota gini kena juga. Share instastory salah seorang teman di H-3 dia kena macet di arah Palembang dari Jambi tambah bikin was-was aja. 

Nyatanya, alhamdulillah perjalanan hampir bebas macet, lancar aja di kecepatan rata-rata 60-70 km/jam. Macet muncul ketika melewati pasar dan jembatan, seperti di daerah Sungai Lilin. Namanya juga lewat pasar, menjelang lebaran, pagi-pagi pula. Macet ya wajar. Untungnya polisi cukup sigap karena ada polisi yang membantu mengatur lalu lintas. 

Ketika kembali pun, hampir jarang ketemu macet. Eh saya banyakan tidur pas ini hahaha, begitu ketemu macet, karena ada perbaikan (pengaspalan) jalan di daerah Banyuasin yang entah kenapa dikerjain sore-sore bukan malam hari. 

Jadi…..

Berdasarkan pengalaman perjalanan jalur darat Palembang – Muara Bungo – Padang – Jambi – Palembang atau Sumatera Selatan – Jambi – Sumatera Barat pada saat mudik kemarin, perjalanan darat di Sumatera cukup nyaman juga kok. Untuk Jalur Lintas Timur (Jalintim) Sumatera, jalannya cukup bagus, bahkan ada berita jalur di Tempino, Jambi yang biasa dilewati truk atau bus akan diperbaiki dan dibeton setelah mudik lebaran ini. Buat yang mau road-trip Jalur Lintas Timur Sumatera, insyaAllah aman dan lancar. Saran aja, lebih baik melakukan perjalanan di hari terang (pagi-siang-sore) karena penerangan memang belum banyak, cuma  yang macam glow in the dark itu loh, kena sinar nyala deh. 

Mengurus Pendaftaran Haji Ternyata Mudah

Awalnya Bapak ingin umroh sekeluarga selepas pensiun, tapi akhirnya menunda dulu karena memperhitungkan kondisi adik yang kurang baik. Saya pun telat sadar karena ingin umroh hanya bersama pasangan pun baru benar-benar timbul setelah menikah (dulu jiwanya masih liburan suka-suka) dan ternyata langsung hamil, mau umroh sekarang ya ada anak kecil khawatir kurang maksimal. 

Sebenarnya sudah sejak melihat ada teman yang kuliah di luar negeri menunaikan haji terbersit rasa iri (eh iri pada hal yang baik boleh kan?), melihat orang lain menunaikan umroh terbersit rasa ingin ke rumah Allah juga, puncaknya melihat teman yang bermukim di Jepang (dengan usia yang masih muda / seumuran) menunaikan haji di tahun lalu, rasa ingin pergi ke rumah Allah semakin besar. 

Akhirnya menyampaikan niatan ke bojo dan orang tua, serta kebetulan diberkahi rezeki, maka segeralah kami mengurus pendaftaran haji. Justru Ibu sangat mendukung mengingat sekarang antrian haji cukup lama dan mengharapkan anak-anaknya berhaji di usia muda dengan harapan masih kuat dan sehat. Segeralah kami memantapkan hati untuk mengurus haji. 

Jadi, mengurus haji itu dilakukan 2 (dua) tahap, pertama mengurus di Bank (diutamakan bank syariah) dan yang kedua mengurus di Kantor Kementrian Agama Kota. Pengurusannya tergolong mudah dan cepat. Saya mendaftar via Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Patal Pusri.

  • Hari Pertama Pengurusan  


Hari ini sengaja dikhususkan untuk membuka rekening haji dan bertanya tentang syarat-syarat pendaftaran haji. Kami datang ke Bank Syariah Mandiri menuju Customer Service (CS) untuk membuka rekening di BSM, rekening khusus haji yaitu BSM Tabungan Mabrur
Kenapa saya pilih BSM karena Setoran awal minimal Rp 100.000,- dan dekat dengan kantor, syaratnya mudah cukup KTP dan mengisi data diri pada formulir (seperti pada umumnya), serta sudah online dengan SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) Kementrian Agama.

Nah waktu membuka rekening, sekalian minta persyaratan yang harus dilengkapi untuk pendaftaran haji dan diberikanlah lembaran ini. 



Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Bank 

1. Membuka Rekening Mabrur dengan syarat KTP/SIM dan NPWP

2. Melakukan penyetoran ke Rekening Mabrur dengan minimal Rp 25.100.000,-

3. Mengiri Surat Pernyataan Calon Haji (SPCH)

4. Mengisi Surat Kuasa

5. Pasfoto (80% tampak muka) ukuran 3×4 (5 Lembar)

6. Materai 6.000 sebanyak (2 Lembar)

Pasfoto 80% tampak muka itu gimana? 

Jadi ada persyaratan pasfoto khusus haji (yang katanya buat umroh juga sama) yaitu : 

– Pasfoto berwarna

– Latar belakang putih

– Komposisi wajah mendominasi 80%
terdapat juga ketentuan lain yaitu : 

– Posisi muka harus menghadap depan, jangan menyamping

– untuk laki-laki, tidak boleh memakai kopiah atau topi

– untuk perempuan, wajib memakai jilbab atau kerudung

– Tidak memakai seragam dinas (buat yang ini, kalau komposisi muka 80% kadang ga keliatan sih)

Contohnya begini : 

Buat yang belum punya pasfoto, bisa ke studio foto lalu membuat pasfoto lagi dengan latar belakang putih dan saat mencetak minta request komposisi wajah 80%. Kebetulan saya udah ada pasfoto, jadi minta edit backgroundnya jadi putih dan cetak dengan komposisi wajah 80%. 


Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Kantor Kementrian Agama Kota Palembang

1. Asli Bukti Setoran Awal yang ada nomor Validasi dari Bank

2. Asli Surat Pernyataan Calon Haji (SPCH)

3. Asli Surat Kuasa Bermaterai

4. Asli dan Fotocopy KTP Palembang (1 Lembar)

5. Asli dan Fotocopy Kartu Keluarga (1 Lembar)

6. Asli dan Fotocopy Surat Nikah / Ijazah / Akte Kelahiran (1 Lembar)

7. Asli dan Fotocopy Buku Tabungan haji di Bank Syariah (1 Lembar)

8. Pasfoto (80% tampak muka) ukuran 3×4 (7 Lembar)

9. Asli dan Fotocopy Paspor (bila ada) (1 Lembar)

10. Surat keterangan domisili dari lurah (untuk usia anak min. 12 tahun)

Kedua persyaratan ini harus dibawa semuanya saat kembali ke BSM. 

  • Hari Kedua Pengurusan

Jeda beberapa hari kami gunakan untuk mengurus transferan dana dari bank tempat dana talangan haji kami sendiri ke rekening BSM Mabrur yang akan digunakan untuk pendaftaran haji. Akhirnya, kami kembali lagi ke Bank Syariah Mandiri dengan membawa Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Bank saja dan itu SALAH

Jadi seharusnya baik Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Bank maupun Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Kantor Kementrian Agama Kota Palembang seluruhnya dibawa dahulu ke bank, tujuannya adalah untuk dicek oleh petugas bank, sehingga saat mendaftar di Kantor Kementrian Agama sudah lengkap berkasnya jadi satu bundel dan tidak ada yang tertinggal lagi. Menurut penuturan CS BSM, kadang ada komplain dari Kantor Kementrian Agama karena ada berkas yang kurang, jadi CS BSM juga mengecek syarat yang akan dibawa ke Kantor Kementrian Agama. Karena kurang syarat yang dibawa, jadi kembali lagi deh siangnya untuk menyetor syarat-syarat.

Oh ya, sama seperti ibadah umroh di mana nama yang didaftarkan harus terdiri dari 3 (tiga) kata mungkin semacam first name, middle name, dan last name nya harus terisi semua, berhubung nama saya cuma terdiri dari 2 kata, maka ditambahkanlah nama depan Bapak saya ke nama saya, jadi nama yang didaftarkan adalah Faridilla Ainun Farid. Jadi nih ya, berdasarkan pengalaman ini, saya sama bojo sepakat, kalau nama anak memang buatlah 3 kata jangan 2 kata kayak saya trus nanti ditambahin.

Pengurusannya gampang, lha wong semua CS BSM yang ngurusin, paling kita cuma setor form yang sudah kita isi dan bayar uang materai kalau memang ga bawa materai. Tau-tau sudah keluar deh itu Tanda Bukti Setoran Awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji

  • Hari Ketiga Pengurusan

Hari untuk mengurus ke Kantor Kementrian Agama Kota Palembang. Kantor Kementrian Agama Kota Palembang berada di Jalan Ahmad Yani, Tangga Sekat, Seberang Ulu Palembang. Untuk lokasi persisnya ada di sini. Kantornya berwarna hijau, tapi agak tertutup pohon rindang gitu, nyaru sama cat warna kantornya, jadi kalau dari Simpang Telaga Swidak harus ambil lajur kiri dan agak pelan-pelan. 

Bagian pengurusan haji ada di bangunan sebelah kanan gedung, petunjuk cukup lengkap untuk mengarahkan ke unit kerja tersebut. Saran saja, menguruslah di pagi hari kalau bisa sebelum jam 9 pagi. Kenapa? Karena di jam 8 pagi Jembatan Ampera tidak terlalu macet (dari arah ilir ke ulu) dan memang kantornya juga buka jam 8 kan, jadi ya masih seger petugasnya dan belum terlalu ramai. 

Ketemu petugas pertama, diajak ngobrol sambil dikasih form untuk diisi, petugasnya juga mengecek kelengkapan berkas. Ketika tau sudah berkeluarga malah ditanya, “ga sekalian ngedaftarin anaknya?”. Bapaknya bilang, biar barengan gitu sama anak. Pengen sih, tapi dana masih baru cukup buat orang dua aja, belum lagi kepikiran kalo mau nambah anak, ntar kan daftarin anak yang berikutnya juga ya, kira-kira bakal barengan ga perginya kalau daftarinnya beda beda gitu. Semoga ada rezeki buat daftarin anak haji juga deh. 

Selesai isi berkas, kami diminta pindah ke ruang lainnya (masih di gedung yang sama) untuk diisikan berkas secara online oleh petugas melalui sistem SISKOHAT serta melakukan foto dan rekaman sidik jari. Lalu keluarkah Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) yang menunjukkan nomor PORSI pendaftaran haji untuk per orang. Berkas-berkas ini perlu kita tanda tangani, tapi belum bisa langsung kita bawa pulang karena harus ditandatangani oleh orang dari Kantor Kementrian Agama Palembang sebagai perwakilan Penyelenggara Haji dan Umrah. Selanjutnya lembaran ini juga akan diserahkan kepada BPS BPIH, Kantor Kementrian Agama Kabupaten / Kota, Kantor Wilayah Kementrian Agama Propinsi, dan Direktorat Jendral Penyelnggara Haji dan Umrah. Itu semua diurus oleh petugas dari Kantor Kementrian Agama Kota Palembang.

disensor ya banyak data diri soalnya

Setelah selesai kami diinformasikan, bisa melihat kuota haji di aplikasi Haji Pintar atau Siskohat yang sudah ada di Google Play Store atau via website Kementrian Agama dengan memasukkan nomor porsi di hari berikutnya.

 
Jadi, kita harus kembali lagi ke Kantor Kementrian Agama ini untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani. Kami kembali lagi setelah 1 bulan kemudian karena mencari waktu kosong untuk ijin keluar kantor lagi. Ga enak aja ijin-ijin terus kan dan memang di jangka waktu 1 bulan surat pasti sudah selesai ditandatangani dan ga akan balik lagi dalam jangka waktu dekat. 

Beberapa hari kemudian, kami mencoba mengecek via aplikasi Haji Pintar, dan mendapatkan tahun perkiraan berangkat adalah 2034 yang artinya 18 tahun lagi dari tahun kami mendaftar. Lama ya? iya, tapi katanya akan ada perluasan area di Makkah sehingga bisa menampung lebih banyak lagi umat muslim yang ingin beribadah haji. Oh ya, tahun perkiraan berangkat haji bisa berubah-ubah sesuai dengan regulasi. Ketika saya mengecek kembali akhir-akhir ini, tahun perkiraan berangkat berubah menjadi 2029, artinya berkurang 5 tahun dari ketika awal mendaftar dulu karena ada penambahan kuota. Kalau dihitung-hitung, 12 tahun lagi saya dan bojo direncanakan berangkat haji. InsyaAllah, amin ya rabbal alamin. 



Catatan penting :
Untuk KTP, sangat disarankan untuk e-KTP ya. Kenapa e-KTP, karena artinya kita sudah punya Single ID di negara ini. ceilah. Gini, kan banyak ya kita punya KTP di beberapa daerah (termasuk saya di jaman dulu kala). Lalu terbitlah e-KTP sebagai single ID jadi kita ga bakal bisa tuh punya KTP banyak lagi. Kalau udah punya atau pernah merekam e-KTP di kota lain, dan memang mau tercatat untuk jadi penduduk kota domisili sekarang (berubah gitu) ya harus diurus dan hanya boleh punya 1 e-KTP di domisili yang dimau. 
Kebetulan saya e-KTP Palembang sudah keluar (ya nembak sih karena malas bolak balik ke Catatan Sipil, jadi minta diuruskan orang Kecamatan dan e-KTP Purbalingga jadinya sudah tidak berlaku). 

Kalau punya e-KTP di kota lain, ada baiknya ya mengurus pendaftaran haji di kota tersebut karena walaupun sistemnya online tapi ya ternyata kuota itu per daerah kan, jadi lebih baik mendaftar di tempat e-KTP kita masih berlaku yang artinya kita akan masuk ke kuota haji daerah tersebut. 

Saya kebayang sih, di Indonesia ini kan penyebaran penduduk belum merata dan Indonesia banyak penduduk yang beragama Islam. Keberadaan penduduk muslim di tiap daerah pun berbeda-beda, ada yang mendominasi ada yang tidak. Kuota tentu dibuat secara proporsional oleh Kementrian Agama dengan memperhitungkan jumlah penduduk dan jumlah penduduk muslim di provinsi masing-masing. 

Kesimpulan 

Mendaftar haji itu mudah ya ternyata, cukup ke 2 tempat saja yaitu Bank Syariah dan Kantor Kementrian Agama. Sebelumnya ada teman Bojo cerita dia bolak balik ke Bank Syariah dan Kantor Kementrian Agama, tidak tahu juga bolak baliknya kenapa. Tapi berdasarkan hal tersebut, kami memilih bank syariah yang berbeda dari dia, yaitu Bank Syariah Mandiri dan nyatanya hanya 2 kali saja ke bank yaitu untuk membuka rekening dan mendaftar haji via bank (untuk setoran dari bank ke Kementrian Agama) serta 2 kali ke Kantor Kementrian Agama yaitu untuk mendaftar dan mengambil berkas. 
Semoga di pengurusan berikutnya (ketika saat akan berangkat nantinya) dimudahkan juga. Semoga niatan ini dilancarkan sampai saatnya tiba dan kami sekeluarga selalu diberikan kesehatan serta rezeki juga agar bisa ke rumah Allah dengan haji maupun umroh. Semoga bagi yang memiliki keinginan sama untuk berhaji juga dilancarkan. Amiiiin.

Baru bisa share tulisan saat mendaftar saja, karena belum punya pengalaman ke sana. Semoga bisa kesana segera ya, pinginnya sih tinggal di sana atau di deket sana hehehe. 

Sumber tulisan : 

– Pengalaman Pribadi 

– Info tentang pasfoto 80% dari : http://www.hajiplus.id/pas-photo-persyaratan-haji-plus-reguler/

– Info tentang pembagian kuota haji dari : http://www.ihram.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/17/02/22/olrzc4313-soal-pembagian-kuota-haji-provinsi-ini-penjelasan-kemenagi

Aliran Rasa Tantangan I 

Awal Juni lalu, saya menjalankan tantangan 10 hari Materi Bunda Sayang #1 : Komunikasi Produktif. Saya mencoba untuk menjalankan secara konsisten dalam 10 hari berturut-turut untuk berkomunikasi produktif dengan pasangan dan anak. Untuk komunikasi produktif dengan pasangan saya mencoba memilih poin “Choose The Right Time” sementara dengan anak saya memilih poin “Mengatakan yang Diinginkan”.

Ketika mencoba berkomunikasi produktif, yang saya rasakan sebenarnya harus semua poin terintegrasi. Saya mencoba berkomunikasi dengan pasangan dengan memilih waktu yang tepat, misal bahasan yang santai dibahas saat Car Time atau saat santai. Namun, ketika mencoba masuk ke topik yang serius saat santai perlu dukungan poin lain seperti “Clear & Clarify“. Begitupula saat berkomunikasi dengan anak. Usia anak yang baru menginjak 1 tahun mungkin masih membuat saya merasa susah untuk berkomunikasi 2 arah secara jelas sehingga hanya komunikasi 1 arah yang kadang dibalas dengan tindakan atau suara yang masih belum jelas maknanya atau bahkan diacuhkan sama sekali.

Dalam menjalani tantangan 10 hari, walaupun latihan lebih menitikberatkan komunikasi produktif dengan pasangan dan anak, tetapi komunikasi produktif dengan diri sendiri juga diasah. Komunikasi dengan diri sendiri yang melibatkan ego, kesadaran, dan keinginan untuk melakukan tantangan dan melaksanakannya dengan konsisten juga dilatih. Saya mengakui dalam menjalani tantangan ini, walau secara berturut-turut selama 10 hari saya menjalaninya, saya masih tidak konsisten dalam menuliskan dan mendaftarkan tantangan. Tidak selalu setiap malam saya menuliskan dan mengupload tugas saya, kadang saya tuliskan keesokan harinya dan baru diupload di hari berikutnya karena komunikasi dengan anak dan diri sendiri masih kurang dilatih.

Faktor komunikasi dengan pasangan, selain dipengaruhi oleh poin komunikasi produktif juga dipengaruhi oleh ego diri dan pasangan serta isi dari komunikasi yang dilakukan. Sering juga transaksi komunikasi tidak berjalan baik karena perbedaan ego yang dimiliki oleh saya dan pasangan.

Berkomunikasi dengan anak usia 1 tahun masih terasa sulit untuk saya. Walau niat saya memang ingin banyak bercerita dan berkomunikasi agar anak mengenal banyak suku kata, tapi ternyata tidak mudah. Berkomunikasi dengan anak juga perlu disertai dengan sentuhan fisik dan tindakan-tindakan tertentu. Namun, saya masih merasa kurang cakap karena sepertinya apa yang saya inginkan untuk dimengerti anak ternyata masih belum ‘kena’ atau mungkin anak ingin mengatakan sesuatu tapi karena belum lancar berbicara jadi tidak ‘kena’ ke saya. Saya harus lebih memaknai bahasa cinta yang di-‘kode’-kan oleh anak dan bisa membalas juga bahasa cinta tersebut.

Terus berlatih, semoga lebih baik.

DIY Monkey Bar Untuk Arena Bermain Anak di Rumah

 

“Wah, Mahira putih ya ternyata, jarang main di luar ya?”

Begitulah beberapa komentar teman saat bertemu anak saya Mahira. Memang benar sih, anak saya jarang main ke luar rumah. Kalaupun keluar dari rumah, mentok di teras atau garasi sehari-harinya. Kalau hari libur baru deh dibawa pergi ke mall, rumah sakit (untuk imunisasi), atau sekadar menemani ayah ibunya untuk makan di luar.

Faktor cuaca yang kalau panas teriknya bukan main, bikin saya, suami, dan pengasuh memilih ‘ngadem‘ di rumah aja. Selain itu, ketika saya bekerja, pengasuh pun memilih tidak mengajak anak keluar untuk bermain bersama anak tetangga. Lebih baik main di rumah saja bareng Mahira sudah cukup menyenangkan katanya. Alhasil, saya yang harus memutar otak menyediakan mainan dan tempat main untuk anak di rumah.

Perkembangan anak menjadi dasar untuk membuat permainan yang sesuai dengan anak. Tiga bulan lalu, Mahira sudah mulai merangkak. Saya berpikir, mungkin sebentar lagi ia akan mulai mencoba berdiri sambil berpegangan lalu akan merambat. Saya mencoba menyediakan arena main untuk melatih ia agar mau berlatih berdiri sendiri dengan membuat monkey bar sendiri.

Monkey Bar? Apa itu?

Monkey Bar atau Batang Monyet adalah tiang-tiang yang disusun untuk anak agar bergelantungan. Umumnya monkey bar ditemui di taman atau lokasi pra sekolah. Bentuk yang umum biasanya berupa setengah lingkaran yang terbuat dari besi dengan pasir di bagian bawah agar jika anak jatuh tidak merasa sakit. Manfaat dari bermain di monkey bar adalah melatih tubuh kinestetik, keberanian, dan melatih keseimbangan.

DIY Monkey Bar

Saya mendapat inspirasi untuk membuat monkey bar sendiri tentunya dengan bantuan suami. Setelah berburu model monkey bar, kami memutuskan untuk membuat model monkey bar dari hasil berburu inspirasi di Pinterest. Model ini kami pilih karena jika dilihat sekilas selain menjadi monkey bar, bisa dipakai juga untuk menggantung permainan bagi anak bayi, sebagai gawang dan hoop bermain bola basket, belajar merambat dan memanjat, atau menjadi tenda saat anak mulai besar nanti.

Inspirasi dari DomanMom

Awalnya saya berencana memodifikasi desainnya, namun karena ada salah komunikasi dengan suami, jadi desainnya tetap sesuai dengan gambar. Yang berbeda adalah ukuran pipa PVC yang digunakan lebih besar dari contoh. Pertimbangan kami, dengan diameter PVCyang lebih besar akan lebih kokoh dan tidak mudah roboh, selain itu, memang hanya menemukan sambungan antar pvc ukuran besar di toko bangunan dekat rumah.

Alat dan Bahan :

  • PVC ukuran 1,5 inchi
  • Sambungan PVC sesuai dengan desain
  • Cat non toxic
  • Gergaji

Jika memiliki gergaji sendiri, tentu setelah membeli PVC dapat dipotong sendiri. Namun, karena keterbatasan (tidak memiliki gergaji), maka setelah beli PVC di toko bangunan, kita bisa minta kepada tukang di toko bangunan untuk memotongnya sesuai dengan ukuran.

Cara membuat monkey bar cukup gampang, setelah PVC dipotong sesuai ukuran, sambungkan, lalu cat monkey bar yang sudah disambung dan tunggu catnya kering. Cat non toxic dipilih karena selain ramah lingkungan, juga aman untuk kesehatan anak Cat non toxic sudah banyak dijual di pasaran dengan berbagai merek. Tinggal kita sebagai orang tua yang harus jeli dan teliti saat membeli.

Kalau di taman-taman atau pra sekolah di bawah monkey bar diletakkan pasir, untuk di rumah bisa diletakkan playmat, matras, atau karpet puzzle. Saya pilih karpet puzzle Evamat untuk alas, karena sekalian belajar warna, abjad, dan nama-nama hewan. Total biaya untuk membuat monkey bar ini lengkap dengan alasnya kurang dari Rp 350.000,-

Monkey bar ini cukup membantu Mahira saat mulai belajar berdiri dan merambat. Dia juga mulai berani berdiri sambil melangkah sambil memegang tiang satu ke tiang lainnya. Untuk berdiri sendiri tanpa berpegangan memang masih belum bisa, tapi Mahira mulai berani berdiri sambil bersandar di salah satu tiang.

Selain menjadi arena untuk berlatih berdiri dan merambat, monkey bar ini menjadi arena bermain yang aman Mahira. Koleksi permainan yang dimiliki disimpan di area sekitar monkey bar, jadi ketika anak akan main dia akan main di area ini. Walau tidak menutup kemungkinan dia juga mencoba membuat rusuh tempat lain seperti rak buku, tapi seringnya Mahira memilih bermain di area ini. Kadang Mahira suka main sendiri, tapi seringnya selalu ditemani baik oleh pengasuh atau orang tuanya. Kalau bermain sendiri, dia bisa sambil mengoceh seperti lagi cerita sesuatu. Saya sendiri sering mengganggu saat dia bermain, khususnya kalau dia bermain buah-buahan, saya sering meminta dan pura-pura memakan sambil menjelaskan tentang buah yang sedang dimainkan. Selain mengajari tentang buah, juga mengajarkan tentang berbagi dan saling memberi.

Kekhawatiran saya akan banyaknya virus dan penyakit yang muncul dari tempat umum membuat saya memutuskan untuk lebih banyak mengajak anak bermain dan beraktivitas di dalam rumah sampai usia anak 10 bulan, karena merasa lebih aman. Selain bermain bersama di monkey bar, kadang kami berenang di kolam renang yang memang sengaja dibeli untuk anak berlatih mengenal kegiatan renang dan bermain air. Namun, seiring dengan bertambahnya usia dan lengkapnya imunisasi, saya melihat Mahira cukup kuat untuk dibawa bermain di tempat umum seperti area taman atau pantai. Walaupun begitu, saya tak mau lengah, obat-obatan tetap harus disediakan di dalam rumah. Paracetamol adalah salah satu obat wajib ada di rumah atau ketika traveling. Saya menyediakan Tempra Syrup, yang mengandung paracetamol dan berguna untuk meredakan demam, rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala dan sakit gigi.

Bermain bersama anak tentu aktivitas yang menyenangkan bagi orang tua, baik di dalam rumah maupun luar rumah. Membuat mainan sendiri juga dapat menjadi hal yang menyenangkan bagi orang tua karena mengasah kreativitas dan menimbulkan kepuasan saat anak tertarik bermain di permainan yang kita buat. Tentunya, kesehatan dan keamanan anak harus tetap dinomor satukan. Yuk bermain dengan anak secara aman dan menyengangkan.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Sumber :

  • http://www.ayahbunda.co.id/balita-bermain-permainan/kenali-mainan-di-halaman-sekolah
  • https://domanmom.com/jungle-gym-tutorial/

#Day 10 – Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Saya akan melanjutkan tantangan 10 hari saya di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Professional. Ini adalah hari kesepuluh berlatih Komunikasi Produktif. Semoga catatan dan upload bisa sesuai hari lagi.

10 Juni 2017

Komunikasi Produktif Pada Pasangan

Sesi1 Bunda Sayang

    • Poin yang dipilih : Choose The Right Time
    • Narasi :
  • Hari Sabtu adalah hari santai, karena hari ini ada jadwal pembersihan kasur¬†dengan vakum, jadi tidak ada jadwal keluar pada sore hari. Alhasil, tv ‘dibajak’ oleh suami untuk nonton DVD. Sore hari setelah memandikan anak, suami masih nonton tv, sementara anak nodong untuk menyusu.

Sekitar pukul 17.15

Anak masih menyusu tidak mau lepas.

Saya : “Yah, filmnya berapa lama lagi?”

Suami : Mem-pause DVD dan menunjukkan kalau masih 30 menit lagi.

Saya berpikir kalau 30 menit lagi baru selesai dan anak masih ga mau lepas menyusunya, maka saya ga bakal bisa goreng cireng dan pempek plus buat teh untuk buka puasa. Jadi saya memilih menunggu film selesai.

*Film selesai, suami mau mandi*

Saya : Yah, mahira masih nyusu ga mau lepas, panasin minyak ya buat goreng bukaan.

Suami : *diem aja, gerakan mau ke belakang buat mandi*

Saya mendengar dia keluar dari kamar mandi dan menyalakan kompor. Posisi anak masih menyusu ga mau lepas.

Dia kembali dari area belakang (dapur & kamar mandi), baru anak mau lepas dari posisi menyusu.

Saya bergerak ke arah belakang untuk mengecek, ternyata sudah ada pempek dan teh manis panas. Cirengnya? ga digoreng karena dia ga suka. yah.

    • Hal yang menarik yang saya dapatkan : Kalau memilih waktu yang tepat, konsep clear & clarify juga perlu. Jadi ga kecewa karena cireng ga digorengin. Minta tolong awalnya juga buat manasin minyak, bukan buat menggoreng.
    • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi :¬†Menahan meminta tolong setelah film selesai agar kesenangan pasangan tidak terganggu saat menonton film.

Komunikasi Produktif Pada Anak

Sesi1 Bunda Sayang

  • Poin yang dipilih :¬†Mengatakan Yang Diinginkan
  • Narasi :

 

Sejujurnya, saya merasa Mahira sudah kuat berdiri, hanya masih ingin berpegangan. Tapi melihat anak seumuran sudah mulai berjalan, tentu membuat iri sekaligus cemas dan sedikit galau karena sering ditanya, anaknya sudah bisa jalan belum.

Hari ini mumpung libur, saya mencoba stimulasi Mahira saat dia akan tidur. Sekalian agar anaknya lelah dan tidur lebih cepat (niatnya).

Saya : Mahira, latihan berdiri yuk.

Anak : Masih cuek berdiri pegangan di rak buku

Saya mendekat dan meraih tangannya agar dalam posisi titah.

Saya : Mahira, tangannya ibu lepas ya. Mahira berdiri sendiri ya

Anak bisa berdiri kurang lebih 5 detik, lalu bergerak ke bawah dalam posisi jongkok. Dan saya tepuk tangan sambil bilang “Woow anak ibu pintar sudah bisa berdiri lepas tangan”

Wah, senangnya, biasanya dia langsung pegangan atau jatuh di 2 detik pertama.

  • Hal yang menarik yang saya dapatkan :¬†Senang rasanya jika anak mau mendengarkan dan mau berusaha.
  • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi : Selain mengatakan yang diinginkan yaitu ingin melepas tangan agar anak berdiri sendiri, saya mulai memasukkan unsur memberi pujian yang jelas setelah anak bisa berdiri lebih dari 5 detik. Sebelumnya ketika dia hanya berdiri sedetik atau 2 detik lalu jongkok, saya bertanya, “kenapa, kok langsung¬†turun?” karena ini lebih dari pencapaian biasanya saya memberi dia pujian.

#level1

#day10

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

#Day 9 – Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Saya akan melanjutkan tantangan 10 hari saya di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Professional. Ini adalah hari kesembilan berlatih Komunikasi Produktif. Semoga catatan dan upload bisa sesuai hari lagi.

9 Juni 2017

Komunikasi Produktif Pada Pasangan

Sesi1 Bunda Sayang

    • Poin yang dipilih : Choose The Right Time
    • Narasi :
  • Pagi hari, saya tidur setelah sahur, dan bablas. Suami bangun lebih dulu. Tumben.

    Suami : Bu, bangun bu.

    Saya : *Masih males bangun dari kasur*

    Pengasuh dateng, anak bangun, baru deh saya beneran bangun pertanda udah kesiangan.
    Saya ke dapur, dan ternyata air untuk mandi anak sudah dimasak.

    Saya : Mahira mandi ya, airnya udah dimasakin ayah nih, makasih ayah

    Suami : Yaaaa, *sambil cuek bebek*

    • Hal yang menarik yang saya dapatkan : Untuk mengungkapkan rasa terima kasih, tidak perlu mencari waktu yang tepat, langsung saja agar ada rasa saling menghargai.
    • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi : Tak perlu menunggu atau mencari waktu untuk mengunggapkan terima kasih. ¬†Jangan malu juga, ga ada salahnya mengucapkan terima kasih.

Komunikasi Produktif Pada Anak

Sesi1 Bunda Sayang

  • Poin yang dipilih :¬†Mengatakan Yang Diinginkan
  • Narasi :

Jadi, sebenarnya saya judulnya iri. Karena ngeliat kemarin, suami lagi meriang, eh anak sebenernya mungkin ngajak main sih, tapi posisinya kayak mijetin kepala suami gitu. Pas sahur si anak kebangun.

Suami : Mahira, baik banget sih, kemarin malem mijetin ayah

Anak : *Cuek aja, sambil mainin tutup botol minum saya*

Saya : *sok cuek sambil minum air, padahal sirik*

Saya : Mahiraaa, mahira kalo ibu sakit nanti ibu juga dipijitin ya, ibu disayang ya kalo ibu sakit.
Anak : *asik mainin botol minum sekarang*

  • Hal yang menarik yang saya dapatkan : Anak itu sebenernya sudah mulai perhatian kok sama orang tuanya, cuma ya mungkin pura-pura cuek. Saya sih ga mau sakit, pinginnya sehat terus. Tapi berandai-andai boleh dong, soalnya anaknya suka kayak cuek gitu.
  • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi : Selain mengatakan yang diinginkan, untuk beberapa hal intonasi juga berpengaruh. Contoh, kalau kemarin saya mengatakan hal yang harus dilakukan saya bernada sedikit tegas. Kali ini, karena saya minta untuk disayang dan diperhatikan, intonasi saya diubah menjadi lembut sedikit manja.

#level1

#day9

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

#Day 8 – Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Saya akan melanjutkan tantangan 10 hari saya di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Professional. Ini adalah hari kedelapan berlatih Komunikasi Produktif. Semoga catatan dan upload bisa sesuai hari lagi.

8 Juni 2017

Komunikasi Produktif Pada Pasangan

Sesi1 Bunda Sayang

    • Poin yang dipilih : Choose The Right Time
    • Narasi :
  • Car Time kali ini ………Saya : Yah, masih meriang ga?

    Suami : Ya gitu, jam 11 rasanya udah ga enak tenggorokan, badan juga masih ga enak. Kenapa?

    Saya : Ya gapapa sih, cuma tadi beli martabak aja. Kan biasa doyan martabak, kalo emang ngerasa gorengan bikin tambah sakit ya ga usah dimakan.

    Suami : ya, jangan lah, ibu kan udah beliin, masa ga dimakan.

    Saya : *punya pikiran, kayaknya dia mikir nih, mau makan enak tapi ntar tenggorokannya ga enak*
    saat berbuka puasa : Martabaknya abis! yah saya ga kebagian lagi.

    • Hal yang menarik yang saya dapatkan : papun perhatian yang istri berikan, suami berusahan menyenangkan istri dengan menghargainya. Apalagi kalau diberikan yang dia suka, pasti tambah senang, walaupun berefek bakalan nambah sakit tenggorokan.
    • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi : Tidak terlalu banyak perubahan, karena tetap membicarakan hal yang ringan saat car-time. Lebih kepada melatih agar isi pembicaraan saat car time adalah hal yang tidak memusingkan.

Komunikasi Produktif Pada Anak

Sesi1 Bunda Sayang

  • Poin yang dipilih :¬†Mengatakan Yang Diinginkan
  • Narasi :

Saya : Mahira tidur yuk

Anak : Asik main, malah turun dari tempat tidur, main di area permainan

Saya : Mahira, main yuk sama ibu

Anak : Asik main aja

Saya : Mahira, mainannya dimainin tapi caranya dimasukin ke dalam kotak ya

Ini saya udah ngantuk banget ceritanya, jadi berusaha mengalihkan supaya dia tidur

Saya masukin ke dalam kotak mainan yang berhamburan, sambil bilang “Mahira yuk masukin ke dalam kotak”

Mahira ikut masukin satu mainannya, lalu, dia ambil kotaknya (kirain mau dimasukin yang lain juga) ternyata dibalik dan diberantakin lagi. Yah.

  • Hal yang menarik yang saya dapatkan : Anaknya mau nurutin untuk masukin permainannya ke kotak, tapi berhubung dia masih mau main, ya balik mainan lagi.
  • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi :¬†Mencoba mengalihkan pembicaraan dengan tujuan yang sama. Saya ingin tidur, tapi ingin mainan beres dulu, jadinya saya ajak dia membereskan mainannya.

#level1

#day8

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Skip to toolbar